Rusak dan Sesat: Mengunggulkan Kewalian dari Kenabian, Mengunggulkan Karamah dari Mukjizat



Rusak dan Sesat: Mengunggulkan Kewalian dari Kenabian, Mengunggulkan Karamah dari Mukjizat

(Buletin Dakwah Ilmiah Akademik Kontemporer)

Pendahuluan

Di tengah maraknya dakwah populer dan spiritualisme instan, muncul kecenderungan penyimpangan epistemologis dan teologis, yaitu mengunggulkan kewalian di atas kenabian serta mengunggulkan karamah di atas mukjizat. Fenomena ini tidak sekadar kekeliruan metodologis, tetapi telah dikategorikan oleh para ulama sebagai kerusakan akidah (fasād al-‘aqīdah) dan kesesatan (ḍalāl) karena bertentangan langsung dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah.

Buletin ini mengkaji persoalan tersebut secara ilmiah, akademik, dan argumentatif berbasis Al-Qur’an, Sunnah, dan pendapat ulama mu‘tabar.


I. Kesalahan Fatal Mengunggulkan Kewalian atas Kenabian

1. Kenabian adalah Maqām Tertinggi dalam Agama

Dalam Islam, kenabian (an-nubuwwah) adalah maqām tertinggi yang Allah berikan kepada manusia pilihan-Nya. Tidak ada satu pun wali yang lebih utama dari seorang nabi, apalagi Rasul.

Allah berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka akan bersama orang-orang yang Allah beri nikmat: para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.”
*(QS. an-Nisā’: 69)*¹

Ayat ini secara tartīb (hierarki) menempatkan nabi di posisi tertinggi, lalu shiddiqin, syuhada, dan shalihin (wali).

2. Semua Wali Wajib Mengikuti Nabi

Definisi wali dalam Islam bukanlah sosok independen dengan otoritas spiritual tersendiri, melainkan orang beriman dan bertakwa yang mengikuti Rasul.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ۝ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
“Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut dan sedih, yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa.”
*(QS. Yūnus: 62–63)*²

Ibnu Taimiyah menegaskan:

*“Setiap wali Allah pasti mengikuti Rasul, dan siapa yang mengklaim wali tetapi tidak mengikuti Rasul, maka ia adalah wali setan.”*³

Maka mengunggulkan wali di atas nabi berarti membatalkan definisi wali itu sendiri.


II. Mengunggulkan Karamah dari Mukjizat: Kekeliruan Akidah

1. Mukjizat Lebih Tinggi dari Karamah

Mukjizat adalah kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada nabi sebagai bukti kebenaran risalah, sedangkan karamah hanyalah kemuliaan tambahan bagi wali tanpa klaim kenabian.

Imam al-Jurjānī mendefinisikan:

*“Mukjizat adalah perkara luar biasa yang disertai tantangan dan tidak dapat ditandingi.”*⁴

Sedangkan karamah:

*“Perkara luar biasa yang tampak pada wali tanpa disertai klaim kenabian.”*⁵

Dengan demikian, secara fungsi, tujuan, dan maqām, mukjizat jauh lebih tinggi daripada karamah.

2. Karamah Tidak Pernah Mengalahkan Mukjizat

Imam ath-Ṭaḥāwī menyatakan dalam ‘Aqidah Ṭaḥāwiyyah:

*“Kami membenarkan karamah para wali, namun tidak mengunggulkan mereka atas para nabi.”*⁶

Mengklaim bahwa karamah wali lebih hebat daripada mukjizat nabi berarti:

  • Merendahkan fungsi risalah,
  • Mengaburkan hujjah kenabian,
  • Membuka pintu klaim spiritual palsu.

III. Akar Penyimpangan: Tasawuf Ekstrem dan Ghuluw Spiritual

Penyimpangan ini umumnya lahir dari:

  1. Tasawuf ghuluw (ekstrem) yang memisahkan syariat dari hakikat,
  2. Pengultusan tokoh karismatik,
  3. Ketidaktahuan terhadap manhaj salaf,
  4. Budaya taklid buta atas klaim “orang dalam”, “wali besar”, atau “ahli kasyaf”.

Imam asy-Syāṭibī memperingatkan:

*“Setiap klaim hakikat yang bertentangan dengan syariat, maka ia adalah kebatilan.”*⁷


IV. Dampak Dakwah dan Sosial

Mengunggulkan wali dari nabi dan karamah dari mukjizat berdampak serius:

  • Menggeser orientasi umat dari wahyu ke figur,
  • Melegitimasi kebohongan spiritual,
  • Melahirkan kultus individu,
  • Merusak kemurnian tauhid dan ittibā‘ sunnah.

Ini bukan sekadar kesalahan wacana, tetapi ancaman terhadap akidah umat.


Penutup

Mengunggulkan kewalian di atas kenabian dan karamah di atas mukjizat adalah kerusakan akidah dan kesesatan manhaj yang ditolak oleh Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma‘ ulama. Islam memuliakan wali, tetapi hanya dalam kerangka mengikuti nabi, bukan menyainginya.

كل طريق لا يمر على محمد ﷺ فهو طريق ضلالة
“Setiap jalan yang tidak melalui Muhammad ﷺ adalah jalan kesesatan.”

Dakwah ilmiah kontemporer wajib meluruskan fenomena ini agar umat kembali kepada tauhid, sunnah, dan manhaj ilmiah Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah.


Catatan Kaki (Footnote)

  1. Al-Qur’an al-Karim, QS. an-Nisā’: 69.
  2. Al-Qur’an al-Karim, QS. Yūnus: 62–63.
  3. Ibnu Taimiyah, Al-Furqān bayna Awliyā’ ar-Raḥmān wa Awliyā’ asy-Syaithān, Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, hlm. 25.
  4. Al-Jurjānī, At-Ta‘rīfāt, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, hlm. 215.
  5. Ibid., hlm. 183.
  6. Imam ath-Ṭaḥāwī, Al-‘Aqidah ath-Ṭaḥāwiyyah, syarah Ibnu Abil ‘Izz, Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, hlm. 528.
  7. Asy-Syāṭibī, Al-I‘tiṣām, Beirut: Dār al-Ma‘rifah, jilid 1, hlm. 172.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama