MENELADANI SPIRIT BERQURBAN NABI IBRAHIM

MENELADANI SPIRIT BERQURBAN NABI IBRAHIM

Ibadah qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi simbol ketaatan total kepada Allah ﷻ sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ketika diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail ‘alaihis salam, beliau tidak membantah, tidak menunda, dan tidak ragu. Inilah puncak pengorbanan, keikhlasan, dan ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Allah ﷻ berfirman:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(QS. Ash-Shaffat: 107)

Dari peristiwa agung tersebut, ada beberapa spirit berqurban yang harus diteladani:

1. Spirit Ketaatan Total

Nabi Ibrahim tidak mendahulukan perasaan, logika, ataupun kepentingan pribadi di atas perintah Allah. Seorang mukmin sejati adalah yang berkata: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا “Kami dengar dan kami taat.”

2. Spirit Keikhlasan

Qurban mengajarkan bahwa amal diterima bukan karena besar kecilnya hewan, tetapi ketulusan hati. Allah ﷻ berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

3. Spirit Pengorbanan

Berqurban melatih kita untuk rela berkorban demi agama, keluarga, dan kemaslahatan umat. Orang yang terlalu cinta dunia akan sulit berqurban dan berbagi.

4. Spirit Kesabaran dan Tawakal

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menunjukkan kesabaran luar biasa dalam menghadapi ujian berat. Kehidupan juga penuh ujian, dan hanya dengan tawakal seorang hamba mampu bertahan.

5. Spirit Kepedulian Sosial

Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan solidaritas, kasih sayang, dan pemerataan kebahagiaan.

Momentum Idul Adha hendaknya menjadi sarana memperbaiki diri, membersihkan hati dari sifat egois, serta menumbuhkan semangat taat dan peduli sesama. Jangan sampai semangat qurban hanya menjadi ritual tahunan tanpa perubahan akhlak dan ketakwaan.

Footnote

  1. Al-Qur’an Surah Ash-Shaffat ayat 102–107.
  2. Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 37.
  3. Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail.

Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama