Mustahil Ada Habib Hafal 7 Juta Hadits
Tinjauan Ilmiah atas Klaim yang Tidak Proporsional dengan Realitas Ilmu Hadits
Pendahuluan
Di tengah maraknya kultus individu dalam dakwah populer, sering muncul klaim bombastis seperti:
“Ada habib yang hafal 7 juta hadits.”
Sekilas klaim ini terdengar mengagumkan dan dimaksudkan untuk meninggikan kedudukan seseorang. Namun dalam timbangan ilmu hadits, klaim tersebut justru bermasalah secara ilmiah, metodologis, dan logis.
Buletin ini bertujuan meluruskan secara ilmiah, bukan untuk merendahkan nasab atau pribadi, tetapi untuk menjaga marwah ilmu dan kejujuran akademik dalam agama.
1. Berapa Jumlah Hadits Nabi ﷺ Sebenarnya?
Pertama-tama, harus dibedakan antara:
- Jumlah hadits unik (tanpa pengulangan)
- Jumlah riwayat (dengan pengulangan sanad dan lafaz)
a. Kitab-kitab Hadits Utama
| Kitab Hadits | Jumlah Riwayat (±) |
|---|---|
| Shahih al-Bukhari | 7.563 (dengan pengulangan) |
| Shahih Muslim | 7.275 |
| Sunan Abu Dawud | 5.274 |
| Sunan at-Tirmidzi | 3.956 |
| Sunan an-Nasa’i | 5.761 |
| Sunan Ibnu Majah | 4.341 |
| Total Kutub Sittah | ± 34.000 riwayat |
Namun, para ulama sepakat bahwa jumlah hadits tanpa pengulangan dari Kutub Sittah hanya sekitar 9.000–10.000 hadits saja¹.
b. Seluruh Literatur Hadits Klasik
Jika digabungkan seluruh kitab besar (Musnad Ahmad, Mu’jam Thabarani, Baihaqi, dll), para peneliti kontemporer memperkirakan:
Total hadits Nabi ﷺ (tanpa pengulangan)
berada di kisaran ± 40.000 – 70.000 hadits
Bahkan proyek digital hadits modern seperti al-Jāmi‘ al-Kāmil memperkirakan seluruh korpus hadits global (termasuk dha‘if dan maudhu‘) sekitar:
± 200.000 – 250.000 riwayat²
➡️ Bukan jutaan, apalagi 7 juta.
2. Dari Mana Angka “7 Juta Hadits” Berasal?
Angka jutaan biasanya muncul dari kesalahan memahami istilah ulama klasik.
a. Kesalahan Memahami “Hafal Ratusan Ribu Hadits”
Ketika ulama berkata:
“Fulān hafal 300.000 hadits”
Yang dimaksud adalah:
- Satu matan dihitung berkali-kali
- Karena:
- Perbedaan sanad
- Perbedaan jalur periwayatan
- Perbedaan lafaz kecil
- Perbedaan guru
⚠️ Bukan 300.000 isi hadits berbeda
Imam an-Nawawi menegaskan:
*“Satu hadits bisa dihitung puluhan kali karena perbedaan sanad.”*³
3. Klaim 7 Juta Hadits: Analisis Kuantitatif
Mari uji klaim ini secara rasional:
a. Secara Historis
- Tidak ada kitab, manuskrip, atau korpus hadits yang mencapai 7 juta
- Tidak ada ulama mu‘tabar yang menyebut angka tersebut secara metodologis
b. Secara Logis
Misalnya:
- 7 juta hadits
- Setiap hadits 2 baris saja
- Total = 14 juta baris teks Arab
📌 Menghafal Al-Qur’an (± 6.200 ayat) saja membutuhkan bertahun-tahun.
📌 Menghafal 14 juta baris teks secara presisi sanad & matan adalah tidak masuk akal secara biologis.
c. Secara Ilmiah
Ilmu hadits:
- Tidak menilai keutamaan dari jumlah hafalan
- Tapi dari:
- Ketelitian sanad
- Pemahaman matan
- Kemampuan tarjih dan istinbath
4. Bahaya Klaim Berlebihan dalam Agama
Klaim fantastis seperti ini justru menimbulkan:
- Ghuluw (berlebihan) terhadap tokoh
- Merusak standar ilmiah ilmu hadits
- Menggeser otoritas ulama mu‘tabar kepada figur populer
- Membuka pintu pembenaran kesalahan atas nama “keistimewaan”
Padahal Nabi ﷺ bersabda:
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ
“Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(HR. Muslim)
5. Nasab Mulia ≠ Klaim Ilmiah Bebas Verifikasi
Islam memuliakan Ahlul Bait, tetapi tidak pernah mengajarkan kebal kritik ilmiah.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
اعرف الحق تعرف أهله
“Kenalilah kebenaran, niscaya kamu tahu siapa pengikutnya.”
➡️ Ukuran kebenaran adalah dalil dan metodologi, bukan status sosial atau nasab.
Kesimpulan
🔴 Klaim “hafal 7 juta hadits”:
- ❌ Tidak sesuai jumlah hadits yang ada
- ❌ Tidak dikenal dalam disiplin ilmu hadits
- ❌ Bertentangan dengan metodologi ulama
- ❌ Lebih dekat kepada mitos daripada ilmu
🟢 Dakwah ilmiah menuntut kejujuran, bukan sensasi.
🟢 Kemuliaan ulama dijaga dengan ilmu, bukan klaim berlebihan.
Footnote
- Ibn Hajar al-‘Asqalani, Hady as-Sari Muqaddimah Fath al-Bari.
- Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu.
- an-Nawawi, at-Taqrib wa at-Taysir.
- Mustafa A‘zami, Studies in Early Hadith Literature.
- Jalaluddin as-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi.
Wallahu A'lam


Posting Komentar