Pintar Bicara Pembohong vs Pintar Bicara Pejihad
Analisis Etika Retorika dalam Perspektif Al-Qur’an, Sunnah, dan Dakwah Kontemporer
Abstrak
Kemampuan berbicara (retorika) merupakan instrumen strategis dalam dakwah Islam. Namun, kecakapan berbicara tidak selalu berbanding lurus dengan kebenaran dan ketulusan. Makalah ini membahas perbedaan mendasar antara pintar bicara pembohong dan pintar bicara pejihad (mujāhid bil-lisān) dalam perspektif Islam. Dengan pendekatan normatif-tekstual dan analisis dakwah kontemporer, makalah ini menegaskan bahwa kefasihan tanpa kejujuran merupakan bentuk fitnah intelektual, sedangkan kefasihan yang dibingkai kejujuran dan pengorbanan adalah jihad fi sabilillah.
Kata kunci: Retorika Islam, Kejujuran, Jihad Lisan, Dakwah Kontemporer, Etika Bicara
Pendahuluan
Fenomena dakwah dan ruang publik hari ini memperlihatkan maraknya figur yang fasih berbicara namun miskin integritas. Di sisi lain, terdapat pendakwah yang mungkin tidak bombastis, tetapi jujur, konsisten, dan berani menanggung risiko kebenaran. Islam sejak awal telah membedakan antara balāghah (kefasihan) dan ṣidq (kejujuran). Kefasihan tanpa kebenaran tidak bernilai ibadah, bahkan dapat menjadi alat kesesatan.
Konsep Pintar Bicara dalam Islam
Islam tidak menolak kecerdasan verbal. Nabi ﷺ adalah manusia paling fasih. Namun, kefasihan beliau selalu tunduk pada wahyu dan akhlak.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. Ucapannya tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”
*(QS. An-Najm: 3–4)*¹
Ayat ini menegaskan bahwa standar bicara mulia dalam Islam bukan pada kepintaran, tetapi ketundukan pada kebenaran ilahi.
Pintar Bicara Pembohong
Definisi
Pintar bicara pembohong adalah kemampuan verbal yang digunakan untuk:
- Menyembunyikan kebenaran
- Memutarbalikkan fakta
- Membenarkan kebatilan
- Mengelabui publik dengan logika semu
Ciri-Ciri
- Retorika emosional tanpa dasar ilmiah
- Dalil dipotong, dikontekstualkan secara manipulatif
- Inkonsistensi antara ucapan dan perbuatan
- Tujuan utama: citra, popularitas, atau kepentingan dunia
Allah ﷻ menggambarkan tipe ini:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
“Di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia mengagumkanmu, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras.”
*(QS. Al-Baqarah: 204)*²
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Manusia yang paling dibenci Allah adalah yang paling licik dalam berdebat.”
*(HR. Bukhari dan Muslim)*³
Pintar Bicara Pejihad (Mujāhid bil-Lisān)
Definisi
Pintar bicara pejihad adalah kefasihan yang digunakan untuk:
- Menyampaikan kebenaran meski pahit
- Membela agama dengan ilmu dan adab
- Meluruskan kebatilan dengan hikmah
- Siap menanggung risiko sosial dan pribadi
Rasulullah ﷺ bersabda:
جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ
“Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.”
*(HR. Abu Dawud)*⁴
Karakteristik
- Berbasis ilmu dan dalil yang utuh
- Konsisten antara ucapan dan amal
- Menghindari manipulasi emosi
- Orientasi akhirat, bukan popularitas
Allah ﷻ berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
*(QS. An-Nahl: 125)*⁵
Analisis Perbandingan
| Aspek | Pintar Bicara Pembohong | Pintar Bicara Pejihad |
|---|---|---|
| Orientasi | Dunia & citra | Akhirat & kebenaran |
| Metode | Manipulasi & sofisme | Ilmu & hikmah |
| Konsistensi | Ucapan ≠ perbuatan | Ucapan = perbuatan |
| Dampak | Kesesatan publik | Pencerahan umat |
| Nilai Syariat | Dosa & fitnah | Jihad & ibadah |
Implikasi dalam Dakwah Kontemporer
Di era media sosial:
- Pembohong tampil viral
- Pejihad sering tersingkir
Namun, viral bukan ukuran kebenaran. Imam Malik رحمه الله berkata:
*“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang memperbaiki generasi awalnya.”*⁶
Dakwah kontemporer harus mengembalikan standar:
- Ṣidq (kejujuran) di atas skill
- Amanah di atas popularitas
Kesimpulan
Islam tidak memusuhi kepintaran bicara, tetapi memerangi kebohongan yang dibungkus kefasihan. Pintar bicara pembohong adalah fitnah intelektual yang berbahaya, sedangkan pintar bicara pejihad adalah jihad peradaban. Umat wajib kritis: menilai bukan dari cara bicara, tetapi dari kebenaran, kejujuran, dan keberanian moral.
Catatan Kaki
- Al-Qur’an, QS. An-Najm: 3–4.
- Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 204.
- Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab al-Ahkam; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim.
- Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 2504.
- Al-Qur’an, QS. An-Nahl: 125.
- Malik bin Anas, Al-Muwaṭṭa’, Muqaddimah.


Posting Komentar