Mengisi Ramadhan dengan Gembira dan Kemuliaan
(Versi Buletin Dakwah Ilmiah Kontemporer)
Dalil Utama
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
اَتَاكُمْ رَمَضَانُ سَيِّدُ الشُّهُورِ فَمَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلًا، جَاءَ شَهْرُ الصِّيَامِ بِالْبَرَكَاتِ فَأَكْرِمْ بِهِ مِنْ زَائِرٍ هُوَ آتٍ
Artinya:
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka selamat datanglah kepadanya. Telah datang bulan puasa membawa keberkahan. Maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.”
(HR. Ath-Thabrani)
Pendahuluan
Ramadhan bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi bulan tamu agung yang membawa keberkahan, ampunan, dan kemuliaan. Rasulullah ﷺ menggambarkannya sebagai “zaa’ir” (tamu) yang harus disambut dengan penuh kegembiraan dan dimuliakan dengan amal terbaik.
1. Mengisi Ramadhan dengan Kegembiraan
Gembira menyambut Ramadhan adalah bagian dari iman, bukan sekadar emosi biasa, tetapi ekspresi syukur atas kesempatan beribadah.
a. Gembira karena “Ahlan” (Kedekatan & Kekeluargaan)
Ramadhan menghadirkan suasana ukhuwah: buka bersama, tarawih berjamaah, dan saling berbagi.
Dalil:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ... كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang mereka seperti satu tubuh…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
➡️ Ramadhan menguatkan ikatan sosial dan spiritual umat.
b. Gembira karena Lailatul Qadar
Dalil:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)
➡️ Kesempatan pahala luar biasa yang tidak ada di bulan lain.
c. Gembira karena Kesehatan (Manfaat Puasa)
Puasa bukan hanya ibadah, tetapi juga menjaga kesehatan jasmani.
Dalil:
صُومُوا تَصِحُّوا
“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
(HR. Ath-Thabrani – hasan)
➡️ Detoksifikasi tubuh dan pengendalian diri.
d. Gembira karena Ampunan Dosa
Dalil:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
➡️ Momentum reset spiritual bagi setiap mukmin.
2. Memuliakan Ramadhan sebagai Tamu Agung
Rasulullah ﷺ menyebut Ramadhan sebagai tamu, maka adab kita adalah memuliakannya dengan tiga hal utama:
1. Berilmu (Memahami Karakter “Tamu”)
Seorang tuan rumah yang baik mengenal tamunya. Maka seorang muslim harus memahami fiqh Ramadhan.
Dalil:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”
(QS. Muhammad: 19)
➡️ Ilmu mendahului amal.
2. Beramal (Memberi Jamuan Terbaik)
Seperti memuliakan tamu dengan hidangan, Ramadhan dimuliakan dengan amal.
Dalil:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang itu.”
(HR. Tirmidzi)
➡️ Sedekah, ifthar, qiyamullail, tilawah.
3. Berakhlak (Senyum & Sikap Mulia)
Akhlak adalah inti dari pemuliaan.
Dalil:
فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
“Jika ada yang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, maka katakan: ‘Aku sedang berpuasa.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)
➡️ Puasa mendidik kesabaran, kelembutan, dan senyum.
Penutup
Ramadhan adalah tamu agung yang singkat waktunya. Orang yang cerdas adalah yang:
- Menyambutnya dengan gembira
- Mengisinya dengan amal terbaik
- Memuliakannya dengan ilmu, amal, dan akhlak
Renungan:
Jika tamu manusia saja kita muliakan, maka bagaimana dengan Ramadhan yang membawa ampunan dan surga?
Footnote
- HR. Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Kabir
- HR. Bukhari no. 6011, Muslim no. 2586
- QS. Al-Qadr: 3
- HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama
- HR. Bukhari no. 38, Muslim no. 760
- QS. Muhammad: 19
- HR. Tirmidzi no. 807
- HR. Bukhari no. 1894, Muslim no. 1151
Wallahu a'lam
Drs.Hamzah Johan


Posting Komentar