Edisi Khusus: Kajian Tauhid dan Penyimpangan Aqidah
KEBENCIAN KUBURIYYUN PADA AHLI TAUHID
Telaah Ilmiah dalam Perspektif Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Oleh: DRS. HAMZAH JOHAN
A. PENGERTIAN JUDUL (تَعْرِيفُ الْعُنْوَانِ)
1. KEBENCIAN (الْبُغْضُ)
Secara bahasa, al-bughḍu (الْبُغْضُ) berarti rasa tidak suka yang mendalam yang disertai permusuhan dalam hati. Dalam istilah syar’i, kebencian adalah sikap hati yang tercermin dalam penolakan terhadap kebenaran atau pelakunya.
2. KUBURIYYUN (الْقُبُورِيُّونَ)
Yang dimaksud dengan al-qubūriyyūn (الْقُبُورِيُّونَ) adalah kelompok yang memiliki kecenderungan berlebihan terhadap kuburan, seperti mengagungkannya, menjadikannya sebagai tempat meminta (istighāṡah), berdoa kepada penghuni kubur, atau melakukan praktik-praktik yang mengarah kepada kesyirikan.
3. AHLI TAUHID (أَهْلُ التَّوْحِيدِ)
Ahlu at-Tauḥīd (أَهْلُ التَّوْحِيدِ) adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah ﷻ, mengesakan-Nya dalam Rubūbiyyah, Ulūhiyyah, dan Asmā’ wa Ṣifāt.
Kesimpulan Judul:
“Kebencian Kuburiyyun pada Ahli Tauhid” adalah sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh pelaku penyimpangan kubur terhadap orang-orang yang menyeru kepada kemurnian tauhid.
B. KARAKTER KEBENCIAN KUBURIYYUN (خَصَائِصُ بُغْضِ الْقُبُورِيِّينَ)
1. Membenci Dakwah Tauhid (بُغْضُ دَعْوَةِ التَّوْحِيدِ)
Kuburiyyun tidak sekadar menolak, tetapi membenci dakwah tauhid karena bertentangan dengan praktik mereka.
Dalil:
وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ
“Dan apabila disebut nama Allah saja, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat.”
(QS. Az-Zumar: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa hati yang menyimpang akan sempit ketika mendengar tauhid murni.
2. Membenci Para Dai Tauhid (بُغْضُ دُعَاةِ التَّوْحِيدِ)
Kebencian tidak hanya kepada ajaran, tetapi juga kepada pembawanya.
Dalil:
قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا
“Mereka berkata: Apakah engkau datang kepada kami agar kami menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami?”
(QS. Al-A‘rāf: 70)
Ini menunjukkan pola yang sama sejak zaman para nabi: kebencian terhadap pembawa tauhid.
3. Fanatisme terhadap Tradisi (التَّعَصُّبُ لِلْعَادَاتِ)
Kuburiyyun sering mempertahankan praktiknya karena warisan budaya, bukan dalil.
Dalil:
إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami berada di atas suatu ajaran dan kami mengikuti jejak mereka.”
(QS. Az-Zukhruf: 23)
4. Menuduh Ahli Tauhid dengan Tuduhan Buruk (الِاتِّهَامُ بِالْبَاطِلِ)
Ahli tauhid sering dituduh sebagai ekstrem, pemecah umat, atau tidak menghormati wali.
Dalil:
كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ
“Demikianlah, tidak datang seorang rasul pun kepada orang-orang sebelum mereka melainkan mereka mengatakan: ‘Dia itu penyihir atau orang gila.’”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 52)
5. Membela Praktik Syirik dengan Dalih Syafaat (الِاحْتِجَاجُ بِالشَّفَاعَةِ)
Dalil:
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”
(QS. Az-Zumar: 3)
Ini adalah syubhat klasik kaum musyrikin yang juga diulang oleh kuburiyyun.
C. SEBAB-SEBAB KEBENCIAN (أَسْبَابُ الْبُغْضِ)
1. Bertentangan dengan Kepentingan Dunia (مُخَالَفَةُ الْمَصَالِحِ الدُّنْيَوِيَّةِ)
Praktik kubur sering menjadi sumber ekonomi dan pengaruh sosial.
2. Kebodohan terhadap Tauhid (الْجَهْلُ بِالتَّوْحِيدِ)
Ketidaktahuan menyebabkan seseorang memusuhi apa yang tidak ia pahami.
Dalil:
بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ
“Bahkan mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya.”
(QS. Yūnus: 39)
3. Mengikuti Hawa Nafsu (اتِّبَاعُ الْهَوَى)
Dalil:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jāṡiyah: 23)
D. SIKAP AHLI TAUHID MENGHADAPI KEBENCIAN (مَوْقِفُ أَهْلِ التَّوْحِيدِ)
1. Bersabar (الصَّبْرُ)
Dalil:
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ
“Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan.”
(QS. Ṭāhā: 130)
2. Tetap Berdakwah dengan Hikmah (الدَّعْوَةُ بِالْحِكْمَةِ)
Dalil:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
(QS. An-Naḥl: 125)
3. Tidak Membalas dengan Keburukan (تَرْكُ الْمُقَابَلَةِ بِالسُّوءِ)
Dalil:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik.”
(QS. Fuṣṣilat: 34)
E. DAMPAK BURUK KEBENCIAN TERHADAP TAUHID (آثَارُ الْبُغْضِ لِلتَّوْحِيدِ)
- Rusaknya Aqidah (فَسَادُ الْعَقِيدَةِ)
- Terjerumus ke dalam Syirik (الْوُقُوعُ فِي الشِّرْكِ)
- Terhalang dari Hidayah (الْحِرْمَانُ مِنَ الْهِدَايَةِ)
Dalil:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai.”
(QS. Al-Qaṣaṣ: 56)
F. PENUTUP (الْخَاتِمَةُ)
Fenomena kebencian kuburiyyun terhadap ahli tauhid bukanlah hal baru, melainkan kelanjutan dari permusuhan terhadap para nabi dan pengikutnya. Ini merupakan ujian bagi para penyeru tauhid untuk tetap istiqamah, sabar, dan terus menyampaikan kebenaran berdasarkan dalil yang shahih.
FOOTNOTE (الْحَوَاشِي)
- Tafsir QS. Az-Zumar: 45 – Penjelasan tentang kebencian terhadap tauhid.
- Tafsir QS. Al-A‘rāf: 70 – Dialog kaum nabi dengan para rasul.
- Tafsir QS. Az-Zukhruf: 23 – Fanatisme terhadap tradisi nenek moyang.
- Tafsir QS. Adz-Dzāriyāt: 52 – Tuduhan terhadap para nabi.
- Tafsir QS. Az-Zumar: 3 – Syubhat syafaat kaum musyrikin.
- Tafsir QS. Yūnus: 39 – Kebodohan sebagai sebab penolakan.
- Tafsir QS. Al-Jāṡiyah: 23 – Hawa nafsu sebagai sesembahan.
- Tafsir QS. An-Naḥl: 125 – Metode dakwah.
Wallahu a'lam bish shawab
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar