Mencegah Insecure dalam Perspektif Islam
Tauhid sebagai Penjaga Harga Diri di Era Media Sosial
Pendahuluan
Fenomena insecure—merasa rendah diri, minder, tidak berharga, takut tertinggal—menjadi problem serius umat Islam kontemporer, terutama di era media sosial. Islam memandang insecure bukan sekadar gangguan psikologis, melainkan penyakit hati (amrāḍ al-qulūb) yang bersumber dari lemahnya tauhid, qana’ah, dan pemahaman terhadap takdir Allah.[^1]
Media sosial memperparah kondisi ini dengan menciptakan standar palsu kemuliaan: popularitas, validasi publik, dan pencitraan. Akibatnya, banyak orang—termasuk aktivis dakwah—mengalami kegelisahan batin meskipun tampak “berhasil” di hadapan manusia.
1. Tauhid: Pondasi Utama Anti-Insecure
Ketergantungan pada penilaian manusia adalah tanda lemahnya tauhid.
Allah SWT berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah itu cukup bagi hamba-Nya?”
(QS. Az-Zumar: 36)
Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini adalah jaminan kecukupan Allah bagi hamba yang bertauhid dan bertawakal, sehingga tidak pantas baginya merasa hina karena makhluk.[^2]
➡️ Insecure muncul ketika manusia menggantungkan nilai dirinya pada makhluk, bukan pada Allah.
2. Membandingkan Takdir: Akar Insecure
Budaya membandingkan hidup—yang sangat diproduksi oleh medsos—adalah sebab utama hilangnya syukur.
Rasulullah ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ…
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat yang di atas kalian.”
(HR. Muslim no. 2963)
An-Nawawi menyatakan bahwa hadis ini adalah obat qana’ah dan penawar kegelisahan jiwa.[^3]
3. Standar Nilai Diri dalam Islam vs Standar Media Sosial
Islam menolak standar duniawi (fisik, harta, jabatan, popularitas).
Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
(QS. Al-Hujurat: 13)
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini membatalkan seluruh standar jahiliah dalam menilai manusia.[^4]
📌 Media sosial mengganti takwa dengan:
- Like
- View
- Followers
Inilah standar palsu kemuliaan yang melahirkan insecure massal.
4. Meremehkan Diri = Tidak Ridha pada Ciptaan Allah
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
(QS. At-Tin: 4)
Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa mencela diri tanpa dasar syar’i termasuk su’uzhan kepada Allah.[^5]
➡️ Minder berlebihan adalah bentuk protes batin terhadap takdir.
5. Insecure, Hasad, dan Krisis Qana’ah
Jika dibiarkan, insecure akan berkembang menjadi hasad.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ…
(HR. Abu Dawud no. 4903)
Ibn Rajab menjelaskan bahwa hasad muncul karena tidak ridha terhadap pembagian Allah.[^6]
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
(HR. Muslim no. 1054)
Ibnul Qayyim menyebut qana’ah sebagai kekayaan sejati hati.[^7]
6. Media Sosial sebagai Mesin Produksi Insecure
Algoritma medsos menampilkan:
- Hasil tanpa proses
- Kehidupan terbaik tanpa luka
- Pencitraan tanpa realitas
Allah SWT memperingatkan:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ…
(QS. Thaha: 131)
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai larangan pandangan kagum yang melahirkan iri dan minder.[^8]
7. Budaya Validasi: Penyakit Like dan Followers
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ طَلَبَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ…
(HR. Tirmidzi no. 2414)
Ibn Rajab menyebut fenomena ini sebagai ḥubb al-madḥ (cinta pujian) yang merusak amal dan menekan jiwa.[^9]
➡️ Insecure di medsos bukan karena kurang nilai, tetapi karena salah kiblat penilaian.
8. Insecure di Kalangan Aktivis Dakwah
Fenomena yang ironis:
- Minder karena dakwah tidak viral
- Iri pada dai populer
- Amal diukur engagement
Rasulullah ﷺ bersabda:
رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَرَ…
(HR. Muslim no. 2622)
➡️ Kemuliaan di sisi Allah tidak identik dengan popularitas.
9. Insecure Spiritual dan Pencitraan Ibadah
Media sosial melahirkan:
- Riya’ halus
- Pamer ibadah
- Merasa iman rendah karena tidak tampil
Al-Ghazali menegaskan bahwa riya’ sering berakar dari rasa tidak aman terhadap penilaian manusia.[^10]
Allah SWT berfirman:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
(QS. Az-Zumar: 3)
10. Solusi Islam Menghadapi Insecure di Era Digital
- Luruskan niat: Allah sebagai tujuan
- Batasi konsumsi medsos yang memicu iri
- Perbanyak amal tersembunyi
- Dzikir dan doa sebagai terapi hati
Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Doa Nabi ﷺ:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
(HR. Bukhari no. 6369)
Penutup
Insecure bukan takdir, tetapi penyakit hati yang bisa disembuhkan.
Islam membebaskan manusia dari:
- Perbudakan opini publik
- Standar palsu media sosial
- Ketergantungan pada pujian
Mukmin yang lurus tauhidnya tidak runtuh oleh celaan dan tidak melambung oleh pujian.
Footnote / Catatan Kaki
[^1]: Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz III.
[^2]: Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, QS. Az-Zumar: 36.
[^3]: An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz XVIII.
[^4]: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, QS. Al-Hujurat: 13.
[^5]: Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, Juz X.
[^6]: Ibn Rajab al-Hanbali, Jāmi‘ al-‘Ulūm wal-Hikam.
[^7]: Ibnul Qayyim, Al-Fawā’id.
[^8]: Ibnu Katsir, Tafsir, QS. Thaha: 131.
[^9]: Ibn Rajab, Jāmi‘ al-‘Ulūm wal-Hikam.
[^10]: Al-Ghazali, Ihyā’, Bab Riya’ dan ‘Ujub.
Wallahu A'lam


Posting Komentar