Kecanduan Mengaku Dzuriyah Palsu Berujung Istidrāj
Pendahuluan
Fenomena mengaku sebagai dzuriyah Nabi ﷺ tanpa bukti ilmiah yang sah bukan sekadar kebohongan sosial, tetapi telah berkembang menjadi kecanduan identitas religius. Lebih berbahaya lagi, ketika pengakuan palsu itu justru mendatangkan popularitas, penghormatan, materi, dan pengikut, sementara pelakunya semakin jauh dari kebenaran. Inilah yang dalam Islam dikenal sebagai istidrāj: kenikmatan yang menipu sebelum kehancuran.
1. Istidrāj dalam Perspektif Al-Qur’an
Allah Ta‘ala berfirman:
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
“Akan Kami tarik mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku sangat kuat.”
(QS. Al-A‘rāf: 182–183)
Istidrāj bukanlah tanda ridha Allah, tetapi hukuman bertahap: dosa dibiarkan, fasilitas diluaskan, sementara hidayah dicabut perlahan.¹
2. Kecanduan Klaim Dzuriyah: Dari Kebohongan Menuju Delusi
Mengaku dzuriyah palsu sering bermula dari kebohongan kecil, lalu berubah menjadi identitas permanen yang dipertahankan dengan berbagai narasi mistik, mimpi, karomah palsu, hingga ancaman spiritual.
Secara psikologis dan sosiologis, ini menciptakan:
- confirmation bias (hanya menerima pujian dan pembenaran),
- religious narcissism (merasa suci karena nasab),
- dan spiritual addiction (ketergantungan pada status sakral).²
Ironisnya, semakin dikritik secara ilmiah, semakin kuat klaim dipertahankan—tanda awal tertutupnya pintu nasihat.
3. Dzuriyah Asli Tidak Butuh Klaim
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barang siapa yang amalnya memperlambatnya, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini meruntuhkan mitos keselamatan nasab. Bahkan keturunan Nabi ﷺ sekalipun, bila menyimpang, tidak memiliki keistimewaan di sisi Allah.³
Maka, klaim dzuriyah tanpa amal dan tanpa sanad nasab yang valid justru menjadi bukti lemahnya iman, bukan kemuliaan.
4. Istidrāj: Ketika Popularitas Menjadi Laknat
Allah Ta‘ala juga berfirman:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami bukakan semua pintu kenikmatan untuk mereka…”
(QS. Al-An‘ām: 44)
Dalam konteks kontemporer, istidrāj tampak dalam bentuk:
- viral di media sosial,
- dielu-elukan sebagai wali,
- menerima dana umat,
- namun kebal terhadap koreksi ilmiah.
Semua itu bukan tanda kebenaran, melainkan fase penundaan hukuman.⁴
5. Bahaya Sosial: Merusak Aqidah dan Ilmu
Klaim dzuriyah palsu tidak hanya merusak pelakunya, tetapi juga:
- menipu umat awam,
- melemahkan standar ilmu nasab dan hadis,
- membuka pintu kultus individu,
- dan menormalisasi kebohongan atas nama agama.
Ibnu Sirin rahimahullah berkata:
*“Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama.”*⁵
Penutup
Mengaku dzuriyah palsu lalu menikmatinya adalah jalan cepat menuju istidrāj. Kenikmatan duniawi yang menyertainya bukan karunia, melainkan jebakan ilahi. Jalan selamat bukan pada klaim nasab, tetapi pada kejujuran, ilmu, dan amal yang lurus.
Kesimpulan tegas:
Semakin keras seseorang mempertahankan dzuriyah palsu, semakin besar indikasi bahwa ia sedang ditarik menuju istidrāj.
Footnote
- Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-A‘rāf: 182.
- Lihat: Jean Twenge, The Narcissism Epidemic, analisis relevansi pada religiusitas simbolik.
- An-Nawawī, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 2699.
- Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-An‘ām: 44.
- Muslim, Muqaddimah Ṣaḥīḥ Muslim.
Wallahu A'lam


Posting Komentar