3 Penyebab Insecure: Lemahnya Tauhid, Qana’ah, dan Pemahaman terhadap Takdir Allah
Pendahuluan
Fenomena insecure (rasa tidak aman, minder, takut kalah, dan merasa tidak berharga) semakin menguat di tengah masyarakat modern. Ia tidak hanya muncul karena tekanan sosial, ekonomi, atau media digital, tetapi juga berakar pada problem spiritual. Dalam perspektif dakwah Islam, insecure bukan semata persoalan psikologis, melainkan indikasi kerapuhan iman dan worldview tauhid.
Buletin ini menegaskan bahwa terdapat tiga sebab utama yang paling mendasar dari fenomena insecure, yaitu: lemahnya tauhid, hilangnya qana’ah, dan dangkalnya pemahaman terhadap takdir Allah.
1. Lemahnya Tauhid: Ketergantungan pada Penilaian Manusia
Tauhid yang lemah menjadikan seseorang lebih takut kepada makhluk daripada Khaliq, lebih sibuk mengejar validasi manusia dibanding ridha Allah. Inilah akar insecure yang paling fundamental.
Allah ﷻ berfirman:
﴿أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ﴾
“Bukankah Allah itu cukup bagi hamba-Nya?”
(QS. Az-Zumar: 36)
Ketika keyakinan bahwa Allah Maha Mencukupi (al-Kāfī) melemah, maka:
- Harga diri ditentukan oleh likes, status sosial, dan pengakuan manusia.
- Kegagalan kecil terasa sebagai kehancuran total.
- Perbandingan sosial menjadi sumber kegelisahan batin.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ»
“Barang siapa mencari ridha Allah meski manusia murka, Allah akan meridhainya.”¹
Insecure adalah buah dari tauhid yang terpecah: sebagian berharap pada Allah, sebagian lagi menggantungkan harga diri kepada manusia.
2. Hilangnya Qana’ah: Ketidakpuasan yang Tak Pernah Usai
Qana’ah bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kepuasan hati terhadap ketentuan Allah setelah ikhtiar maksimal. Hilangnya qana’ah melahirkan:
- Perasaan selalu kurang,
- Iri terhadap kelebihan orang lain,
- Hidup dalam perbandingan tanpa akhir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
“Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta, tetapi kaya adalah kayanya jiwa.”²
Orang yang tidak qana’ah:
- Mudah insecure melihat pencapaian orang lain,
- Selalu merasa tertinggal,
- Rentan stres dan putus asa meski secara materi cukup.
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menegaskan:
“Qana’ah adalah harta yang tidak akan pernah habis.”³
3. Lemahnya Pemahaman terhadap Takdir Allah
Banyak orang beriman kepada takdir secara lisan, namun belum tunduk secara pemahaman dan sikap. Akibatnya, kegagalan dianggap bukti ketidakadilan Allah, dan keterbatasan diri dianggap aib.
Allah ﷻ berfirman:
﴿مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ﴾
“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.”
(QS. At-Taghābun: 11)
Pemahaman takdir yang benar melahirkan:
- Ketenangan batin,
- Keberanian mencoba tanpa takut gagal,
- Keyakinan bahwa nilai diri tidak runtuh oleh hasil duniawi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ»
“Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak akan pernah menimpamu.”⁴
Insecure muncul ketika seseorang menyalahkan dirinya atas sesuatu yang memang bukan takdirnya, dan lupa bahwa Allah Maha Bijaksana dalam pembagian.
Penutup: Insecure Bukan Takdir, Tapi Gejala
Islam tidak mengajarkan umatnya hidup dalam rasa rendah diri dan ketakutan berlebihan. Insecure bukan takdir permanen, melainkan gejala dari penyakit iman yang bisa disembuhkan dengan:
- Penguatan tauhid,
- Latihan qana’ah,
- Pendalaman iman kepada takdir Allah.
Barang siapa mengenal Allah dengan benar, maka ia akan mengenal dirinya secara proporsional: tidak sombong, tidak minder, dan tidak rapuh.
Catatan Kaki (Footnote)
- HR. At-Tirmidzi, no. 2414; dinilai hasan.
- HR. Al-Bukhari, no. 6446; Muslim, no. 1051.
- Ibnul Qayyim, Al-Fawā’id, Dar Ibn Al-Jauziyyah.
- HR. At-Tirmidzi, no. 2516; shahih.
Wallahu A'lam


Posting Komentar