Empat Kepalsuan yang Mengancam Indonesia: Dzuriyah Palsu, Pejabat Palsu, Ijazah Palsu, dan Doktrin Palsu



Empat Kepalsuan yang Mengancam Indonesia:

Dzuriyah Palsu, Pejabat Palsu, Ijazah Palsu, dan Doktrin Palsu

(Buletin Dakwah Ilmiah Kontemporer)


Pendahuluan

Salah satu sebab utama rusaknya sebuah bangsa bukan semata karena kemiskinan atau kekuatan musuh eksternal, melainkan karena kepalsuan yang dilembagakan dan dibiarkan. Islam memandang kejujuran (ṣidq) sebagai fondasi iman dan peradaban, sedangkan kebohongan (kadhib) adalah akar kehancuran individu dan masyarakat.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ… وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga… dan sesungguhnya kebohongan membawa kepada kefajiran, dan kefajiran membawa ke neraka.”¹

Dalam konteks Indonesia kontemporer, terdapat empat bentuk kepalsuan sistemik yang nyata-nyata mengancam agama, negara, dan masa depan generasi.


1. Dzuriyah Palsu: Memalsukan Nasab atas Nama Agama

Dzuriyah Nabi ﷺ adalah kehormatan yang dijaga ketat dalam Islam. Nasab bukan klaim spiritual, tetapi fakta syar‘i dan historis yang harus dibuktikan dengan sanad nasab yang sahih.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ
“Barang siapa mengaku kepada selain ayahnya, maka ia dilaknat.”²

Pemalsuan dzuriyah bukan sekadar kebohongan pribadi, melainkan:

  • Merusak akidah umat
  • Melahirkan kultus individu
  • Menjadi alat legitimasi kekuasaan dan ekonomi
  • Menodai kemurnian Ahlul Bait yang sejati

Ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa nasab tidak ditetapkan dengan mimpi, karamah, atau pengakuan lisan, tetapi dengan dokumen, silsilah tersambung, dan pengakuan ahli nasab.³


2. Pejabat Palsu: Kekuasaan Tanpa Amanah

Kepemimpinan dalam Islam adalah amanah berat, bukan sekadar jabatan administratif. Ketika jabatan diraih melalui kebohongan, manipulasi, atau pemalsuan identitas dan kompetensi, maka kehancuran menjadi keniscayaan.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak.” (QS. An-Nisā’: 58)

Pejabat palsu melahirkan:

  • Kebijakan zalim
  • Korupsi struktural
  • Ketidakadilan hukum
  • Hilangnya kepercayaan publik

Dalam fiqh siyasah, pemimpin yang naik dengan kebatilan tidak memiliki legitimasi moral meski sah secara administratif.⁴


3. Ijazah Palsu: Kebohongan Ilmiah yang Merusak Bangsa

Ilmu dalam Islam dibangun di atas kejujuran, sanad, dan amanah keilmuan. Pemalsuan ijazah adalah bentuk dusta ilmiah yang berbahaya karena melahirkan otoritas palsu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa menipu kami, maka ia bukan bagian dari kami.”⁵

Dampak ijazah palsu:

  • Kompetensi semu
  • Kebijakan berbasis kebodohan
  • Rusaknya dunia pendidikan
  • Hilangnya keberkahan ilmu
  • Timbulnya kebohongan publik

Para ulama menegaskan bahwa ijazah hanyalah alat administrasi, bukan sumber legitimasi hakiki. Legitimasi ilmu terletak pada kebenaran, kejujuran, dan pengamalan.⁶

Meski pun ijazah hanya alat administrasi namun ijazah palsu sangat merusak kejujuran dan kebenaran.


4. Doktrin Palsu: Kesesatan yang Dibungkus Retorika

Doktrin palsu adalah ajaran menyimpang yang dikemas dengan bahasa agama, spiritualitas, dan klaim supranatural. Ia paling berbahaya karena merusak dari dalam.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ
“Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan.” (QS. Al-Baqarah: 42)

Ciri doktrin palsu:

  • Mengunggulkan karamah di atas syariat
  • Mengklaim wahyu non-nabi
  • Meremehkan Al-Qur’an dan Sunnah
  • Meminta ketaatan buta kepada tokoh

Imam asy-Syāṭibī menegaskan bahwa setiap ajaran baru dalam agama yang tidak memiliki landasan syar‘i adalah kesesatan, meski dibungkus niat baik.⁷


Penutup

Empat kepalsuan ini saling berkaitan dan saling menguatkan. Dzuriyah palsu melahirkan otoritas palsu, pejabat palsu membutuhkan ijazah palsu, dan semuanya dipertahankan oleh doktrin palsu.

Solusi Islam bukan revolusi emosional, melainkan:

  • Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah
  • Menghidupkan ilmu dengan sanad
  • Menegakkan kejujuran
  • Melawan kepalsuan dengan hujjah ilmiah

قُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ
“Katakanlah: telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan.” (QS. Al-Isrā’: 81)


Catatan Kaki (Footnote)

  1. HR. al-Bukhārī no. 6094; Muslim no. 2607.
  2. HR. al-Bukhārī no. 6766; Muslim no. 63.
  3. Lihat: Ibn Ḥazm, Jamharat Ansāb al-‘Arab, Beirut: Dār al-Ma‘rifah.
  4. Al-Māwardī, Al-Aḥkām as-Sulṭāniyyah, Kairo: Dār al-Ḥadīth.
  5. HR. Muslim no. 101.
  6. Al-Khaṭīb al-Baghdādī, Al-Jāmi‘ li Akhlāq ar-Rāwī wa Ādāb as-Sāmi‘.
  7. Asy-Syāṭibī, Al-I‘tiṣām, Beirut: Dār Ibn ‘Affān.

Wallahu A'lam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama