Ijazah Palsu, Dzuriyah Palsu, dan Doktrin Palsu: Tiga Kebohongan Besar yang Merusak Bangsa



Ijazah Palsu, Dzuriyah Palsu, dan Doktrin Palsu: Tiga Kebohongan Besar yang Merusak Bangsa

Pendahuluan

Salah satu penyakit paling berbahaya dalam kehidupan beragama dan berbangsa adalah kebohongan yang dilembagakan. Ketika kepalsuan tidak lagi sekadar kesalahan individu, tetapi berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan, pengaruh, dan ketokohan, maka kerusakan yang ditimbulkannya bersifat sistemik.

Di tengah masyarakat hari ini, setidaknya ada tiga kepalsuan besar yang saling menguatkan dan merusak sendi umat dan bangsa:

  1. Ijazah palsu (pemalsuan otoritas keilmuan),
  2. Dzuriyah palsu (pemalsuan nasab Nabi ﷺ),
  3. Doktrin palsu (pemalsuan ajaran agama).

Ketiganya bukan masalah sepele, melainkan pengkhianatan terhadap kebenaran, ilmu, dan amanah agama.


1. Ijazah Palsu: Pemalsuan Ilmu dan Otoritas

Ilmu dalam Islam tidak pernah berdiri di atas klaim kosong, tetapi di atas sanad, kejujuran, dan kompetensi. Ijazah—baik formal maupun tradisi keilmuan pesantren—adalah tanda pengakuan kapasitas, bukan sekadar kertas.

Pemalsuan ijazah berarti:

  • Mengaku alim tanpa ilmu,
  • Mengajar tanpa kelayakan,
  • Memimpin tanpa amanah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ

“Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya diniatkan untuk mencari wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk kepentingan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga.”
*(HR. Abu Dawud)*¹

Ijazah palsu bukan sekadar kebohongan administratif, tetapi penipuan publik dan pengkhianatan ilmu.


2. Dzuriyah Palsu: Pemalsuan Nasab Nabi ﷺ

Lebih berbahaya dari ijazah palsu adalah klaim palsu sebagai dzuriyah Nabi ﷺ. Sebab, ia menyentuh wilayah akidah, kehormatan Rasulullah ﷺ, dan legitimasi moral umat.

Rasulullah ﷺ bersabda dengan peringatan yang sangat keras:

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، أَوِ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Barang siapa mengaku kepada selain ayahnya, atau menisbatkan diri kepada selain nasabnya, maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.”
*(HR. al-Bukhari dan Muslim)*²

Para ulama sepakat:

  • Nasab harus dibuktikan, bukan dirasakan,
  • Tidak sah dengan mimpi, karamah, atau pengakuan sepihak,
  • Harus melalui silsilah ilmiah yang diverifikasi.

Dzuriyah palsu melahirkan elit spiritual palsu yang kebal kritik dan memanfaatkan emosi umat.


3. Doktrin Palsu: Agama Dijadikan Alat Penyesatan

Ijazah palsu memberi panggung, dzuriyah palsu memberi karisma, dan doktrin palsu menjadi senjata penyesatan massal.

Ciri doktrin palsu:

  • Mengunggulkan tokoh di atas dalil,
  • Mengalahkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan “rasa”,
  • Membungkus kesesatan dengan jargon cinta, karamah, dan toleransi palsu.

Allah ﷻ memperingatkan:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan menyembunyikan kebenaran, padahal kalian mengetahuinya.”
*(QS. Al-Baqarah: 42)*³

Doktrin palsu tidak selalu kasar, justru sering tampil lembut, emosional, dan manipulatif—tetapi hasilnya sama: umat dijauhkan dari kebenaran.


4. Dampak Sosial: Kerusakan Umat dan Bangsa

Jika dibiarkan, tiga kepalsuan ini akan melahirkan:

  • Generasi anti-ilmu tapi fanatik tokoh,
  • Rusaknya kepercayaan publik terhadap ulama sejati,
  • Konflik horizontal berbasis klaim spiritual,
  • Lumpuhnya nalar kritis umat.

Inilah kerusakan bangsa dari pintu agama.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menegaskan:

*“Kerusakan agama dan dunia seringkali bersumber dari orang yang berbicara atas nama agama tanpa ilmu.”*⁴


5. Sikap yang Wajib Ditempuh

Dakwah ilmiah kontemporer tidak boleh netral terhadap kepalsuan. Sikap yang benar adalah:

  1. Tabayyun ilmiah, bukan taqlid buta,
  2. Mengembalikan otoritas kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan ulama mu’tabar,
  3. Membongkar kepalsuan dengan adab dan hujjah,
  4. Melindungi umat dari penipuan spiritual.

Allah ﷻ berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”
*(QS. Ali ‘Imran: 110)*⁵


Penutup

Ijazah palsu merusak ilmu, dzuriyah palsu merusak kehormatan Nabi ﷺ, dan doktrin palsu merusak agama.
Jika ketiganya bersatu, maka kehancuran umat tinggal menunggu waktu.

Diam terhadap kepalsuan bukan toleransi, melainkan pengkhianatan terhadap amanah dakwah.


Catatan Kaki (Footnote)

  1. HR. Abu Dawud, no. 3664; dinilai hasan oleh al-Albani.
  2. HR. al-Bukhari, no. 6766; Muslim, no. 63.
  3. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah: 42.
  4. Ibn al-Qayyim, I‘lam al-Muwaqqi‘in, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  5. Al-Qur’an al-Karim, QS. Ali ‘Imran: 110.

Wallahu A'lam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama