Malas Menganalisis, Gampang Komentar Buruk: Pertanda Jahiliyah Modern



Malas Menganalisis, Gampang Komentar Buruk: Pertanda Jahiliyah Modern

Pendahuluan

Di era media sosial dan banjir informasi, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: malas menganalisis, tetapi sangat mudah berkomentar buruk. Banyak orang tergesa-gesa memberi vonis, mencela, menuduh, bahkan memvonis sesat atau salah, tanpa memahami konteks, data, dan dalil. Fenomena ini bukan sekadar persoalan etika komunikasi, melainkan gejala serius kemunduran akal dan akhlak, yang oleh Islam disebut sebagai sikap jahiliyah.

Jahiliyah bukan hanya periode sebelum Islam, tetapi cara berpikir dan bersikap yang menolak ilmu, akal sehat, dan adab.


1. Jahiliyah: Bukan Sekadar Zaman, Tapi Pola Pikir

Allah ﷻ menyebut jahiliyah sebagai karakter yang bisa muncul kapan saja, termasuk pada umat Islam sendiri jika meninggalkan ilmu dan adab:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?”
(QS. Al-Mā’idah: 50)

Ayat ini menunjukkan bahwa jahiliyah adalah pilihan sikap, bukan sekadar latar sejarah. Salah satu ciri terkuat jahiliyah adalah berbicara tanpa ilmu dan tanpa analisis.


2. Komentar Buruk Tanpa Analisis: Penyakit Akal

Islam sangat menekankan proses tabayyun (klarifikasi) dan tafaqquh (pendalaman ilmu) sebelum bersikap:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka telitilah (tabayyun).”
(QS. Al-Ḥujurāt: 6)

Orang yang malas menganalisis biasanya:

  • Tidak membaca utuh
  • Tidak memeriksa sumber
  • Tidak memahami konteks
  • Tidak membedakan opini dan fakta

Namun ironisnya, justru paling berani berkomentar buruk.


3. Gampang Mencela: Ciri Akhlak Jahiliyah

Allah ﷻ dengan tegas melarang sikap merendahkan, mencela, dan berprasangka:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ
“Wahai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain.”
(QS. Al-Ḥujurāt: 11)

Rasulullah ﷺ bersabda:

كفى بالمرء كذبًا أن يُحدِّث بكلِّ ما سمع
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar.”
(HR. Muslim)

Komentar buruk tanpa analisis bukan hanya kesalahan logika, tetapi dosa lisan dan jari.


4. Jahiliyah Digital: Banyak Bicara, Minim Ilmu

Fenomena ini semakin parah di era digital. Media sosial melahirkan:

  • Ustadz instan
  • Ahli dadakan
  • Hakim komentar

Padahal Allah ﷻ mengingatkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya.”
(QS. Al-Isrā’: 36)

Imam Mālik رحمه الله berkata:

“Siapa yang menjawab setiap pertanyaan, maka sungguh ia telah gila.”

Artinya, diam karena ilmu lebih mulia daripada bicara tanpa ilmu.


5. Dampak Sosial dan Keumatan

Sikap malas menganalisis tapi gampang mencela menimbulkan:

  1. Perpecahan umat
  2. Fitnah dan kebencian
  3. Hilangnya kepercayaan kepada ulama dan dai yang lurus
  4. Suburnya hoaks dan doktrin sesat
  5. Normalisasi kebodohan publik

Inilah jahiliyah modern: tampak canggih teknologinya, tetapi primitif akalnya.


6. Jalan Keluar: Kembali ke Ilmu dan Adab

Islam menawarkan solusi yang jelas:

  • Belajar sebelum berkomentar
  • Tabayyun sebelum menyebarkan
  • Husnuzhan sebelum menuduh
  • Diam jika belum paham

Rasulullah ﷺ bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصمت
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Penutup

Malas menganalisis namun gampang berkomentar buruk bukan tanda kecerdasan, tetapi pertanda jahiliyah. Islam tidak memuliakan orang yang paling lantang, tetapi orang yang paling berilmu, paling adil, dan paling beradab.

Mari kita hijrah dari jahiliyah komentar menuju peradaban ilmu dan akhlak.


Footnote

  1. Ibn Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Mā’idah: 50.
  2. Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Ḥujurāt: 6 & 11.
  3. Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Muqaddimah.
  4. Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab.
  5. Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Bab Āfāt al-Lisān.

Wallahu A'lam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama