Bahaya Mitologisasi, Ghuluw, Kultus, dan Fabrikasi Kisah terhadap Umat Islam
(Dengan Sorotan Kasus Aktual di Tengah Umat)
Pendahuluan
Di tengah meningkatnya gairah beragama, umat Islam Indonesia justru menghadapi ancaman serius berupa mitologisasi agama, ghuluw terhadap tokoh, kultus spiritual, serta fabrikasi kisah-kisah supranatural. Fenomena ini tidak hadir dalam ruang kosong, tetapi tumbuh subur melalui mimbar, majelis, media sosial, dan klaim “pengalaman ruhani” yang tidak terverifikasi. Akibatnya, agama bergeser dari wahyu yang ilmiah menjadi narasi mistik yang kebal kritik.
1. Mitologisasi Agama: Islam Direduksi Menjadi Dongeng Spiritual
Kasus Aktual
Di berbagai daerah, beredar kisah:
- Nabi ﷺ disebut mi‘raj hingga puluhan kali
- Tokoh tertentu diklaim berdialog rutin dengan Allah
- Kisah malaikat “diutus” untuk menjaga individu tertentu
- Cerita langit terbuka khusus bagi tokoh atau kelompok tertentu
Masalahnya, kisah-kisah ini:
- Tidak memiliki sanad
- Tidak dikenal dalam kitab-kitab aqidah dan hadits
- Bertentangan dengan prinsip khatm an-nubuwwah
Allah ﷻ berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Agama yang sempurna tidak membutuhkan mitos tambahan untuk tampak agung.
2. Ghuluw terhadap Tokoh: Dari Penghormatan ke Pengkultusan
Kasus Aktual
Fenomena yang sering dijumpai:
- Ucapan tokoh dianggap “di atas dalil”
- Kritikus dicap “kurang adab”, “anti wali”, atau “musuh ulama”
- Kesalahan tokoh selalu dibenarkan dengan dalih maqam
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ
“Jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam agama.”
(HR. Ahmad, an-Nasa’i)
Ironisnya, ghuluw hari ini tidak selalu dalam bentuk ekstrem ibadah, tetapi dalam loyalitas membuta terhadap figur.
3. Kultus Individu: Ketika Tauhid Terkikis Perlahan
Kasus Aktual
Di masyarakat, muncul keyakinan:
- Keselamatan akhirat bergantung pada “bernaung” di bawah tokoh tertentu
- Tokoh dianggap penyalur ampunan, pemadam api neraka, atau penjamin surga
- Foto, silsilah, dan simbol tokoh diperlakukan sakral
Allah ﷻ berfirman:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا
“Mereka menjadikan ulama dan rahib sebagai tuhan selain Allah.”
(QS. At-Taubah: 31)
Ibnu Abbas menegaskan:
“Bukan disembah, tetapi ditaati tanpa hujjah.”
Inilah syirik ketaatan yang sering tidak disadari.
4. Fabrikasi Kisah: Dusta yang Dilegalkan Atas Nama Dakwah
Kasus Aktual
Banyak penceramah dan narator spiritual menyebarkan:
- Kisah mimpi bertemu Nabi ﷺ dengan pesan syariat baru
- Cerita fiktif neraka-surga tanpa sumber
- Klaim karamah yang bertabrakan dengan aqidah
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempatnya di neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dusta agama sering dimaafkan dengan alasan “niatnya baik”, padahal niat baik tidak menghalalkan kebohongan.
5. Dampak Nyata di Tengah Umat
Akibat langsung yang dapat diamati:
- Jamaah emosional tapi dangkal secara ilmu
- Umat alergi terhadap kritik dan dalil
- Ilmu shahih dicurigai, khurafat dirayakan
- Masjid dan majelis menjadi sarang konflik ideologis
- Dakwah kehilangan kredibilitas di mata generasi rasional
Penutup
Islam tidak dibangun di atas kisah sensasional, tetapi di atas:
- Dalil
- Sanad
- Ilmu
- Kejujuran ilmiah
Imam Ibn Sirin رحمه الله berkata:
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama.”
Dakwah yang membiarkan mitos, ghuluw, kultus, dan dusta adalah dakwah yang merusak umat dari dalam.
Footnote
- QS. Al-Ma’idah: 3
- HR. Ahmad, an-Nasa’i (Shahih)
- HR. Bukhari no. 1291; Muslim no. 4
- Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa
- Asy-Syathibi, Al-I’tisham
- Ibn Sirin, Muqaddimah Shahih Muslim
Wallahu A'lam


Posting Komentar