PUASA: HAKIKAT DAN TINGKATANNYA


PUASA: HAKIKAT DAN TINGKATANNYA

(Kultum Tarawih ±7 Menit)


Mukadimah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, washshalātu wassalāmu ‘alā sayyidinā Muhammad, wa ‘alā ālihi wa shahbihi ajma‘īn.

Jamaah tarawih yang dimuliakan Allah…

Ramadhan adalah madrasah takwa. Hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan diri dari segala yang mengurangi nilai ibadah, hingga mengantarkan kita menjadi hamba yang bertakwa.

Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”¹

Ayat ini menegaskan tujuan akhir puasa adalah takwa.


Hakikat Puasa

Secara syariat, puasa adalah:

الإِمْسَاكُ عَنْ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مَعَ النِّيَّةِ

“Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat.”

Namun secara hakikat, puasa adalah menahan lapar, dahaga, syahwat dan maksiat, demi mencapai takwa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”²

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar fisik, tetapi juga akhlak.


Tingkatan Puasa

Para ulama seperti Imam Al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan:

1️⃣ Shaumul ‘Umum (Puasa Orang Awam)

Menahan lapar, dahaga, dan syahwat.
Ini adalah sah secara fiqih, namun belum tentu sempurna nilainya.

2️⃣ Shaumul Khushush (Puasa Khusus)

Menahan lapar, dahaga, syahwat, dan seluruh anggota tubuh dari maksiat:

  • Lisan dari ghibah
  • Mata dari yang haram
  • Telinga dari yang sia-sia
  • Hati dari iri dan dengki

Rasulullah ﷺ bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”³

3️⃣ Shaumul Khushushul Khushush (Puasa Paling Khusus)

Menahan lapar, dahaga, syahwat, seluruh maksiat, dan memperbanyak amal shaleh:

  • Qiyam Tarawih
  • Tilawah Al-Qur’an
  • Sedekah
  • Zakat
  • Dzikir dan doa

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa mendirikan (shalat malam) Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”⁴

Inilah puasa yang melahirkan takwa sejati.


Tanda-Tanda Puasa Tingkat Khushushul Khushush

Jika puasa berhasil mencapai derajat tinggi, maka akan tampak dalam akhlak berupa sifat TAQWA:

1. Tawadhu’ (Rendah Hati)

Tidak sombong meski rajin ibadah.

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.”⁵

2. Qana’ah (Merasa Cukup)

Tidak rakus terhadap dunia.

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah hati yang merasa cukup.”⁶

3. Wara’ (Menjauhi Syubhat)

Berhati-hati dari yang meragukan.

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

“Tinggalkan yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu.”⁷

4. Yaqin (Keyakinan kepada Allah)

Hidup bergantung kepada Allah dan yakin akan bertemu-Nya.

وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

“Dan mereka yakin akan adanya akhirat.”⁸


Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah…

Mari kita tingkatkan puasa kita:
Dari sekadar menahan lapar, menjadi menahan maksiat, lalu meningkat menjadi puasa yang melahirkan takwa.

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita hamba yang tawadhu’, qana’ah, wara’, dan penuh keyakinan kepada Allah.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Footnote

  1. QS. Al-Baqarah: 183.
  2. HR. Bukhari no. 1903.
  3. HR. Ahmad no. 8843; Ibnu Majah no. 1690.
  4. HR. Bukhari no. 37; Muslim no. 759.
  5. QS. Al-Furqan: 63.
  6. HR. Bukhari no. 6446; Muslim no. 1051.
  7. HR. Tirmidzi no. 2518.
  8. QS. Al-Baqarah: 4.

Wallahu a'lam bishshawwab

DRS. HAMZAH JOHAN


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama