Isra’ Mi‘raj Mengajarkan Keseimbangan Hubungan Vertikal dan Horizontal
Pendahuluan
Peristiwa Isra’ dan Mi‘raj bukan sekadar mukjizat perjalanan Nabi ﷺ, melainkan manhaj peradaban yang menegaskan bahwa kemuliaan manusia hanya tegak di atas dua poros utama:
- Hablum minallāh (hubungan vertikal dengan Allah)
- Hablum minannās (hubungan horizontal dengan sesama manusia)
Islam tidak mengenal kesalehan timpang: rajin ibadah tetapi merusak sosial, atau aktif sosial tetapi meremehkan tauhid dan shalat. Isra’ Mi‘raj datang untuk meluruskan keduanya secara simultan.
1. Landasan Qur’ani: Manusia Hina Kecuali dengan Dua Tali
Allah menegaskan bahwa kehinaan akan melekat pada manusia kecuali jika mereka menjaga dua hubungan ini:
﴿ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ﴾
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.”
(QS. Āli ‘Imrān: 112)
Makna penting ayat ini:
- Hablum minallāh → iman, tauhid, shalat, ketaatan
- Hablum minannās → keadilan sosial, kemanfaatan, amanah, akhlak
Isra’ Mi‘raj adalah demonstrasi ilahiah atas ayat ini:
shalat diwajibkan (vertikal), lalu umat dituntut membawa dampak sosial (horizontal).
2. Isra’ Mi‘raj dan Hubungan Vertikal (Hablum minallāh)
a. Dimulai dengan Tauhid Murni
Isra’ Mi‘raj dibuka dengan penegasan keesaan Allah:
﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا﴾
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…”
(QS. Al-Isrā’: 1)
Kata “Subḥānalladzī” adalah deklarasi tauhid:
Allah Maha Suci dari sekutu, mitos, dan syirik.
👉 Tidak ada Mi‘raj tanpa tauhid.
👉 Tidak ada kedekatan dengan Allah bagi pelaku syirik.
b. Shalat: Buah Utama Mi‘raj
Satu-satunya ibadah yang diwajibkan langsung tanpa perantara adalah shalat.
﴿إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ﴾
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 45)
Makna strategis:
- Shalat bukan ritual kosong
- Shalat yang benar melahirkan akhlak dan integritas sosial
Jika shalat tidak berdampak pada moral dan sosial, maka yang rusak bukan Islamnya, tetapi shalatnya.
3. Isra’ Mi‘raj dan Hubungan Horizontal (Hablum minannās)
a. Masjid Al-Aqsha: Simbol Universalitas
Isra’ tidak berakhir di langit saja, tetapi dimulai dan dikaitkan dengan Masjid Al-Aqsha—simbol:
- kepedulian umat
- keadilan global
- penderitaan manusia lintas bangsa
Islam sejak awal bukan agama eksklusif ritual, tetapi agama peradaban dan kemanusiaan.
b. Ukuran Kesalehan Sosial: Manfaat
Rasulullah ﷺ menegaskan indikator hubungan horizontal:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Aḥmad, aṭ-Ṭabarānī – hasan)
👉 Islam menolak kesalehan egois
👉 Kesalehan sejati selalu produktif dan solutif
4. Kesalahan Fatal Umat: Memisahkan Dua Hubungan
Banyak umat terjebak pada dua ekstrem:
- Vertikal tanpa horizontal → rajin ibadah tapi zalim, kasar, eksklusif
- Horizontal tanpa vertikal → aktivis sosial tapi nihil tauhid dan shalat
Isra’ Mi‘raj datang untuk mengatakan:
“Kalian tidak akan mulia kecuali dengan keduanya.”
Penutup
Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa:
- Tauhid tanpa kemanfaatan sosial adalah cacat
- Aktivisme tanpa shalat dan tauhid adalah hampa
- Kemuliaan umat lahir dari keseimbangan vertikal dan horizontal
Inilah Islam yang ilmiah, rasional, spiritual, dan humanis—
bukan Islam mitologis, bukan pula Islam sekuler.
Footnote
- Al-Qur’an, QS. Al-Isrā’: 1
- Al-Qur’an, QS. Āli ‘Imrān: 112
- Al-Qur’an, QS. Al-‘Ankabūt: 45
- Musnad Aḥmad, Mu‘jam aṭ-Ṭabarānī al-Awsath
- Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Āli ‘Imrān: 112
- Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, bab makna habl
Wallahu A'lam


Posting Komentar