Ketika Murid Berani Memaki Guru: Indikasi Krisis Moral Keluarga dan Lingkungan Sosial



Ketika Murid Berani Memaki Guru: Indikasi Krisis Moral Keluarga dan Lingkungan Sosial

Pendahuluan

Fenomena murid yang berani memaki, merendahkan, bahkan mengancam guru bukan sekadar persoalan kedisiplinan sekolah. Dalam perspektif dakwah ilmiah kontemporer, perilaku ini merupakan indikator serius kerusakan adab, yang akarnya sering kali bermula dari krisis moral dalam keluarga, lalu diperparah oleh lingkungan sosial dan budaya permisif. Islam, ilmu pendidikan, sosiologi, dan psikologi sepakat bahwa sikap anak di ruang publik adalah cermin dari proses pembentukan karakter di rumah.


1. Perspektif Islam: Kerusakan Adab Mendahului Kerusakan Ilmu

Dalam Islam, adab ditempatkan sebelum ilmu. Hilangnya adab terhadap guru menandakan rusaknya fondasi pendidikan keluarga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak para ulama (pendidik).”
(HR. Ahmad)

Guru dalam Islam adalah pewaris tugas kenabian. Ketika murid berani memaki guru, itu menunjukkan ketiadaan tarbiyah adab di rumah, bukan sekadar “kenakalan remaja”¹.

Imam Malik bahkan menegaskan bahwa ia mempelajari adab selama puluhan tahun sebelum ilmu². Maka, perilaku kasar murid adalah indikasi kegagalan keluarga menanamkan adab sejak dini.


2. Pandangan Pakar Pendidikan: Kegagalan Pendidikan Primer (Keluarga)

Dalam ilmu pendidikan modern, keluarga disebut sebagai primary educational institution. John Dewey menegaskan bahwa sekolah hanya melanjutkan nilai yang sudah dibentuk di rumah³.

Pakar pendidikan Thomas Lickona menyatakan:

*“Children learn respect not from rules alone, but from daily modeled behavior at home.”*⁴

Artinya, anak belajar hormat bukan dari slogan, tetapi dari contoh orang tua. Jika anak terbiasa melihat orang tua:

  • memaki,
  • merendahkan guru,
  • menghina otoritas moral,

maka sekolah hanya menerima “produk jadi” dari kegagalan pendidikan keluarga.

Dengan demikian, murid yang memaki guru sering kali adalah korban pola asuh disfungsional, bukan semata pelaku individual.


3. Perspektif Sosiologi: Disfungsi Keluarga dan Normalisasi Kekerasan Verbal

Dalam sosiologi, perilaku menyimpang anak dianalisis melalui teori social learning dan disfungsi institusi keluarga.

Albert Bandura menjelaskan bahwa anak meniru perilaku signifikan di sekitarnya⁵. Jika kekerasan verbal dinormalisasi di rumah—baik terhadap pasangan, tetangga, atau figur otoritas—maka anak menginternalisasi bahwa memaki adalah alat ekspresi yang sah.

Émile Durkheim menyebut kondisi ini sebagai anomie, yaitu hilangnya norma sosial yang disepakati⁶. Ketika keluarga gagal menjadi penjaga norma, sekolah menjadi medan pelampiasan konflik dan frustrasi sosial.

Dalam konteks ini, murid yang memaki guru adalah gejala kerusakan struktur sosial mikro (keluarga), bukan anomali tunggal.


4. Perspektif Psikologi: Agresi Verbal sebagai Proyeksi Luka Emosional

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa agresi verbal pada anak sering merupakan mekanisme pertahanan (defense mechanism).

Menurut teori attachment John Bowlby⁷, anak yang tumbuh dalam keluarga:

  • penuh konflik,
  • minim afeksi,
  • otoriter atau permisif ekstrem,

cenderung mengalami insecure attachment, yang diekspresikan dalam bentuk kemarahan pada figur otoritas di luar rumah, termasuk guru.

Psikolog klinis juga menegaskan bahwa anak yang sehat secara emosional tidak menikmati penghinaan terhadap guru, karena rasa hormat adalah hasil dari rasa aman dan empati yang stabil⁸.


5. Analisis Sintesis: Memaki Guru adalah Alarm Moral

Menggabungkan keempat perspektif tersebut, dapat ditegaskan:

Murid yang berani memaki guru bukan sekadar melanggar tata tertib sekolah, tetapi sedang membunyikan alarm kerusakan moral keluarga dan kegagalan ekosistem pendidikan.

Islam menyebutnya kerusakan adab, pendidikan menyebutnya kegagalan pendidikan primer, sosiologi menyebutnya disfungsi keluarga, dan psikologi menyebutnya distorsi emosi dan relasi.


Penutup: Tanggung Jawab Kolektif, Bukan Kambing Hitam

Buletin dakwah ilmiah kontemporer ini menegaskan bahwa:

  • Guru tidak boleh menjadi korban,
  • Sekolah tidak bisa bekerja sendiri,
  • Keluarga memikul tanggung jawab terbesar di hadapan Allah dan masyarakat.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Menjaga keluarga dari api neraka dimulai dari menanamkan adab, termasuk adab kepada guru. Tanpa itu, pendidikan akan kehilangan ruh, dan masyarakat menuai generasi yang keras tanpa hikmah.


Catatan Kaki (Footnote)

  1. Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. The Concept of Education in Islam.
  2. Ibn ‘Abd al-Barr, Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlih.
  3. Dewey, John. Democracy and Education.
  4. Lickona, Thomas. Educating for Character.
  5. Bandura, Albert. Social Learning Theory.
  6. Durkheim, Émile. The Division of Labor in Society.
  7. Bowlby, John. Attachment and Loss.
  8. Santrock, John W. Life-Span Development.

Wallahu A'lam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama