ABRAHAH MODERN BIKIN THAWAF DI YAMAN



ABRAHAH MODERN BIKIN THAWAF DI YAMAN

Buletin Dakwah Ilmiah Kontemporer

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang istiqamah di atas sunnah hingga akhir zaman.

Sejarah Islam menyimpan pelajaran besar. Salah satunya adalah kisah Abrahah al-Asyram, penguasa Yaman yang hendak mengalihkan manusia dari Ka’bah dengan membangun tempat ibadah tandingan. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Surah Al-Fil.

Hari ini, fenomena serupa muncul kembali. Upaya-upaya membangun simbol-simbol keagamaan tandingan, ritual tandingan, bahkan “thawaf tandingan” di luar Ka’bah, adalah bentuk Abrahah modern yang ingin mengaburkan tauhid dan syariat.

Buletin ini mengupasnya secara ilmiah dengan dalil dan bimbingan ulama.


A. Sejarah Abrahah dan Pelajaran Tauhid

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ
تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

“Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”
(QS. Al-Fil: 1–5)

Makna Sejarah

Abrahah membangun gereja megah bernama Al-Qullais di Yaman untuk menandingi Ka’bah. Tujuannya jelas: mengalihkan manusia agar tidak lagi berhaji ke Baitullah. Ia ingin menjadikan thawaf bukan lagi di Mekah, tetapi di bangunan buatannya.

Ini bukan sekadar proyek arsitektur, tetapi proyek ideologis: merusak pusat tauhid umat manusia.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

“Abrahah bermaksud memalingkan manusia dari Ka’bah menuju bangunan yang ia dirikan.”¹


B. Abrahah Modern: Ritual Tandingan dan Penyesatan

Di zaman ini muncul fenomena serupa:

  • Ada kelompok yang membuat ritual mengelilingi kuburan tertentu seolah-olah thawaf.
  • Ada yang menganggap tempat tertentu setara dengan Ka’bah.
  • Ada pula upaya membangun pusat-pusat ibadah baru dengan simbol seakan-akan bisa menggantikan posisi Baitullah.

Semua ini adalah “Abrahah gaya baru”.

Padahal Rasulullah ﷺ telah menegaskan:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ:
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Tidak boleh dilakukan perjalanan ibadah (yang dikhususkan) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjidil Aqsha.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi dalil tegas bahwa pusat ibadah utama umat Islam tidak boleh dialihkan ke tempat lain dengan keyakinan keagamaan.


C. Thawaf Hanya Disyariatkan di Ka’bah

Thawaf adalah ibadah mahdhah (ibadah murni) yang memiliki aturan baku.

Allah berfirman:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf di Baitul ‘Atiq (Ka’bah).”
(QS. Al-Hajj: 29)

Ayat ini dengan sangat jelas mengkhususkan thawaf hanya pada Ka’bah, bukan pada tempat lain.

Imam An-Nawawi berkata:

“Tidak disyariatkan thawaf kecuali di Ka’bah. Barang siapa berthawaf di selain Ka’bah dengan niat ibadah, maka itu adalah bid’ah yang munkar.”²

Maka siapa pun yang membuat ritual thawaf di Yaman, di kuburan, di bangunan tertentu, atau di tempat apa pun selain Ka’bah dengan keyakinan keagamaan, pada hakikatnya sedang meniru proyek Abrahah.


D. Bahaya Syirik Berkedok Tradisi

Praktik mengelilingi tempat tertentu dengan keyakinan mendatangkan berkah termasuk pintu menuju syirik.

Allah memperingatkan:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah siapa pun di samping Allah.”
(QS. Al-Jin: 18)

Mengalihkan bentuk pengagungan yang seharusnya hanya untuk Allah kepada bangunan, kuburan, atau simbol tertentu adalah penyimpangan besar dalam tauhid.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan:

“Menjadikan suatu tempat selain Ka’bah sebagai objek thawaf adalah bentuk penyerupaan terhadap ibadah jahiliyah.”³


E. Tugas Umat: Menjaga Kemurnian Tauhid

Umat Islam wajib waspada terhadap:

  1. Ritual tandingan haji dan umrah
  2. Thawaf di selain Ka’bah
  3. Keyakinan adanya “Ka’bah lokal”
  4. Kultus individu dan tempat
  5. Praktik-praktik ziarah berlebihan yang menyerupai ibadah haji

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Muslim)

Setiap bentuk ibadah tandingan adalah tertolak, sekalipun dibungkus dengan nama tradisi, budaya, atau klaim dzuriyah.


F. Kesimpulan

  • Abrahah dahulu ingin mengalihkan thawaf dari Ka’bah ke Yaman.
  • Allah hancurkan proyek tersebut karena bertentangan dengan tauhid.
  • Abrahah modern hari ini adalah siapa saja yang:
    • Membuat ritual tandingan Ka’bah
    • Mengajarkan thawaf di selain Ka’bah
    • Menghidupkan praktik ibadah yang tidak ada dalilnya

Tugas ulama dan umat adalah membongkar semua bentuk penyesatan itu dengan ilmu, dakwah, dan hujjah.


Penutup

Ya Allah, jagalah kami dari fitnah kesyirikan, bid’ah, dan penyesatan. Tetapkan kami di atas tauhid hingga akhir hayat.


Footnote

  1. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir Surah Al-Fil.
  2. Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, bab manasik haji.
  3. Ibnu Taimiyah, Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, pembahasan tentang penyerupaan ibadah.

Semoga bermanfaat sebagai materi dakwah ilmiah kontemporer.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama