Berbagai Hal yang Merusak Tauhidullah
(Analisis Konseptual dan Studi Kasus Kontemporer)
Buletin Dakwah Ilmiah Kontemporer
Pendahuluan
Tauhidullah merupakan fondasi utama ajaran Islam. Seluruh risalah para nabi dan rasul berporos pada pengesaan Allah ﷻ dalam rubūbiyyah, ulūhiyyah, dan asmā’ wa ṣifāt. Setiap kerusakan pada tauhid berarti kerusakan pada bangunan agama secara keseluruhan.
Di era kontemporer, kerusakan tauhid tidak selalu tampil dalam bentuk penyembahan berhala klasik, tetapi sering hadir dalam wajah spiritualitas semu, kultus tokoh, klaim karamah, dan manipulasi dalil agama. Oleh karena itu, dakwah tauhid hari ini harus bersifat ilmiah, kritis, dan kontekstual.
1. Syirik Akbar
Syirik akbar adalah mempersekutukan Allah ﷻ dalam ibadah, doa, pengharapan, rasa takut, atau keyakinan adanya makhluk yang memiliki kekuasaan ilahiah.
Dalil:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik…” (QS. an-Nisā’: 48)
Studi Kasus:
Fenomena doa langsung kepada wali, tokoh agama, atau individu yang diklaim memiliki “kedudukan khusus” demi keselamatan dan hajat dunia. Praktik ini sering dibungkus istilah wasilah, padahal hakikatnya adalah doa kepada selain Allah.
2. Syirik Asghar
Syirik kecil tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, tetapi merusak kemurnian tauhid dan menghapus pahala amal.
Dalil:
أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ
“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” (HR. Ahmad)
Bentuk paling dominan:
- Riyā’ dalam dakwah
- Menjual agama demi popularitas
- Bersumpah dengan selain nama Allah
3. Ghuluww (Berlebih-lebihan Mengagungkan Makhluk)
Ghuluww adalah akar utama rusaknya tauhid umat terdahulu. Islam melarang pengkultusan manusia dalam bentuk apa pun.
Dalil:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ
“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana Nasrani memuji Isa.” (HR. al-Bukhārī)
Studi Kasus:
Tokoh agama dianggap tidak mungkin salah, ucapannya ditempatkan di atas Al-Qur’an dan Sunnah, bahkan kritik dianggap “melawan wali”.
4. Klaim Kewalian yang Menggugurkan Syariat
Kewalian tidak pernah membatalkan kewajiban syariat. Klaim sebaliknya adalah kesesatan besar.
Studi Kasus:
Individu mengaku telah mencapai maqām tertentu sehingga shalat, halal-haram, dan dosa dianggap tidak lagi berlaku baginya.
Ijma‘ Ulama:
*“Barang siapa meyakini ada wali yang gugur darinya syariat, maka ia kafir menurut ijma‘ kaum muslimin.”*¹
5. Mengkultuskan Karamah dan Mengabaikan Dalil
Karamah yang sah selalu berada dalam koridor iman dan ittibā‘ kepada Rasulullah ﷺ.
Studi Kasus:
Klaim bisa berbicara dengan hewan, mengetahui isi kubur, atau memerintah malaikat, lalu dijadikan dasar ketaatan mutlak.
Prinsip Ilmiah:
*“Setiap klaim luar biasa yang bertentangan dengan syariat adalah istidrāj, bukan karamah.”*²
6. Tawakkal Palsu dan Ketergantungan kepada Makhluk
Ketergantungan hati secara mutlak kepada jabatan, tokoh, uang, atau jaringan spiritual adalah cacat tauhid.
Dalil:
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Hanya kepada Allah kalian bertawakkal jika benar-benar beriman.” (QS. al-Mā’idah: 23)
7. Mengunggulkan Rasa Spiritual di Atas Dalil
Menjadikan ilham, mimpi, atau “rasa batin” sebagai standar kebenaran di atas Al-Qur’an dan Sunnah.
Studi Kasus:
Dalil ditolak dengan alasan: “Guru saya mendapat ilham” atau “Ini jalan khusus”.
Dalil Tegas:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kalian berselisih, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. an-Nisā’: 59)
8. Kebohongan atas Nama Agama
Klaim ijazah palsu, sanad palsu, atau nasab palsu dengan alasan menjaga wibawa dakwah.
Studi Kasus:
Pemalsuan identitas religius untuk mendapatkan ketaatan jamaah.
Dalil:
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ
“Yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah.” (QS. an-Naḥl: 105)
9. Menganggap Hukum Manusia Lebih Baik dari Hukum Allah
Bukan sekadar penerapan, tetapi keyakinan bahwa hukum Allah tidak relevan atau tidak adil.
Dalil:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?” (QS. al-Mā’idah: 50)
Penutup
Kerusakan tauhid modern bersifat halus namun sistematis. Ia menyusup melalui kultus, spiritualitas palsu, dan pembenaran atas nama dakwah. Oleh sebab itu, jihad terbesar hari ini adalah meluruskan tauhid dengan ilmu, dalil, dan keberanian moral, bukan dengan emosi atau fanatisme buta.
Catatan Kaki (Footnote)
- Ibn Taymiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā, jilid 11.
- Ibn al-Qayyim, Al-Fawā’id; Madārij as-Sālikīn.
- Muhammad bin ‘Abd al-Wahhāb, Kitāb at-Tauḥīd.
- Al-Syāṭibī, Al-I‘tiṣām.
- Wahbah az-Zuḥaylī, Uṣūl al-Fiqh al-Islāmī.


Posting Komentar