Melecehkan Ilmu Shahih dan Membanggakan Khurafat: Pertanda Hilangnya Hidayah
Pendahuluan
Salah satu tanda kemunduran umat bukanlah semata kelemahan ekonomi atau politik, melainkan kerusakan cara berpikir. Ketika ilmu yang shahih direndahkan, sementara khurafat dan kebohongan justru diagungkan, saat itulah hidayah mulai dicabut secara perlahan. Fenomena ini semakin nyata di era media sosial, ketika klaim spiritual tanpa dalil lebih viral daripada kebenaran yang berdasar Al-Qur’an dan Sunnah.
Islam tidak dibangun di atas mitos, cerita mistik, atau pengalaman subjektif, melainkan di atas wahyu, ilmu, dan hujjah.
1. Ilmu Shahih: Pilar Hidayah
Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi, tetapi cahaya yang menuntun kepada kebenaran.
Allah Ta‘ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah: 11)¹
Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa ilmu yang benar adalah warisan kenabian:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi; shahih)²
Melecehkan ilmu shahih berarti meremehkan warisan para nabi, dan ini merupakan indikasi serius penyimpangan hati.
2. Khurafat: Simbol Kesesatan yang Dibungkus Spiritualitas
Khurafat adalah keyakinan atau praktik agama tanpa dasar wahyu, bahkan sering bertentangan dengan akal sehat dan nash yang jelas. Ironisnya, khurafat sering dibungkus dengan istilah “karamah”, “rahasia langit”, atau “ilmu khusus”.
Rasulullah ﷺ memperingatkan:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami yang tidak berasal darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)³
Ketika khurafat dibanggakan dan disebarkan, itu bukan tanda kedalaman spiritual, melainkan kebodohan yang dirayakan.
3. Membenci Kebenaran: Tanda Dicabutnya Hidayah
Salah satu ciri paling berbahaya adalah membenci ilmu shahih karena tidak sesuai hawa nafsu.
Allah Ta‘ala berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ
“Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah pun memalingkan hati mereka.”
(QS. Ash-Shaff: 5)⁴
Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa hati yang menolak dalil akan dihukum dengan ketidaksukaan terhadap kebenaran, meski telah dijelaskan secara terang⁵.
Akibatnya:
- Dalil dianggap kaku
- Ulama dituduh “tidak spiritual”
- Kebohongan dianggap “kearifan lokal”
Ini adalah tanda serius hilangnya taufik, bukan perbedaan selera dakwah.
4. Era Digital: Ujian Besar bagi Kejujuran Ilmiah
Di zaman algoritma, bukan yang benar yang paling tersebar, tetapi yang paling sensasional. Cerita mimpi, klaim bertemu Nabi, perjalanan ruh ke langit, atau angka-angka fantastis lebih mudah dipercaya daripada ayat dan hadits shahih.
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan fenomena ini:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ
“Allah tidak mencabut ilmu sekaligus, tetapi mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama…”
(HR. Bukhari dan Muslim)⁶
Ketika umat lebih percaya influencer khurafat daripada ulama ahlus sunnah, maka kebodohan menjadi pemimpin opini.
5. Jalan Selamat: Kembali kepada Ilmu dan Adab
Solusi dari fenomena ini bukan emosi, tetapi tarbiyah ilmiah:
- Mengukur kebenaran dengan dalil, bukan tokoh
- Menghidupkan budaya tabayyun
- Memuliakan ulama yang lurus di atas sunnah
- Meninggalkan majelis yang mencampur kebenaran dan kebatilan
Allah Ta‘ala berfirman:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisā’: 59)⁷
Penutup
Melecehkan ilmu shahih dan membanggakan khurafat bukan sekadar kesalahan intelektual, tetapi penyakit hati. Ia adalah tanda ketika hawa nafsu lebih dicintai daripada kebenaran, dan ketika hidayah mulai menjauh.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap tunduk kepada dalil, mencintai ilmu, dan membenci kebatilan meski dibungkus jubah spiritualitas.
Footnote
- Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Mujādilah: 11
- HR. Abu Dawud no. 3641; Tirmidzi no. 2682
- HR. Bukhari no. 2697; Muslim no. 1718
- Tafsir Ath-Thabari, QS. Ash-Shaff: 5
- Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 7/284
- HR. Bukhari no. 100; Muslim no. 2673
- Tafsir As-Sa‘di, QS. An-Nisā’: 59
Wallahu A'lam


Posting Komentar