BAHAYA MENCINTAI TANPA ILMU
Cinta adalah fitrah manusia. Namun cinta yang tidak dibimbing ilmu dapat berubah menjadi sumber kesesatan, kekecewaan, bahkan kehancuran. Banyak manusia rela mengorbankan agama, prinsip, dan akal sehat demi sesuatu yang dicintainya. Karena itu Islam mengajarkan agar cinta dibangun di atas ilmu dan petunjuk Allah Ta’ala.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ
“Dan di antara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 165)
Ayat ini menunjukkan bahwa cinta yang salah dapat menyeret manusia kepada syirik dan penyimpangan.
Bentuk Bahaya Mencintai Tanpa Ilmu
1. Menghalalkan yang Haram
Seseorang yang terlalu cinta kepada manusia, jabatan, harta, atau kelompok tertentu seringkali membela kesalahan dan menghalalkan yang diharamkan demi mempertahankan cintanya.
2. Membutakan Akal dan Hati
Cinta tanpa ilmu membuat seseorang sulit menerima nasihat dan kebenaran. Nabi ﷺ bersabda:
حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ
“Cintamu kepada sesuatu dapat membuatmu buta dan tuli.”
(HR. Abu Dawud)
3. Menimbulkan Fanatisme
Fanatik terhadap tokoh, organisasi, atau budaya tanpa ilmu sering menimbulkan permusuhan dan perpecahan di tengah umat.
4. Menjadikan Lalai dari Allah
Ketika cinta dunia lebih besar daripada cinta kepada Allah dan akhirat, maka ibadah menjadi ringan ditinggalkan dan maksiat terasa biasa.
Allah Ta‘ālā berfirman:
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا
“Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, pasangan-pasangan, harta kekayaan, perdagangan, dan tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan Allah.”
(QS. At-Taubah: 24)
Penutup
Cinta yang benar adalah cinta yang dibimbing oleh ilmu syar‘i. Cintailah sesuatu karena Allah, sesuai aturan Allah, dan jangan sampai cinta menjauhkan kita dari kebenaran. Ilmu adalah cahaya yang menjaga cinta agar tetap suci dan membawa keberkahan.
Footnote
- Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah: 165.
- HR. Abu Dawud no. 5130.
- Tafsir Al-Qurthubi, QS. At-Taubah: 24.
Wallahu a'lam bish shawab
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar