Setiap Kejahatan, Kebohongan, dan Penipuan Pasti Berakhir dengan Penyesalan



Setiap Kejahatan, Kebohongan, dan Penipuan Pasti Berakhir dengan Penyesalan

(Analisis Dakwah Ilmiah Kontemporer dan Studi Kasus Aktual)


Pendahuluan

Kejahatan, kebohongan, dan penipuan bukan sekadar pelanggaran etika sosial, tetapi penyakit akidah dan akhlak yang secara pasti melahirkan kehancuran. Dalam Islam, tidak ada kejahatan yang “aman”, tidak ada kebohongan yang “berkah”, dan tidak ada penipuan yang “berujung baik”.

Meski dalam jangka pendek kebohongan sering tampak menguntungkan—memberi harta, jabatan, pengaruh, atau pengikut—namun akhirnya selalu berujung pada penyesalan, baik secara pribadi, sosial, maupun historis. Ini adalah sunnatullah yang berulang sepanjang zaman.


1. Kepastian Hancurnya Kebohongan Menurut Al-Qur’an

Allah ﷻ menegaskan bahwa kebohongan adalah sebab dicabutnya hidayah:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ
“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta.”
(QS. Ghafir: 28)

Ayat ini menjelaskan bahwa:

  1. Pendusta mungkin cerdas secara intelektual,
  2. Tetapi buta secara moral dan spiritual.

➡️ Hilangnya hidayah inilah yang membuat pelaku kejahatan terus mengulang kesalahan hingga penyesalan menjadi tak terhindarkan.


2. Kebohongan Adalah Kejahatan Berantai

Rasulullah ﷺ menjelaskan mekanisme kehancuran kebohongan:

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
“Jauhilah kebohongan, karena kebohongan menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan menuntun ke neraka.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kebohongan:

  • Tidak pernah berdiri sendiri
  • Selalu membutuhkan kebohongan lanjutan
  • Melahirkan kejahatan yang lebih besar

➡️ Inilah sebabnya penyesalan tidak datang tiba-tiba, melainkan hasil akumulasi dosa yang panjang.


3. Studi Kasus Kontemporer (Gabungan dan Relevan)

Kasus 1: Ijazah Palsu dan Kebohongan Akademik

Fenomena ijazah palsu menunjukkan bahwa:

  • Kebohongan kecil (dokumen)
  • Berujung pada kejahatan besar (jabatan, kebijakan, kekuasaan)

Pelakunya hidup dalam:

  • Ketakutan terbongkar
  • Pembelaan tanpa akhir
  • Kebohongan berlapis demi menutup kebohongan awal

➡️ Banyak yang akhirnya jatuh dengan kehinaan, menyesal bukan karena dosa, tetapi karena terbongkar.


Kasus 2: Klaim Dzuriyah Palsu dan Penipuan Religius

Mengaku keturunan Nabi ﷺ tanpa bukti ilmiah nasab adalah:

  • Kebohongan agama
  • Penipuan emosional umat
  • Eksploitasi cinta kepada Rasulullah ﷺ

Dampaknya:

  • Rusaknya tauhid (pengkultusan manusia)
  • Munculnya loyalitas buta
  • Pembelaan kesesatan atas nama “akhlak”

➡️ Saat terbongkar, yang tersisa hanyalah penyesalan kolektif umat yang tertipu dan kehinaan bagi pelakunya.


Kasus 3: Dai Retoris Tanpa Kejujuran

Sebagian dai:

  • Pandai berbicara
  • Miskin kejujuran
  • Menghalalkan dusta demi panggung dan pengikut

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ
“Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan.”
(HR. Muslim)

➡️ Popularitas berbasis kebohongan pasti runtuh, dan penyesalan datang saat pengaruh hilang.


Kasus 4: Pembiaran Kesesatan oleh Orang “Baik”

Banyak kejahatan besar bertahan bukan karena pelakunya kuat, tetapi karena:

  • Orang baik memilih diam
  • Ulama takut kehilangan jamaah
  • Intelektual takut dicap keras

Allah ﷻ memperingatkan:

وَلَا تَكْتُمُوا۟ ٱلشَّهَٰدَةَ
“Janganlah kalian menyembunyikan kesaksian.”
(QS. Al-Baqarah: 283)

➡️ Diam terhadap kebohongan adalah jalan menuju penyesalan bersama.


4. Penyesalan Duniawi: Cepat atau Lambat

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا يَحِيقُ ٱلْمَكْرُ ٱلسَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ
“Tipu daya yang jahat tidak akan menimpa kecuali pelakunya sendiri.”
(QS. Fathir: 43)

Bentuk penyesalan dunia:

  • Hilangnya kepercayaan
  • Jatuhnya reputasi
  • Kehidupan penuh kecemasan
  • Ditinggalkan pengikutnya sendiri

➡️ Kebohongan mungkin memberi keuntungan cepat, tetapi kehancuran datang lebih mahal.


5. Penyesalan Akhirat: Terlambat dan Pasti

Allah ﷻ menggambarkan penyesalan akhirat:

وَأَسَرُّوا۟ ٱلنَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا۟ ٱلْعَذَابَ
“Mereka menyembunyikan penyesalan ketika melihat azab.”
(QS. Yunus: 54)

Penyesalan ini:

  • Tidak bisa ditebus
  • Tidak bisa diulang
  • Tidak bisa dimanipulasi

➡️ Semua kebohongan yang dahulu dibela mati-matian menjadi sumber kehinaan abadi.


Penutup

Setiap kejahatan, kebohongan, dan penipuan pasti berakhir dengan penyesalan.
Bukan persoalan apakah, tetapi kapan.

Kejujuran mungkin menyakitkan di awal,
tetapi kebohongan selalu menghancurkan di akhir.

Dan sejarah membuktikan:
Tidak ada pendusta yang menang selamanya.


Catatan Kaki (Footnote)

  1. Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, QS. Ghafir: 28.
  2. Al-Nawawi, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Bab al-Kadhib.
  3. Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitab Āfāt al-Lisān.
  4. Fakhruddin al-Razi, Mafātīḥ al-Ghaib, QS. Fathir: 43.
  5. Yusuf al-Qaradawi, Al-Amānah wa al-Akhlāq fī al-Islām.
  6. Ibn Taymiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā, bahaya dusta atas nama agama.

Wallah A'lam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama