Sya‘ban: Bulan Anti Kesyirikan dan Permusuhan
Refleksi Tazkiyatun Nafs Menjelang Ramadhan
Pendahuluan
Bulan Sya‘ban bukan sekadar “bulan pengantar” menuju Ramadhan, melainkan fase krusial pembersihan akidah dan hati. Nabi ﷺ memberi perhatian khusus pada bulan ini karena di dalamnya terjadi pengangkatan amal, dan pada saat yang sama Allah menolak mengampuni dosa syirik dan permusuhan. Ini menunjukkan bahwa Sya‘ban adalah bulan anti kesyirikan dan anti konflik destruktif.
1. Sya‘ban dan Pengangkatan Amal
Usamah bin Zaid r.a. berkata:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ
قَالَ: «ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»
Artinya:
“Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan lain seperti puasamu di bulan Sya‘ban. Beliau bersabda: Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa.”
*(HR. an-Nasā’ī)*¹
➡ Implikasi: Amal yang diangkat bukan sekadar kuantitas ibadah, tetapi juga kemurnian tauhid dan kebersihan relasi sosial.
2. Pengampunan Allah Terhalang oleh Syirik dan Permusuhan
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Artinya:
“Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam pertengahan Sya‘ban, lalu Dia mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang bermusuhan.”
*(HR. Ibn Mājah)*²
➡ Dua penghalang ampunan di Sya‘ban:
- Syirik (kerusakan akidah)
- Musyāhin (permusuhan, dendam, konflik batin)
Ini menunjukkan bahwa ibadah ritual tanpa tauhid murni dan hati yang bersih tidak bernilai maksimal.
3. Syirik: Penyakit Akidah yang Membatalkan Amal
Allah berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
Artinya:
“Jika engkau berbuat syirik, niscaya gugurlah seluruh amalmu.”
*(QS. az-Zumar: 65)*³
➡ Syirik kontemporer di tengah umat:
- Mengultuskan tokoh agama hingga dianggap maksum
- Keyakinan bahwa figur tertentu dapat menjamin surga atau memadamkan neraka
- Praktik doa dan tawassul yang melampaui batas syariat
➡ Sya‘ban adalah momentum detoksifikasi tauhid sebelum Ramadhan, agar puasa tidak tercemar oleh keyakinan rusak.
4. Permusuhan: Penyakit Qalbu yang Menggugurkan Keutamaan
Rasulullah ﷺ bersabda:
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ
Artinya:
“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Setiap hamba yang tidak berbuat syirik akan diampuni, kecuali seseorang yang memiliki permusuhan dengan saudaranya.”
*(HR. Muslim)*⁴
➡ Permusuhan bukan hanya konflik fisik, tetapi:
- Dendam ideologis
- Kebencian personal berkepanjangan
- Fanatisme kelompok yang menutup kebenaran
5. Relevansi Sosial-Kontemporer
Dalam konteks umat hari ini:
- Syirik tampil dalam balutan spiritualitas palsu
- Permusuhan tumbuh dari ego kelompok, klaim nasab, dan kultus figur
- Media sosial mempercepat konflik dan memperluas kebencian
➡ Sya‘ban mengajarkan bahwa Ramadhan tidak sahih dimasuki dengan hati kotor dan akidah rusak.
Penutup
Sya‘ban adalah bulan penyaringan iman.
Tauhid dibersihkan dari syirik, dan hati disucikan dari permusuhan. Siapa yang gagal membersihkan dua penyakit ini, maka ia berisiko masuk Ramadhan dengan amal tertolak.
“Ramadhan tidak dibangun dari perut yang lapar saja, tetapi dari akidah yang lurus dan hati yang damai.”
Catatan Kaki (Footnote)
- HR. an-Nasā’ī, no. 2357; dinilai hasan oleh al-Albānī.
- HR. Ibn Mājah, no. 1390; hasan li ghairih menurut banyak ulama hadits.
- Tafsir Ibn Katsīr, QS. az-Zumar: 65.
- HR. Muslim, no. 2565.
Wallahu A'lam


Posting Komentar