Implementasi Isra’ Mi‘raj: Peningkatan Hablum minallāh dan Hablum minannās



Implementasi Isra’ Mi‘raj: Peningkatan Hablum minallāh dan Hablum minannās

Refleksi Tauhid, Shalat, dan Tanggung Jawab Sosial Umat

Pendahuluan

Peristiwa Isra’ Mi‘raj bukan sekadar mukjizat perjalanan Nabi ﷺ, tetapi manhaj peradaban yang memadukan dimensi tauhid dan ibadah (vertikal) dengan kepedulian sosial dan kemanusiaan (horizontal). Umat yang hanya berhenti pada kisah spektakuler tanpa implementasi praktis, sejatinya belum menangkap pesan utama Isra’ Mi‘raj.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kehormatan manusia hanya terwujud ketika hubungan dengan Allah dan sesama manusia berjalan seimbang:

“…Mereka ditimpa kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia…”
(QS. Āli ‘Imrān [3]: 112)¹


I. Indikator Hablum minallāh dalam Isra’ Mi‘raj

1. Tauhid Murni: Dimulai dengan “Subḥānalladzī Asrā…”

Isra’ Mi‘raj dibuka dengan tasbih, penegasan kesucian dan keagungan Allah dari segala sekutu dan keterbatasan makhluk.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 1)²

Makna implementatif:

  • Isra’ Mi‘raj adalah pelajaran tauhid sebelum ibadah.
  • Tidak ada Mi‘raj tanpa tauhid, dan tidak ada tauhid yang sah bila tercemar syirik, kultus individu, atau mitologisasi berlebihan.
  • Penyebutan ‘abdihi (hamba-Nya) menegaskan bahwa derajat tertinggi manusia adalah kehambaan, bukan klaim nasab, karamah palsu, atau gelar spiritual.

2. Shalat: Buah Utama Mi‘raj

Satu-satunya kewajiban syariat yang diterima langsung tanpa perantara bumi adalah shalat.

فُرِضَتِ الصَّلَاةُ خَمْسِينَ صَلَاةً
“Shalat diwajibkan (awal mulanya) lima puluh kali…”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)³

Shalat menjadi indikator paling konkret ḥablum minallāh, karena:

  • Shalat adalah mi‘rajnya orang beriman.
  • Shalat memelihara tauhid dan mencegah kerusakan moral.

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45)⁴

Implikasi kontemporer:
Shalat yang benar akan melahirkan pribadi jujur, amanah, dan peduli sosial. Shalat yang tidak berdampak sosial patut dipertanyakan kualitasnya.


II. Indikator Hablum minannās dalam Isra’ Mi‘raj

1. Masjid sebagai Pusat Peradaban, Bukan Sekadar Ritual

Isra’ dimulai dari Masjidil Haram dan berakhir di Masjidil Aqsha, bukan istana, bukan pasar, bukan pusat kekuasaan.

“…dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya…”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 1)²

Makna implementatif:

  • Masjid adalah pusat ibadah, ilmu, solidaritas sosial, dan advokasi umat.
  • Menghidupkan masjid berarti menghidupkan ḥablum minannās: pendidikan, zakat, infak, pelayanan dhu‘afa, dan pembelaan terhadap masalah umat.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ…
“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh…”
(HR. Muslim)⁵

Masjid yang hanya ramai ritual tapi sunyi dari kepedulian sosial adalah pengkhianatan terhadap spirit Isra’ Mi‘raj.


2. Menolong yang Haus: Teladan Jibril

Dalam riwayat Mi‘raj, Nabi ﷺ ditawari beberapa minuman, dan Jibril mengarahkan beliau kepada yang paling tepat (susu). Ini bukan sekadar simbol fitrah, tetapi isyarat pelayanan dan penyelamatan manusia.

Islam secara tegas menjadikan menolong orang kehausan sebagai amal puncak kemanusiaan:

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ
“Pada setiap makhluk yang bernyawa terdapat pahala (jika ditolong).”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)⁶

Bahkan dalam hadis lain:

“Seorang laki-laki memberi minum anjing yang kehausan, maka Allah mengampuninya.”
(HR. al-Bukhārī)⁷

Implementasi kekinian:

  • Membantu air bersih, pangan, kesehatan, pendidikan.
  • Advokasi kemanusiaan tanpa diskriminasi.
  • Kepedulian sosial adalah bukti keimanan, bukan agenda tambahan.

Penutup: Mi‘raj sebagai Jalan Transformasi

Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa iman tanpa shalat adalah rapuh, dan shalat tanpa kepedulian sosial adalah kosong. Hablum minallāh melahirkan ketaatan, ḥablum minannās melahirkan kemanusiaan. Keduanya tidak boleh dipisahkan.

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Aḥmad)⁸

Maka, implementasi sejati Isra’ Mi‘raj adalah lahirnya pribadi yang lurus tauhidnya, khusyuk shalatnya, aktif memakmurkan masjid, dan ringan tangan menolong sesama.


Catatan Kaki

  1. QS. Āli ‘Imrān [3]: 112.
  2. QS. Al-Isrā’ [17]: 1.
  3. HR. al-Bukhārī no. 349, Muslim no. 162.
  4. QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45.
  5. HR. Muslim no. 2586.
  6. HR. al-Bukhārī no. 2363, Muslim no. 2244.
  7. HR. al-Bukhārī no. 3321.
  8. HR. Aḥmad no. 12420, hasan.

Wallahu A'lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama