🌙 Isi Ramadhan dengan Akhlak Mulia: Hakikat Takwa dalam Tawadhu’, Qana’ah, Wara’, dan Yakin
Mukadimah
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ramadhan adalah madrasah akhlak. Kita berpuasa sebulan penuh bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi untuk membentuk pribadi bertakwa.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)¹
Tujuan akhirnya adalah takwa. Dan takwa itu bukan sekadar rasa takut, tetapi tercermin dalam akhlak: tawadhu’, qana’ah, wara’, dan yakin.
1️⃣ Tawadhu’: Rendah Hati di Hadapan Allah dan Manusia
Puasa mendidik kita merasa lemah. Orang yang lapar sadar dirinya fakir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”²
Di bulan Ramadhan, jangan sampai ibadah membuat kita merasa lebih baik dari orang lain.
📖 Kisah Sahabat
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah memikul sendiri gandum untuk rakyatnya di malam hari. Ketika ditanya mengapa tidak menyuruh orang lain, beliau berkata, “Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?”
Inilah tawadhu’. Jabatan tidak membuatnya tinggi hati.
Ramadhan seharusnya menjadikan kita lembut kepada pasangan, sabar kepada anak, ramah kepada tetangga, dan hormat kepada orang tua.
2️⃣ Qana’ah: Kaya Hati di Tengah Keterbatasan
Ramadhan mengajarkan kita hidup sederhana.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”³
Banyak orang berbuka dengan hidangan sederhana, namun hatinya penuh syukur. Sebaliknya, ada yang berlimpah makanan tetapi hatinya gelisah.
📖 Kisah Teladan
Ali bin Abi Talib رضي الله عنه pernah berkata:
“Qana’ah adalah harta yang tidak pernah habis.”
Saudaraku, Ramadhan melatih kita untuk berkata: Alhamdulillah cukup.
Bukan sibuk membandingkan diri dengan orang lain.
3️⃣ Wara’: Menjaga Diri dari Dosa dan Syubhat
Puasa bukan hanya menahan makan dan minum.
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَمَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”⁴
Wara’ artinya hati-hati terhadap dosa.
📖 Kisah Kehati-hatian
Diriwayatkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه pernah memuntahkan makanan setelah mengetahui makanan itu berasal dari harta syubhat. Beliau khawatir satu suapan menjadi penghalang keberkahan.
Ramadhan adalah waktu terbaik membersihkan hati:
- Jaga lisan dari ghibah.
- Jaga jari dari komentar menyakitkan.
- Jaga mata dari pandangan haram.
4️⃣ Yakin: Percaya Penuh pada Janji Allah
Puasa adalah ibadah rahasia. Tidak ada yang tahu kecuali Allah.
Dalam hadits qudsi disebutkan:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”⁵
Inilah pelajaran yakin. Kita berlapar-lapar karena percaya pada pahala yang tidak terlihat.
Allah berfirman:
وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
“Dan mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 4)⁶
Keyakinan ini membuat kita kuat bekerja di siang hari, tetap sabar walau lelah, tetap jujur walau ada peluang curang.
🌿 Renungan untuk Jamaah Perkotaan
Banyak di antara kita bekerja keras dari pagi hingga sore. Macet, lelah, tekanan pekerjaan. Ramadhan hadir bukan untuk memberatkan, tetapi untuk menyucikan hati.
Jika setelah Ramadhan:
- Kita lebih sabar,
- Lebih jujur,
- Lebih rendah hati,
- Lebih yakin pada Allah,
Maka itulah tanda puasa kita berhasil.
Namun jika yang berubah hanya jadwal makan, bukan akhlak, maka kita perlu muhasabah.
✨ Penutup
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”⁷
Ramadhan adalah kesempatan emas. Bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita.
Mari kita isi dengan:
- Tawadhu’ dalam ibadah dan sosial,
- Qana’ah dalam rezeki,
- Wara’ dalam perbuatan,
- Yakin dalam hati bertemu Allah SWT.
اللهم اجعلنا من المتقين، واجعل رمضاننا هذا رمضان تغيير وإصلاح، وتقبل منا يا أرحم الراحمين.
آمين يا رب العالمين.
📚 Footnote
- QS. Al-Baqarah: 183.
- HR. Muslim no. 2588.
- HR. Bukhari no. 6446; Muslim no. 1051.
- HR. Bukhari no. 1903.
- HR. Bukhari no. 1904; Muslim no. 1151.
- QS. Al-Baqarah: 4.
- HR. Ahmad no. 8952; hasan.
Wallahu a'lam
Drs. Hamzah Johan


Posting Komentar