Isra’ Mi’raj dalam Tiga Dimensi: Bathiniyah, Israiyah, dan Ilahiyah
Pendekatan Dakwah Ilmiah Kontemporer
Pendahuluan
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar perjalanan fisik lintas ruang dan langit, melainkan peristiwa multidimensional yang sarat makna ruhani, sosial, dan teologis. Reduksi makna Isra’ Mi’raj hanya pada aspek mukjizat fisik akan menghilangkan pesan besar yang Allah kehendaki sebagai jawaban ilahiyah atas krisis kemanusiaan, tekanan dakwah, dan pembentukan peradaban Islam.
Dalam perspektif dakwah ilmiah kontemporer, Isra’ Mi’raj dapat dipahami dalam tiga dimensi integral:
- Dimensi Bathiniyah (internal-spiritual)
- Dimensi Israiyah (sosial-peradaban)
- Dimensi Ilahiyah (teologis-transendental)
Pendekatan ini selaras dengan Al-Qur’an, Sunnah, serta analisis para ulama sirah dan tafsir klasik maupun kontemporer.
I. Dimensi Bathiniyah: Kesedihan, Sabar, dan Shalat
1. Latar Psikologis: Tahun Kesedihan (‘Āmul Ḥuzn)
Isra’ Mi’raj terjadi setelah Nabi ﷺ mengalami tekanan batin luar biasa: wafatnya Abu Thalib dan Khadijah r.a., penolakan keras penduduk Thaif, serta intensifikasi permusuhan Quraisy. Tahun ini dikenal dalam sirah sebagai ‘Āmul Ḥuzn (tahun kesedihan).¹
Kesedihan Nabi ﷺ bukan kelemahan iman, tetapi fitrah kemanusiaan seorang rasul. Justru di sinilah tampak dimensi bathiniyah Isra’ Mi’raj sebagai jawaban Allah terhadap luka batin seorang nabi.
2. Sabar dan Shalat sebagai Solusi Ilahiyah
Allah tidak memberikan solusi berupa kemenangan instan, tetapi shalat. Inilah pesan fundamental Isra’ Mi’raj.
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
(QS. Al-Baqarah: 45)
Shalat diwajibkan dalam Mi’raj, bukan di bumi, menegaskan bahwa shalat adalah obat kesedihan, penguat jiwa, dan sumber ketenangan batin.²
3. Relevansi Kontemporer
Di era modern, banyak umat Islam mengalami:
- depresi,
- krisis identitas,
- kelelahan dakwah,
- tekanan sosial-politik.
Isra’ Mi’raj menegaskan bahwa solusi utama krisis batin bukan hiburan, tetapi ibadah yang benar dan sabar yang lurus.
II. Dimensi Israiyah: Perjalanan Malam dan Pusat Peradaban
1. Isra’: Dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha
Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…”
(QS. Al-Isra’: 1)
Isra’ bukan perjalanan acak, melainkan terarah secara geopolitik dan peradaban: dari Masjid Haram (pusat tauhid) menuju Masjid Aqsha (pusat risalah para nabi).³
2. Masjid sebagai Pusat Aktivitas Umat
Isra’ Mi’raj menegaskan fungsi masjid bukan hanya tempat ritual, tetapi:
- pusat ilmu,
- pusat kepemimpinan,
- pusat dakwah,
- pusat pembebasan umat.
Rasulullah ﷺ memimpin para nabi shalat di Masjid Aqsha, simbol kepemimpinan Islam atas seluruh risalah tauhid.⁴
3. Kritik Sosial Kontemporer
Ketika masjid hari ini direduksi hanya menjadi:
- tempat seremonial,
- ajang politik pragmatis,
- atau sekadar simbol identitas,
maka ruh Isra’ telah ditinggalkan. Israiyah mengajarkan bahwa kebangkitan umat dimulai dari masjid yang hidup dan berfungsi.
III. Dimensi Ilahiyah: Penguatan Iman dan Penyaksian Kebesaran Allah
1. Mi’raj: Pengangkatan Spiritual dan Teologis
Mi’raj adalah fase Ilahiyah tertinggi: Nabi ﷺ diangkat menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha.
لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ
“Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda terbesar Tuhannya.”
(QS. An-Najm: 18)
Tujuan utama Mi’raj bukan wisata langit, tetapi penguatan iman melalui penyaksian ayat-ayat Allah.⁵
2. Tauhid sebagai Inti Mi’raj
Mi’raj menegaskan bahwa:
- iman tidak dibangun atas logika semata,
- tetapi atas wahyu, ketundukan, dan kepercayaan kepada Allah.
Abu Bakar r.a. digelari Ash-Shiddiq karena menerima peristiwa ini tanpa ragu. Inilah standar iman sejati.⁶
3. Tantangan Rasionalisme Berlebihan
Di era modern, sebagian umat terjebak:
- menakar iman dengan sains semata,
- menolak hal ghaib,
- mengukur agama dengan akal liberal.
Dimensi Ilahiyah Isra’ Mi’raj meluruskan bahwa iman sejati adalah tunduk kepada kebesaran Allah di atas segala logika manusia.
Penutup: Integrasi Tiga Dimensi
Isra’ Mi’raj bukan sekadar sejarah, tetapi manhaj hidup:
| Dimensi | Pesan Utama | Implementasi |
|---|---|---|
| Bathiniyah | Sabar & Shalat | Ketahanan jiwa |
| Israiyah | Masjid & Peradaban | Kebangkitan umat |
| Ilahiyah | Tauhid & Iman | Keteguhan akidah |
Barang siapa memisahkan salah satu dimensi ini, maka ia telah mereduksi makna Isra’ Mi’raj. Kesempurnaan Islam terletak pada integrasi ruhani, sosial, dan teologis.
Catatan Kaki (Footnote)
- Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah, jilid 2.
- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zād al-Ma‘ād.
- Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Isra’: 1.
- HR. Muslim no. 172; Ahmad no. 16042.
- Fakhruddin ar-Razi, Mafātīḥ al-Ghaib, tafsir QS. An-Najm.
- HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dinilai sahih.
Wallahu A'lam


Posting Komentar