Membaca Sir (Pelan) Bacaan Shalat Menambah Kekhusyuan
Buletin Dakwah Ilmiah Kontemporer
Pendahuluan
Salah satu problem serius dalam shalat kaum Muslimin hari ini adalah hilangnya kekhusyuan. Shalat dilakukan secara cepat, mekanis, dan sekadar menggugurkan kewajiban. Di antara sarana penting untuk menghadirkan khusyu’ adalah membaca bacaan shalat secara sir (pelan, lirih, terdengar oleh diri sendiri) pada shalat-shalat yang disyariatkan demikian. Praktik ini bukan sekadar kebiasaan fiqh, tetapi memiliki landasan dalil, hikmah ruhiyah, dan manfaat psikologis-kognitif.
Makna Bacaan Sir dalam Shalat
Yang dimaksud bacaan sir bukan bacaan dalam hati, tetapi bacaan dengan suara rendah yang masih terdengar oleh diri sendiri, sebagaimana penjelasan para ulama fiqh dan ushul.
قال النووي رحمه الله:
"وأدنى الجهر أن يُسمِع غيره، وأدنى السر أن يُسمِع نفسه"“Batas minimal jahr (keras) adalah terdengar oleh orang lain, dan batas minimal sir (pelan) adalah terdengar oleh diri sendiri.”
(An-Nawawi, Al-Majmū‘)¹
Dalil Syar‘i Bacaan Sir
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
“Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula terlalu memelankannya, carilah jalan tengah di antara keduanya.”
(QS. Al-Isrā’: 110)²
Ayat ini menjadi dasar kaidah tawāzun suara dalam shalat, termasuk bacaan sir yang tidak bisu dan tidak mengganggu.
Bacaan Sir dan Kehadiran Hati (Khusyu‘)
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا لَكَ مِنْ صَلَاتِكَ مَا عَقَلْتَ مِنْهَا
“Sesungguhnya bagian shalatmu hanyalah apa yang engkau pahami darinya.”
(HR. Ahmad)³
Membaca bacaan shalat secara sir:
-
Mengaktifkan pendengaran dan kesadaran makna
Bacaan yang terdengar oleh diri sendiri lebih mudah dipahami dibanding bacaan dalam hati yang sering lalai. -
Mencegah autopilot ibadah
Banyak orang “melompat” antar gerakan tanpa kesadaran makna karena bacaan tidak dihadirkan secara nyata. -
Menguatkan dialog dengan Allah
Dalam shalat, seorang hamba sedang bermunajat. Suara lirih memperkuat rasa berbicara langsung dengan Rabb-nya.
Pendekatan Ilmiah Kontemporer
Studi neurolinguistik menunjukkan bahwa kombinasi suara rendah + fokus makna mengaktifkan area otak yang berhubungan dengan attention control dan emotional regulation. Bacaan lirih terbukti lebih efektif dalam:
- Menurunkan distraksi eksternal
- Meningkatkan kesadaran diri (self-awareness)
- Memperpanjang fokus kognitif
Ini sejalan dengan konsep khusyu‘ dalam Islam yang mencakup hati, lisan, dan anggota badan⁴.
Kesalahan Umum yang Menghilangkan Khusyu‘
- Membaca dalam hati tanpa suara sama sekali (menyelisihi sunnah)
- Terlalu cepat demi mengejar rakaat
- Menganggap bacaan hanya formalitas fiqh
- Tidak memahami makna bacaan shalat
Ibnu Taimiyyah رحمه الله menegaskan:
"الذكر المشروع هو ما اجتمع فيه اللسان والقلب"
“Dzikir yang disyariatkan adalah yang menghimpun lisan dan hati sekaligus.”
(Majmū‘ al-Fatāwā)⁵
Penutup
Membaca bacaan shalat secara sir bukan perkara kecil. Ia adalah wasilah syar‘i dan ilmiah untuk menghidupkan shalat, menghadirkan hati, dan keluar dari krisis ibadah yang kering makna. Shalat yang dibaca dengan suara lirih, dipahami maknanya, dan dihadirkan hatinya—itulah shalat yang mendekatkan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
“Bukan panjangnya bacaan yang menghidupkan shalat, tetapi hadirnya hati saat membaca.”
Footnote
- An-Nawawi, Al-Majmū‘ Sharh al-Muhadzdzab, Dar al-Fikr.
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Isrā’: 110.
- HR. Ahmad no. 18557; dinilai hasan oleh sebagian ulama hadits.
- Lihat: Andrew Newberg, How God Changes Your Brain, Ballantine Books.
- Ibnu Taimiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 22/610.


Posting Komentar