Mengabaikan Doktrin Sesat: Jalan Sunyi Menuju Gugurnya Amal Ibadah



Mengabaikan Doktrin Sesat: Jalan Sunyi Menuju Gugurnya Amal Ibadah

Pendahuluan 

Salah satu penyakit paling berbahaya dalam umat hari ini bukan sekadar meluasnya doktrin sesat, tetapi sikap permisif dan pembiaran terhadapnya. Kesesatan tidak lagi dilawan, melainkan ditoleransi, dinormalisasi, bahkan dibungkus dengan istilah “khilafiyah”, “kearifan lokal”, atau “cara dakwah berbeda”.

Padahal dalam Islam, doktrin menyimpang bukan sekadar kesalahan intelektual, tetapi virus akidah yang berdampak langsung pada gugurnya nilai amal ibadah.


1. Kekeliruan Fatal: Mengira Banyak Amal Bisa Menebus Rusaknya Akidah

Narasi populer yang menyesatkan:

“Yang penting rajin shalat, zikir, sedekah—soal keyakinan jangan diperdebatkan.”

Ini adalah logika terbalik yang bertentangan dengan Al-Qur’an. Allah ﷻ justru menegaskan bahwa amal tanpa akidah lurus tidak bernilai apa pun:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Kami jadikan seluruh amal mereka seperti debu yang beterbangan.”
(QS. Al-Furqān: 23)¹

Ibn Kathīr menegaskan:

*“Ini berlaku bagi setiap amal yang tidak dibangun di atas iman dan tauhid yang benar.”*²

Banyak amal ≠ amal diterima.


2. Doktrin Sesat Bekerja dari Dalam: Merusak Tauhid Secara Halus

Berbeda dengan maksiat lahiriah, doktrin sesat sering menyusup dengan wajah “religius”, seperti:

  • klaim nasab suci penjamin keselamatan,
  • janji surga tanpa hisab,
  • ritual khusus yang dianggap lebih tinggi dari syariat,
  • keyakinan bahwa tokoh tertentu bisa “memadamkan api neraka”, “menghapus dosa massal”, atau “menjamin surga jamaahnya”.

Padahal Nabi ﷺ telah menutup semua pintu pembenaran agama tanpa dalil:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang membuat perkara baru dalam agama ini, maka tertolak.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)³

Tertolak = tidak diterima = sia-sia.


3. Pembiaran terhadap Kesesatan = Partisipasi dalam Kebatilan

Kesalahan besar sebagian dai dan tokoh umat adalah diam demi kenyamanan. Mereka tahu ada penyimpangan, tetapi memilih aman:

  • takut kehilangan jamaah,
  • takut dicap keras,
  • takut konflik sosial.

Allah ﷻ mengecam sikap ini dengan keras:

كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنكَرٍ فَعَلُوهُ
“Mereka tidak saling melarang dari kemungkaran.”
(QS. Al-Mā’idah: 79)⁴

Al-Qurṭubī menegaskan:

*“Ayat ini menjadi dalil bahwa membiarkan kemungkaran sama buruknya dengan melakukannya.”*⁵

Diam terhadap doktrin sesat adalah dosa kolektif.


4. Syirik dan Ghuluw: Penghapus Amal Tanpa Sisa

Tidak ada ancaman yang lebih tegas daripada ini:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika engkau berbuat syirik, pasti hapus seluruh amalmu.”
(QS. Az-Zumar: 65)⁶

Perhatikan:

  • bukan sebagian amal,
  • bukan amal tertentu,
    tetapi seluruh amal.

Setiap doktrin yang:

  • mengangkat manusia ke level ilahiah,
  • memberi otoritas keselamatan mutlak pada selain Allah,
  • menabrak prinsip iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn,

berada di ambang penghancuran total amal ibadah.


5. Ilusi “Persatuan” di Atas Kesesatan

Seringkali kesesatan dibela dengan slogan:

“Jangan memecah umat.”

Padahal persatuan tanpa kebenaran adalah persatuan palsu. Allah ﷻ berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا
“Berpeganglah kalian semua kepada tali Allah.”
(QS. Āli ‘Imrān: 103)

Tali Allah adalah Al-Qur’an dan Sunnah, bukan figur, bukan klaim spiritual, bukan mitos turun-temurun.


6. Tanggung Jawab Ilmiah Dai: Diam adalah Pengkhianatan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَتَمَ عِلْمًا أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ
“Siapa yang menyembunyikan ilmu akan dikekang api neraka.”
(HR. Abū Dāwūd)⁷

Dalam konteks hari ini:

  • tahu ada doktrin sesat,
  • tahu umat disesatkan,
  • tapi memilih bungkam,

maka ia tidak netral—ia berkhianat.


Penutup 

Mengabaikan doktrin sesat bukan sikap moderat, tetapi awal kehancuran iman dan amal.

Akidah menyimpang → Amal tertolak → Kesalehan semu → Azab kolektif

Islam tidak meminta umat untuk kasar, tetapi menuntut kejujuran ilmiah dan keberanian moral.

Menjaga tauhid lebih utama daripada menjaga perasaan.


Catatan Kaki

  1. QS. Al-Furqān: 23
  2. Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, jil. 6
  3. Al-Bukhārī no. 2697; Muslim no. 1718
  4. QS. Al-Mā’idah: 79
  5. Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān
  6. QS. Az-Zumar: 65
  7. Abū Dāwūd no. 3658; hasan menurut al-Albānī

Wallahu A'lam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama