Ketika Ustadz Kehilangan Integritas Tauhid, Maka Ia Menjadi Budak Dzuriyah Palsu



Ketika Ustadz Kehilangan Integritas Tauhid, Maka Ia Menjadi Budak Dzuriyah Palsu

Pendahuluan

Ustadz dan dai adalah penjaga akidah umat. Mereka bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi pemikul amanah tauhid. Namun realitas kontemporer menunjukkan fenomena memprihatinkan: sebagian ustadz kehilangan integritas tauhid karena tunduk kepada klaim dzuriyah palsu, baik demi popularitas, perlindungan sosial, maupun keuntungan duniawi. Ketika tauhid tidak lagi menjadi poros dakwah, maka ulama berubah fungsi: dari waratsatul anbiya’ menjadi alat legitimasi kebatilan.


1. Integritas Tauhid sebagai Pilar Keulamaan

Tauhid bukan hanya materi dakwah, tetapi kompas moral seorang ustadz. Integritas tauhid meniscayakan keberanian menyampaikan kebenaran walau pahit.

Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap diri kalian sendiri.”
(QS. an-Nisā’ [4]: 135)

Ayat ini menegaskan bahwa kebenaran tidak boleh dikalahkan oleh relasi sosial, tekanan massa, atau status nasab.


2. Dzuriyah Palsu: Ujian Tauhid Para Dai

Klaim palsu atas nasab Nabi ﷺ bukan sekadar kebohongan sejarah, tetapi ujian tauhid. Ketika ustadz membela atau membiarkan klaim tersebut demi kedekatan, maka ia telah menggadaikan prinsip akidah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Mengklaim nasab Nabi ﷺ tanpa bukti sahih adalah bagian dari kedustaan atas Rasulullah ﷺ, dan membelanya berarti ikut menanggung dosa tersebut.


3. Dari Dai Menjadi Budak: Ketika Takut kepada Makhluk

Ketundukan ustadz kepada dzuriyah palsu sejatinya adalah bentuk perbudakan ideologis. Ia takut dikucilkan, dicap pembenci Ahlul Bait, atau kehilangan jamaah. Padahal rasa takut semacam ini bertentangan dengan tauhid.

Allah Ta‘ala berfirman:

فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ

“Janganlah kalian takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku.”
(QS. al-Mā’idah [5]: 44)

Ketika ustadz lebih takut kepada manusia daripada Allah, maka secara sadar atau tidak ia telah menjadikan makhluk sebagai “tuan”.


4. Ulama Su’ dan Legitimasi Kebatilan

Ulama yang kehilangan integritas tauhid akan berubah menjadi ulama su’—ulama yang ilmunya digunakan untuk membenarkan kesesatan. Mereka menutup mata dari kebohongan nasab, membungkusnya dengan retorika cinta Nabi, dan menuduh pengkritik sebagai perusak ukhuwah.

Rasulullah ﷺ memperingatkan:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَىٰ أُمَّتِي الأَئِمَّةُ المُضِلُّونَ

“Yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.”
(HR. Aḥmad)

Pemimpin yang menyesatkan bukan hanya penguasa, tetapi juga dai yang mengkhianati kebenaran.


5. Tauhid Membebaskan, Kultus Menjerat

Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk, termasuk penghambaan kepada nasab dan simbol. Islam tidak mengenal kasta spiritual.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. al-Ḥujurāt [49]: 13)

Ayat ini menghancurkan seluruh fondasi kultus nasab tanpa amal dan tanpa kebenaran.


Penutup

Ketika ustadz kehilangan integritas tauhid, ia bukan hanya menyesatkan dirinya, tetapi juga umat. Membela dzuriyah palsu adalah bentuk pengkhianatan terhadap risalah Nabi ﷺ. Dakwah sejati menuntut keberanian berdiri di atas dalil, bukan berlutut di hadapan klaim palsu. Tauhid menuntut kemerdekaan hati; siapa pun yang menggadaikannya, sejatinya telah menjadi budak.


Catatan Kaki (Footnote)

  1. Ibn Taymiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā, Juz 7, hlm. 284 – tentang larangan mengagungkan nasab tanpa kebenaran.
  2. al-Dhahabī, Siyar A‘lām al-Nubalā’, Juz 11 – bab ulama su’ dan dampaknya bagi umat.
  3. al-Shāṭibī, al-I‘tiṣām, Juz 1 – tentang bahaya bid‘ah yang dibungkus simbol agama.
  4. Yusuf al-Qaradawi, al-Ṣaḥwah al-Islāmiyyah bayna al-Juhūd wa al-Tatarruf – tentang integritas dai dan keberanian moral.
  5. Ahmad ibn Ḥanbal, Musnad, hadis tentang pemimpin yang menyesatkan umat.

Wallahu a'lam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama