KEUTAMAAN RINDU BERTEMU ALLAH SWT


KEUTAMAAN RINDU BERTEMU ALLAH SWT

Muqaddimah

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah ﷻ yang telah memberikan nikmat iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Rindu kepada Allah ﷻ adalah tanda hidupnya hati. Hati yang hidup akan selalu ingin dekat dengan Rabb-nya, merindukan perjumpaan dengan-Nya, dan tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Rindu ini bukan sekadar perasaan, tetapi harus diwujudkan dalam amal nyata dan kesungguhan dalam ketaatan.


1. Dalil Utama dari Al-Qur’an dan Hadis

Allah ﷻ berfirman:

مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-‘Ankabūt: 5)

Dan firman-Nya:

يَآأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحࣰا فَمُلَٰقِيهِ

"Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya." (QS. Al-Insyiqāq: 6)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

"Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah mencintai pertemuan dengannya. Dan barang siapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

"Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya." (HR. Bukhari dan Muslim)


2. Kenikmatan Melihat Wajah Allah Mengalahkan Nikmat Dunia dan Surga

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Puncak dari kerinduan seorang mukmin adalah melihat wajah Allah ﷻ.

Allah berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannya mereka melihat." (QS. Al-Qiyāmah: 22–23)

Dan firman-Nya:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

"Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala terbaik (surga) dan tambahan (melihat Allah)." (QS. Yunus: 26)

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ... فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ

"Ketika penghuni surga telah masuk surga... lalu Allah membuka hijab, maka tidak ada kenikmatan yang lebih mereka cintai daripada melihat wajah Rabb mereka." (HR. Muslim)

Analisis Tauhid (Pendalaman Makna)

Ma’asyiral muslimin,

Perlu kita renungkan secara mendalam:

  • Semua kenikmatan dunia—makanan, harta, keluarga—adalah ciptaan Allah
  • Bahkan kenikmatan surga—sungai, istana, bidadari—juga ciptaan Allah
  • Rasa nikmat itu sendiri adalah pemberian Allah dalam hati makhluk

Artinya: ➡️ Nikmat itu bukan berdiri sendiri
➡️ Ia hanyalah “rasa” yang dititipkan Allah kepada makhluk

Maka secara logika iman:

  • Jika rasa nikmat itu dari Allah
  • Jika sumber kebahagiaan itu dari Allah
  • Maka Sumber segala nikmat (Allah) pasti lebih agung daripada nikmat itu sendiri

Dengan kata lain:

Al-khāliq (Pencipta rasa nikmat) lebih tinggi dan lebih mulia daripada al-makhluq (yang diberi rasa nikmat).

Karena itu:

  • Kenikmatan dunia tidak sebanding dengan akhirat
  • Kenikmatan surga pun belum puncak segalanya
  • Puncak kenikmatan adalah bertemu dan melihat Allah ﷻ

Inilah rahasia mengapa orang beriman merindukan Allah: bukan hanya surga-Nya, tetapi Rabb pemilik surga itu sendiri.


3. Jalan untuk Bertemu Allah: Kerja Keras Beramal Shalih

Ma’asyiral muslimin,

Allah menegaskan bahwa hidup ini adalah perjalanan penuh usaha menuju-Nya:

يَآأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحࣰا فَمُلَٰقِيهِ

Artinya:

  • Hidup adalah perjuangan spiritual
  • Setiap amal adalah langkah menuju Allah
  • Pertemuan dengan Allah adalah pasti

Allah ﷻ juga berfirman:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

"Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110)

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

"Orang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati." (HR. Tirmidzi)

Jalan menuju pertemuan dengan Allah:

  • Ikhlas dalam ibadah
  • Menjaga shalat
  • Memperbanyak puasa, dzikir, dan tilawah
  • Gemar sedekah
  • Menjauhi maksiat
  • Sabar dalam ujian

4. Do’a Memohon Rindu dan Pertemuan dengan Allah

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَىٰ وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَىٰ لِقَائِكَ، فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu, tanpa musibah yang membahayakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan." (HR. Nasa’i dan Ahmad)


Penutup

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Kita semua sedang bekerja keras menuju pertemuan dengan-Nya.

Terlebih di bulan Ramadhan, orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan:

  • kebahagiaan saat berbuka
  • dan kebahagiaan saat bertemu Allah

Maka orang yang rindu kepada Allah akan:

  • memperbaiki amalnya
  • memperbanyak ibadahnya
  • menjaga hatinya
  • dan mempersiapkan diri untuk pertemuan itu

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mencintai pertemuan dengan-Nya, sehingga Allah pun mencintai pertemuan dengan kita.


Footnote

  1. Tafsir QS. Al-‘Ankabūt: 5 – Ibnu Katsir
  2. Tafsir QS. Al-Insyiqāq: 6 – Ibnu Katsir
  3. HR. Bukhari No. 6507, Muslim No. 2683
  4. HR. Bukhari No. 1904, Muslim No. 1151
  5. Tafsir QS. Al-Qiyāmah: 22–23 – Ibnu Katsir
  6. Tafsir QS. Yunus: 26 – Ibnu Katsir
  7. HR. Muslim No. 181
  8. Tafsir QS. Al-Kahfi: 110 – Al-Qurthubi
  9. HR. Tirmidzi No. 2459
  10. HR. Nasa’i No. 1305, Ahmad No. 21666

Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama