Penyakit Buruk Netizen: Belum Baca dan Belum Dengar Sudah Komentar



Penyakit Buruk Netizen: Belum Baca dan Belum Dengar Sudah Komentar

Pendahuluan

Salah satu penyakit serius di era digital adalah reaksi instan tanpa verifikasi. Banyak netizen belum membaca isi tulisan, belum mendengar penjelasan utuh, bahkan belum memahami konteks, tetapi sudah merasa berhak berkomentar, menghakimi, dan menyebarkan opini. Fenomena ini bukan sekadar masalah etika bermedia, tetapi indikasi krisis ilmu, adab, dan akal sehat.

Dalam Islam, sikap tergesa-gesa berbicara tanpa ilmu bukan perkara ringan, karena ia dapat berujung pada kedustaan, kezaliman, dan dosa lisan.


1. Akar Masalah: Lemahnya Budaya Ilmu

Komentar tanpa membaca menunjukkan hilangnya tradisi tabayyun (klarifikasi) dan ketergesaan intelektual. Padahal, Islam sejak awal membangun peradaban di atas ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.

Imam al-Bukhari bahkan membuat bab khusus dalam Shahih-nya:

باب العلم قبل القول والعمل
“Bab tentang ilmu sebelum berkata dan beramal.”[^1]

Netizen yang belum membaca tetapi sudah berkomentar sejatinya sedang melangkahi urutan syariat: berbicara sebelum tahu.


2. Dalil Al-Qur’an: Larangan Berbicara Tanpa Ilmu

Allah ﷻ dengan tegas melarang manusia mengikuti dan membicarakan sesuatu tanpa dasar ilmu:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isrā’: 36)

Ayat ini relevan langsung dengan budaya komentar spontan: mendengar sepotong, membaca judul saja, lalu bereaksi penuh emosi.


3. Perspektif Hadis: Bahaya Bicara Serampangan

Rasulullah ﷺ memperingatkan:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.”
(HR. Muslim no. 5)

Netizen yang berkomentar tanpa membaca secara utuh sangat rentan menjadi penyebar kebohongan tanpa sadar, meskipun merasa dirinya sedang “kritik” atau “menasehati”.


4. Analisis Ilmiah Kontemporer

Dalam kajian psikologi digital, fenomena ini dikenal sebagai:

  • Headline bias: bereaksi hanya dari judul
  • Confirmation bias: mencari pembenaran, bukan kebenaran
  • Dunning–Kruger effect: merasa paling paham padahal minim pengetahuan[^2]

Media sosial memperparah penyakit ini karena:

  • Algoritma mendorong emosi, bukan pemahaman
  • Kecepatan lebih dihargai daripada ketepatan
  • Popularitas komentar mengalahkan kualitas argumen

5. Dampak Sosial dan Keumatan

Komentar tanpa ilmu melahirkan:

  1. Fitnah dan salah paham massal
  2. Rusaknya wibawa ilmu dan ulama
  3. Normalisasi kebodohan kolektif
  4. Permusuhan horizontal di tengah umat

Inilah yang oleh Ibn al-Qayyim disebut sebagai:

“Kerusakan yang muncul ketika lisan mendahului akal dan ilmu.”[^3]


6. Solusi Islam: Kembalikan Adab Sebelum Komentar

Islam tidak melarang kritik, tetapi mewajibkan adab dan ilmu. Prinsipnya:

  • Baca sampai selesai
  • Dengar sampai tuntas
  • Pahami konteks
  • Jika belum paham, diam lebih selamat

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Penutup

Netizen yang belum baca sudah komentar bukan sekadar kurang sopan, tetapi sedang mempraktikkan kebodohan yang dipamerkan. Dalam Islam, diam karena belum tahu adalah ibadah, sedangkan bicara tanpa ilmu adalah bencana.

Umat ini tidak kekurangan suara, tetapi kekurangan akal yang sabar dan ilmu yang jujur.


Footnote

[^1]: Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-‘Ilm, Bab: al-‘Ilm Qabla al-Qaul wa al-‘Amal.
[^2]: Kruger, J., & Dunning, D. (1999). Unskilled and Unaware of It. Journal of Personality and Social Psychology.
[^3]: Ibn al-Qayyim, I‘lam al-Muwaqqi‘in, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, jilid 1.


Wallahu A'lam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama