Jihad Terbesar Adalah Mentauhidkan Allah dan Membongkar Klaim Nasab Palsu
Pendahuluan
Di tengah kaburnya pemahaman umat tentang jihad, sebagian orang menyempitkannya hanya pada konflik fisik, sementara yang lain memanfaatkannya untuk membungkam kritik dan melanggengkan klaim-klaim keagamaan yang tidak berdalil. Padahal dalam Islam, jihad terbesar dan paling mendasar adalah mentauhidkan Allah—memurnikan ibadah, loyalitas, rasa takut, harap, dan cinta hanya kepada Allah ﷻ.
Jihad tauhid inilah yang menjadi poros dakwah para nabi, fondasi seluruh amal, dan tolok ukur diterima atau tertolaknya semua bentuk perjuangan. Tanpa tauhid, jihad kehilangan ruh; dan tanpa jihad tauhid, umat terjerumus dalam syirik yang dibungkus simbol agama, termasuk melalui klaim nasab palsu kepada Rasulullah ﷺ.
1. Tauhid: Misi Utama Dakwah Para Nabi
Allah ﷻ berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (dengan seruan): ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’”
(QS. an-Naḥl: 36)
Ayat ini menegaskan bahwa inti jihad para rasul bukan perang, melainkan menghancurkan syirik dan menegakkan tauhid. Bahkan Rasulullah ﷺ berdakwah selama 13 tahun di Makkah tanpa perang, namun dengan jihad tauhid yang paling keras terhadap berhala, kultus tokoh, dan kesucian nasab Quraisy.
2. Jihad dengan Al-Qur’an adalah Jihad Akbar
Allah ﷻ berfirman:
فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
“Janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan (Al-Qur’an) dengan jihad yang besar.”
(QS. al-Furqān: 52)
Para mufassir seperti Ibn Kathīr menjelaskan bahwa “jihad kabīr” dalam ayat ini adalah jihad hujjah, dakwah, dan tauhid, bukan qitāl. Ini menunjukkan bahwa jihad terbesar adalah jihad pemurnian akidah, karena darinya lahir seluruh ketaatan.
3. Tauhid adalah Tujuan, Perang Hanya Sarana
Rasulullah ﷺ bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa tujuan jihad qitāl pun adalah tauhid, bukan kekuasaan, nasab, atau simbol keagamaan. Maka setiap perjuangan yang justru melanggengkan syirik—meski mengatasnamakan agama—telah menyimpang dari hakikat jihad.
4. Syirik: Musuh Terbesar Umat Sepanjang Zaman
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.”
(QS. an-Nisā’: 48)
Karena syirik adalah dosa terbesar, maka jihad terbesar adalah memeranginya, baik syirik klasik maupun syirik modern, seperti:
- Pengkultusan tokoh agama
- Ketergantungan kepada “darah suci”
- Klaim keberkahan melalui nasab
- Ketaatan buta atas nama adab
Di sinilah klaim nasab palsu menjadi ancaman serius terhadap tauhid.
5. Jihad Tauhid vs Klaim Nasab Palsu
Klaim nasab palsu kepada Rasulullah ﷺ sering dijadikan alat legitimasi spiritual, sehingga pelakunya:
- Dikritik dianggap durhaka
- Dibantah dianggap membenci Nabi
- Diluruskan dianggap tidak beradab
Padahal Allah ﷻ telah menetapkan standar kemuliaan yang jelas:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. al-Ḥujurāt: 13)
Ayat ini membatalkan segala kasta keagamaan berbasis nasab, apalagi jika digunakan untuk menyaingi tauhid.
6. Rasulullah ﷺ Menutup Pintu Keistimewaan Nasab
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، اعْمَلِي فَإِنِّي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
“Wahai Fāṭimah binti Muhammad, beramallah! Aku tidak bisa menolongmu dari (azab) Allah sedikit pun.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Jika putri Nabi ﷺ sendiri tidak dijamin keselamatan karena nasab, maka klaim nasab yang dijadikan sumber karamah dan otoritas mutlak adalah kebatilan dan bertentangan langsung dengan jihad tauhid.
7. Klaim Nasab Palsu Merusak Makna Jihad
Jihad tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia, sementara klaim nasab palsu justru:
- Mengalihkan loyalitas dari dalil ke figur
- Menjadikan tokoh “tak tersentuh kritik”
- Membungkus syirik dengan cinta Nabi
- Melanggengkan khurafat dan kebodohan umat
Allah ﷻ berfirman:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan ulama dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.”
(QS. at-Tawbah: 31)
Ini adalah peringatan keras terhadap pengkultusan tokoh agama, termasuk yang berlindung di balik klaim nasab.
8. Membongkar Klaim Nasab Palsu adalah Jihad Akbar
Karena klaim nasab palsu melahirkan syirik, khurafat, dan eksploitasi agama, maka membongkarnya dengan ilmu dan dalil adalah bagian dari jihad besar:
وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
“Berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar.”
(QS. al-Furqān: 52)
Ini bukan jihad kekerasan, tetapi jihad hujjah, jihad pena, jihad pencerahan—dan inilah jihad para ulama sepanjang sejarah.
Penutup
Jihad tauhid dan klaim nasab palsu berada pada dua kutub yang saling bertentangan:
- Tauhid memurnikan ibadah hanya kepada Allah
- Klaim palsu menciptakan kasta spiritual
- Tauhid melahirkan keberanian berkata benar
- Klaim palsu menuntut pembungkaman kritik
Karena itu, mentauhidkan Allah dan membongkar klaim nasab palsu adalah satu kesatuan jihad—jihad terbesar yang menentukan keselamatan umat di dunia dan akhirat.
Footnote
- Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. al-Furqān: 52.
- al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Īmān; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān.
- Ibn Taymiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā, Jilid 1; Iqtiḍā’ aṣ-Ṣirāṭ al-Mustaqīm.
- al-Qurṭubī, al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. al-Ḥujurāt: 13.
- Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, Kitāb at-Tauḥīd.
Wallahu a'lam


Posting Komentar