‘ĀMUL ḤUZN: DARI KESEDIHAN BUMI MENUJU PENGHIBURAN LANGIT



‘ĀMUL ḤUZN: DARI KESEDIHAN BUMI MENUJU PENGHIBURAN LANGIT

Refleksi Sirah Nabawiyah dan Keteguhan Dakwah Sepanjang Zaman


Pendahuluan

Tahun ke-10 kenabian dikenal dalam literatur sirah sebagai ‘Āmul Ḥuzn (Tahun Kesedihan). Pada fase ini, Nabi Muhammad ﷺ kehilangan dua penopang terbesar dakwahnya. Namun justru dari titik terendah inilah Allah ﷻ menurunkan penghiburan agung melalui peristiwa Isra’ dan Mi‘raj.


1. Wafatnya Abu Thalib: Hilangnya Pelindung Sosial

Abu Thalib wafat pada bulan Rajab tahun ke-10 kenabian. Setelah itu, tekanan Quraisy kepada Nabi ﷺ semakin keras dan terbuka.¹

Dalil Al-Qur’an (Penguatan Makna Ujian Dakwah):

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata: ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji?”
(QS. Al-‘Ankabūt: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa hilangnya perlindungan duniawi adalah bagian dari sunnatullah dalam perjuangan iman.


2. Wafatnya Khadijah: Hilangnya Penopang Emosional dan Ekonomi

Khadijah binti Khuwailid radhiyallāhu ‘anhā wafat pada 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian. Beliau adalah orang pertama yang beriman dan pendukung utama dakwah Nabi ﷺ.²

Dalil Hadis (Keutamaan Khadijah):

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ
“Sebaik-baik wanita pada masanya adalah Maryam, dan sebaik-baik wanita pada masanya adalah Khadijah.”
(HR. al-Bukhari)

Wafatnya Khadijah bukan sekadar kehilangan istri, tetapi hilangnya sumber ketenangan batin Nabi ﷺ.


3. ‘Āmul Ḥuzn: Kesedihan yang Diakui Syariat

Dua musibah besar dalam satu tahun menjadikan tahun ke-10 kenabian disebut ‘Āmul Ḥuzn.³ Islam tidak mengharamkan kesedihan, namun melarang keputusasaan.

Dalil Al-Qur’an:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamu paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.”
(QS. Āli ‘Imrān: 139)


4. Perjalanan ke Thaif: Ikhtiar di Tengah Luka

Pada bulan Syawwal tahun ke-10 kenabian, Nabi ﷺ pergi ke Thaif untuk berdakwah. Namun beliau justru ditolak dan dilempari batu hingga berdarah.⁴

Doa Nabi ﷺ di Thaif:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ…
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku, dan hinanya aku di hadapan manusia…”
(HR. al-Baihaqi)

Doa ini menunjukkan puncak ketundukan dan keikhlasan dakwah.


5. Isra’ Mi‘raj: Penghiburan Langit Setelah Penolakan Bumi

Mayoritas ulama berpendapat Isra’ Mi‘raj terjadi malam 27 Rajab tahun ke-11 kenabian, sebagai penghiburan ilahi setelah rangkaian ujian berat.⁵

Dalil Al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…”
(QS. Al-Isrā’: 1)

Dalil Hadis (Kewajiban Shalat):

فَفُرِضَتْ عَلَيَّ الصَّلَاةُ خَمْسِينَ صَلَاةً… فَجُعِلَتْ خَمْسًا
“Maka diwajibkan atasku shalat lima puluh waktu… lalu dijadikan lima waktu.”
(HR. Muslim)

Shalat menjadi jawaban langit atas luka dakwah di bumi.


Penutup: Relevansi Dakwah Kontemporer

‘Āmul Ḥuzn mengajarkan bahwa:

  • Kesedihan bukan tanda kegagalan
  • Dakwah harus terus berjalan meski tanpa dukungan manusia
  • Shalat adalah sumber daya tahan spiritual pejuang kebenaran

Siapa yang bersabar di bumi, akan dikuatkan dari langit.


Footnote (Catatan Kaki)

  1. Ibnu Hisyam, As-Sīrah an-Nabawiyyah, jilid 1, hlm. 419; Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jilid 3, hlm. 120.
  2. Ibnu Sa‘d, Ath-Thabaqāt al-Kubrā, jilid 8, hlm. 19; al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 3432.
  3. Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jilid 3, hlm. 122.
  4. Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, no. 18730; al-Baihaqi, Dalā’il an-Nubuwwah, jilid 2.
  5. Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bāri, jilid 7, hlm. 242; an-Nawawi, Syarḥ Shahih Muslim, jilid 2, hlm. 209.

Wallahu A'lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama