Hikmah Tahun Baru: Revitalisasi Takwa dan Ethos Kerja (Kritik Sosial Kontemporer)
Pendahuluan
Pergantian tahun sering dirayakan secara meriah, namun miskin makna. Dalam perspektif Islam, pergantian waktu justru merupakan peringatan keras tentang tanggung jawab iman, moral, dan sosial manusia. Krisis yang menimpa masyarakat—korupsi, kemalasan struktural, manipulasi jabatan, kebohongan publik—bukanlah krisis waktu, melainkan krisis takwa dan ethos kerja.
Allah SWT menegaskan:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3)[^1]
Ayat ini menunjukkan bahwa iman dan kerja nyata adalah satu kesatuan, bukan dua dunia yang terpisah.
1. Tahun Baru: Muhasabah Takwa, Bukan Seremonial Kosong
Takwa bukan sekadar simbol religius, tetapi sistem kontrol diri yang mencegah penyimpangan moral, kebohongan, dan pengkhianatan amanah. Umar bin Khaththab RA menggambarkan takwa dengan perumpamaan praktis:
أَمَا سَلَكْتَ طَرِيقًا ذَا شَوْكٍ؟ … قَالَ: شَمَّرْتُ وَاجْتَهَدْتُ، قَالَ: فَذَلِكَ التَّقْوَى
“Engkau berhati-hati dan bersungguh-sungguh; itulah takwa.”[^2]
Dalam konteks sosial hari ini, takwa yang hilang melahirkan:
- Pejabat tanpa rasa takut kepada Allah,
- Akademisi tanpa kejujuran ilmiah,
- Tokoh agama tanpa tanggung jawab moral.
Allah SWT mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr [59]: 18)[^3]
Ayat ini adalah kritik langsung terhadap budaya hidup tanpa evaluasi.
2. Krisis Ethos Kerja: Antara Malas, Manipulatif, dan Tidak Amanah
Islam memandang kerja sebagai ibadah sosial. Namun realitas menunjukkan degradasi ethos kerja:
- bekerja hanya demi gaji, bukan amanah,
- mencari jabatan tanpa kompetensi,
- memanipulasi data, ijazah, dan prestasi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang jika bekerja, ia melakukannya dengan itqan.”[^4]
Hadis ini membantah budaya:
- asal jadi,
- formalitas tanpa kualitas,
- religius di mimbar tapi lalai di kantor.
Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan:
التَّوَكُّلُ لَا يُنَافِي الْأَخْذَ بِالْأَسْبَابِ، وَتَرْكُهَا عَجْزٌ
“Tawakal tidak menafikan usaha; meninggalkan usaha adalah kelemahan.”[^5]
Ini sekaligus kritik terhadap fatalisme religius palsu yang menjadikan agama sebagai pembenaran kemalasan.
3. Takwa Tanpa Kerja: Spiritualitas Palsu
Sebaliknya, Islam juga mengecam takwa yang hanya berhenti pada ritual. Allah SWT berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Katakanlah: bekerjalah kalian, maka Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaan kalian.”
(QS. At-Taubah [9]: 105)[^6]
Ayat ini menegaskan:
- iman harus terukur dalam amal,
- kesalehan harus berdampak sosial,
- agama tidak boleh menjadi alat pelarian dari tanggung jawab publik.
4. Budaya Tahun Baru: Pesta, Lupa, dan Pemborosan
Fenomena tahun baru sering diisi:
- hura-hura,
- pemborosan,
- kelalaian ibadah,
tanpa perubahan moral sedikit pun.
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari.”[^7]
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. al-Bukhari)[^8]
Ini adalah kritik profetik terhadap masyarakat yang rajin merayakan waktu, tapi malas memperbaiki diri.
Penutup: Tahun Baru sebagai Titik Balik Peradaban
Islam tidak mengajarkan optimisme kosong, tetapi perubahan berbasis takwa dan kerja nyata. Tanpa itu, pergantian tahun hanya akan mengulang:
- kebohongan lama,
- kemalasan lama,
- kerusakan lama.
Tahun baru seharusnya melahirkan:
- Takwa yang jujur,
- Ethos kerja yang amanah,
- Keberanian mengoreksi kebatilan,
- Tanggung jawab sosial dan peradaban.
Inilah makna sejati hijrah waktu: berpindah dari lalai menuju sadar, dari slogan menuju amal, dari agama simbolik menuju agama yang membebaskan dan memperbaiki.
Catatan Kaki
[^1]: QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3.
[^2]: Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm.
[^3]: QS. Al-Hasyr [59]: 18.
[^4]: HR. al-Baihaqi, Syu‘ab al-Iman, no. 5312.
[^5]: Ibnul Qayyim, Madarij as-Salikin, Juz 2.
[^6]: QS. At-Taubah [9]: 105.
[^7]: Abu Nu‘aim, Hilyat al-Auliya’, Juz 2.
[^8]: HR. al-Bukhari, no. 6412.


Posting Komentar