Empat Imam Mazhab sebagai Sanad Ilmu: Berpedoman kepada Pendapat Mereka adalah Ilmu yang Bersanad



Empat Imam Mazhab sebagai Sanad Ilmu

Berpedoman kepada Pendapat Mereka adalah Ilmu yang Bersanad

Pendahuluan

Fenomena dakwah kontemporer menunjukkan kecenderungan sebagian penceramah dan penuntut ilmu yang merasa cukup dengan terjemahan Al-Qur’an dan hadits tanpa melalui jalur keilmuan yang mapan. Mereka sering mengklaim “langsung kepada dalil” namun mengabaikan metodologi, sanad pemahaman, dan disiplin ijtihad yang telah diwariskan para ulama. Akibatnya, muncul pemahaman keagamaan yang dangkal, kontradiktif, bahkan menyesatkan umat.

Dalam tradisi Islam Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, sanad ilmu merupakan pilar utama penjagaan agama. Salah satu bentuk sanad ilmu yang paling kokoh dan teruji adalah empat imam mazhab: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi‘i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Berpegang kepada pendapat mereka bukanlah taqlid buta, melainkan komitmen terhadap ilmu yang bersanad, metodologis, dan bertanggung jawab.


Konsep Sanad dalam Islam

Secara bahasa, sanad berarti sandaran atau penopang. Secara istilah, sanad adalah:

سلسلة الرجال الذين ينقلون العلم بعضهم عن بعض حتى ينتهي إلى مصدره

*“Rangkaian orang-orang yang menyampaikan ilmu satu sama lain hingga berujung pada sumbernya.”*°

Sanad tidak hanya berlaku pada hadis, tetapi juga pada tafsir, fikih, qira’at, tasawuf, bahkan metodologi dakwah.

Imam ‘Abdullah bin al-Mubarak (w. 181 H) berkata:

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa pun bebas berkata apa saja.”¹

Pernyataan ini menegaskan bahwa agama tanpa sanad akan berubah menjadi opini liar yang tak terkendali.


Empat Imam Mazhab sebagai Mata Rantai Sanad Ilmu

1. Kedudukan Ilmiah Empat Imam

Empat imam mazhab bukan sekadar ulama besar, melainkan pilar metodologi ijtihad dalam Islam. Mereka hidup di masa emas periwayatan hadits, belajar langsung dari tabi‘in dan murid-murid sahabat.

  • Imam Abu Hanifah (w. 150 H): murid Hammad bin Abi Sulaiman, sanad fiqih Kufah hingga Ibnu Mas‘ud.
  • Imam Malik (w. 179 H): murid Nafi‘ maula Ibnu ‘Umar, pewaris fiqih Madinah.
  • Imam asy-Syafi‘i (w. 204 H): murid Imam Malik, peletak ilmu ushul fiqh.
  • Imam Ahmad (w. 241 H): murid asy-Syafi‘i, imam hadits Ahlus Sunnah.

Dengan demikian, mazhab-mazhab fiqh adalah sanad kolektif umat Islam dalam memahami nash syariat.


Bermazhab = Berilmu secara Bersanad

Berpedoman kepada pendapat imam mazhab berarti:

  1. Berpegang kepada metodologi ijtihad yang sahih
  2. Menghormati keterbatasan diri dalam memahami nash
  3. Menghindari tafsir liar dan fatwa serampangan
  4. Menjaga kesinambungan ilmu umat

Imam an-Nawawi menegaskan:

“Mazhab para imam adalah jalan paling selamat bagi orang yang belum mencapai derajat ijtihad.”²

Karenanya, mengikuti mazhab bukan penghambat kemajuan, tetapi penjaga kemurnian agama dari kerusakan.


Kritik terhadap Anti-Mazhab dan Klaim “Langsung ke Dalil”

Gerakan anti-mazhab sering mengklaim bahwa bermazhab berarti mendahulukan manusia di atas wahyu. Klaim ini keliru dan menyesatkan. Faktanya:

  • Para imam tidak pernah memerintahkan taqlid buta
  • Mereka meletakkan kaidah istinbath yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah
  • Mengikuti mazhab berarti mengikuti hasil ijtihad ilmiah, bukan hawa nafsu

Ironisnya, banyak penolak mazhab justru bertaqlid kepada ustadz YouTube, tanpa sanad dan tanpa disiplin ilmiah.


Sanad Terkuat: Al-Qur’an dan Sunnah melalui Pemahaman Ulama

Sanad terkuat dalam Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah, namun pemahamannya tidak lepas dari sanad ulama. Imam asy-Syathibi menegaskan bahwa memahami syariat tanpa perangkat ilmu akan menjerumuskan pada bid‘ah dan kesesatan.³

Empat imam mazhab adalah jembatan emas antara wahyu dan realitas umat.


Implikasi Dakwah Kontemporer

Dakwah tanpa sanad melahirkan:

  • Klaim karamah palsu
  • Doktrin sesat
  • Fatwa instan
  • Pengkafiran dan pembid‘ahan serampangan
  • Kerusakan pemahaman umat (rusak dan sesat)

Sebaliknya, dakwah yang bersandar pada mazhab melahirkan:

  • Kerendahan hati ilmiah
  • Stabilitas hukum
  • Persatuan umat
  • Keberkahan ilmu

Penutup

Empat imam mazhab adalah sanad ilmu umat Islam. Berpedoman kepada mereka berarti menjaga agama dari kebodohan yang dibungkus dalil. Di tengah derasnya arus dakwah instan, kembali kepada mazhab bukan kemunduran, tetapi penyelamatan agama.

Barang siapa ingin selamat dalam beragama, maka berjalanlah di atas jalan ulama.


Catatan Kaki (Footnote)

0. Ibn Manzhur, Lisān al-‘Arab, Beirut: Dar Shadir.
  1. ‘Abdullah bin al-Mubarak, Muqaddimah Shahih Muslim.
  2. An-Nawawi, Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 1.
  3. Asy-Syathibi, Al-I‘tisam, jilid 1.
  4. Ibn Rajab al-Hanbali, Fadl ‘Ilm as-Salaf.
  5. Al-Baihaqi, Manaqib asy-Syafi‘i.
  6. Az-Zahabi, Siyar A‘lam an-Nubala’.



RANTAI SANAD KEILMUAN EMPAT IMAM MAZHAB

⚠️ Catatan metodologis
Yang dimaksud “lengkap” di sini adalah rantai utama dan paling masyhur dalam transmisi ilmu fikih–hadis, bukan seluruh guru yang jumlahnya ratusan. Ini sesuai standar kitab thabaqat dan manaqib.


1. Rantai Sanad Imam Abu Hanifah (w. 150 H)

Mazhab Hanafi

Rantai Utama (Ahlur Ra’yi – Kufah)

Imam Abu Hanifah an-Nu‘man

Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H)

Ibrahim an-Nakha‘i (w. 96 H)

‘Alqamah bin Qais (w. 62 H)

Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه

Rasulullah ﷺ

📌 Keterangan:

  • Ini adalah sanad fikih Kufah yang paling kuat.
  • Ibn Mas‘ud adalah sahabat besar ahli fikih dan qira’ah.
  • Abu Hanifah juga bertemu Anas bin Malik رضي الله عنه, sehingga ia termasuk tabi‘in menurut sebagian ulama.

📚 Rujukan:
Al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad;
Al-Makki, Manaqib Abi Hanifah.


2. Rantai Sanad Imam Malik bin Anas (w. 179 H)

Mazhab Maliki

Rantai Emas (Silsilat adz-Dzahab)

Imam Malik bin Anas

Nafi‘ (maula Ibn ‘Umar, w. 117 H)

Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما

Rasulullah ﷺ

📌 Keterangan:

  • Sanad ini disebut oleh Imam al-Bukhari sebagai sanad paling sahih.
  • Mazhab Malik dibangun di atas:
    • hadis,
    • atsar sahabat,
    • dan ‘amal Ahlul Madinah.

📚 Rujukan:
Al-Bukhari, Shahih;
Ibn Abdil Barr, Al-Intiqa’.


3. Rantai Sanad Imam asy-Syafi‘i (w. 204 H)

Mazhab Syafi‘i

Rantai Hijaz (Makkah–Madinah)

Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i

Imam Malik bin Anas

Nafi‘

Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما

Rasulullah ﷺ

Rantai Makkah (Ibn ‘Abbas)

Imam asy-Syafi‘i

Muslim bin Khalid az-Zanji (Mufti Makkah)

Sa‘id bin Jubair

Abdullah bin ‘Abbas رضي الله عنهما

Rasulullah ﷺ

📌 Keterangan:

  • Asy-Syafi‘i menggabungkan manhaj hadis Madinah dan ra’yu Irak.
  • Ia adalah jembatan keilmuan antara Malik dan Ahmad.

📚 Rujukan:
Al-Baihaqi, Manaqib asy-Syafi‘i.


4. Rantai Sanad Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)

Mazhab Hanbali

Rantai Hadis & Fikih

Imam Ahmad bin Hanbal

Imam asy-Syafi‘i

Imam Malik bin Anas

Nafi‘

Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما

Rasulullah ﷺ

Rantai Hadis Langsung (Multi-Sanad)

Imam Ahmad bin Hanbal

Sufyan bin ‘Uyainah

Az-Zuhri

Anas bin Malik / Sahabat lain رضي الله عنهم

Rasulullah ﷺ

📌 Keterangan:

  • Imam Ahmad meriwayatkan dari lebih 280 guru.
  • Musnad Ahmad berisi ±40.000 hadis dengan sanad.

📚 Rujukan:
Ibn al-Jawzi, Manaqib al-Imam Ahmad.


5. Sintesis: Mazhab sebagai Sanad Kolektif Umat

Maka jelas:

  • Mazhab ≠ pendapat pribadi
  • Mazhab = sanad keilmuan yang bersambung
  • Menolak mazhab = memutus sanad

📌 Semua sanad mazhab bermuara pada Rasulullah ﷺ,
bukan pada mimpi, ilham, atau klaim karamah.


Ringkasan Visual (Teks)

  • Abu Hanifah → Ibn Mas‘ud → Nabi ﷺ
  • Malik → Ibn ‘Umar → Nabi ﷺ
  • asy-Syafi‘i → Malik / Ibn ‘Abbas → Nabi ﷺ
  • Ahmad → asy-Syafi‘i → Malik → Nabi ﷺ

Penegasan Akhir (Untuk Risalah)

Empat Imam Mazhab adalah SANAD ILMU umat Islam.
Siapa yang meremehkan mereka, hakikatnya sedang meremehkan sanad menuju Rasulullah ﷺ.


Wallahu A'lam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama