SEBERAPA TUA SEBENARNYA ISLAM DI BATAHAN?


SEBERAPA TUA SEBENARNYA ISLAM DI BATAHAN?

Dari Jejak Barus, Catatan Augustin de Beaulieu 1619, hingga Arsip VOC 1693

Menelusuri Akar Islam di Pantai Barat Sumatra

Ide Kreator: Drs. Hamzah Johan


ABSTRAK

Sejarah Islam di Batahan, wilayah yang kini berada di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, sering dikaitkan dengan perkembangan gerakan Paderi pada awal abad ke-19. Kaitan tersebut penting, tetapi belum tentu menunjukkan awal mula kehadiran Islam di Batahan.

Sejumlah jejak sejarah menunjukkan bahwa kawasan Pantai Barat Sumatra telah terhubung dengan jaringan perdagangan, pelayaran, dan pertukaran budaya jauh sebelum abad ke-19. Barus merupakan salah satu simpul penting dalam jaringan tersebut. Situs-situs makam Islam kuno di Barus, khususnya Mahligai dan Papan Tinggi, sering digunakan dalam kajian mengenai awal kehadiran Islam di Sumatra. Namun, penanggalan beberapa makam tersebut masih menjadi bahan perdebatan epigrafis.

Di sisi lain, catatan perjalanan Augustin de Beaulieu pada awal abad ke-17 memberikan jejak penting mengenai Bataham, yang ditempatkan dalam jaringan kawasan Pantai Barat Sumatra. Karya Denys Lombard mengenai Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda juga menggunakan catatan perjalanan Beaulieu sebagai salah satu sumber penting.

Kemudian, dokumen VOC tanggal 29 Januari 1693 mencatat Battahan dan sejumlah pemimpin lokalnya. Salah satu nama yang menarik perhatian adalah Radja Katiep.

Apakah “Katiep” berkaitan dengan istilah khatib?

Pertanyaan tersebut membuka kemungkinan baru mengenai sejarah Islam Batahan, tetapi belum dapat dijadikan kesimpulan final.

Tulisan ini karena itu tidak berusaha menetapkan secara gegabah kapan Islam pertama kali masuk ke Batahan. Sebaliknya, tulisan ini mengajukan kerangka penelitian bahwa sejarah Islam Batahan perlu ditempatkan dalam jaringan sejarah Barus–Pantai Barat Sumatra–Natal–Batahan–Minangkabau, dan kemungkinan memiliki akar yang lebih tua daripada periode Paderi.

Kata kunci: Batahan, Bataham, Barus, Islam Nusantara, VOC, Augustin de Beaulieu, Khatib, Pantai Barat Sumatra, Paderi.


I. PERTANYAAN YANG BELUM SELESAI

Seberapa tua sebenarnya Islam di Batahan?

Pertanyaan ini penting karena sejarah masuknya Islam ke sebuah daerah hampir tidak pernah berlangsung dalam satu hari, melalui satu tokoh, atau melalui satu peristiwa.

Islamisasi biasanya merupakan proses panjang.

Pedagang datang.

Pelabuhan berkembang.

Komunitas terbentuk.

Perkawinan terjadi.

Ulama berpindah.

Elite lokal berinteraksi dengan jaringan Islam.

Kemudian ajaran Islam berkembang secara bertahap di tengah masyarakat.

Karena itu, ketika sejarah Islam Batahan selalu dimulai dari Paderi, muncul sebuah pertanyaan:

Apakah Paderi merupakan awal Islam di Batahan, atau justru salah satu fase penguatan Islam yang telah hadir sebelumnya?

Untuk menjawabnya, kita harus mundur lebih jauh.

Bukan hanya ke abad ke-19.

Tetapi ke abad ke-17.

Bahkan, jika memungkinkan, lebih jauh lagi.


II. BARUS: SALAH SATU SIMPUL PENTING PANTAI BARAT SUMATRA

Pembicaraan mengenai sejarah awal Islam di Batahan tidak dapat dipisahkan dari sejarah Barus.

Barus merupakan kawasan tua di Pantai Barat Sumatra yang terkenal karena perdagangan kapur barus.

Posisinya sebagai pelabuhan menjadikannya ruang pertemuan berbagai manusia dan kebudayaan dari kawasan Samudra Hindia.

Pedagang dari berbagai wilayah berinteraksi di sana.

Barang berpindah.

Bahasa bertemu.

Tradisi bercampur.

Dan bersama manusia serta barang, gagasan keagamaan juga dapat bergerak.

Karena itu, Barus mempunyai posisi penting dalam penelitian sejarah Islam di Sumatra.

Sejumlah publikasi bahkan menyebut Barus sebagai salah satu lokasi paling awal kehadiran Islam di Nusantara. Namun, istilah “titik nol Islam Nusantara” perlu dipahami sebagai penetapan simbolik sekaligus hasil interpretasi sejarah yang masih terbuka untuk penelitian lebih lanjut. Pada 24 Maret 2017, Barus memang diresmikan sebagai Titik Nol Peradaban Islam Nusantara.


III. MAKAM MAHLIGAI: ANTARA TRADISI SEJARAH DAN PERDEBATAN EPIGRAFI

Salah satu bukti yang paling sering dikemukakan dalam pembahasan sejarah Islam Barus adalah kompleks pemakaman Mahligai.

Di sana terdapat banyak makam dengan nisan yang memuat tulisan Arab dan Persia.

Salah satu nama yang terkenal adalah Syekh Rukunuddin.

Sejumlah sumber populer dan sebagian tulisan akademik menyebutkan bahwa makam tersebut bertarikh 48 H dan menghubungkannya dengan abad ke-7 Masehi.

Akan tetapi, penelitian epigrafis yang mengutip Claude Guillot dan Ludvik Kalus memberikan pembacaan berbeda, yaitu sekitar 800 H atau 1397 M.

Ini merupakan persoalan yang sangat penting.

Artinya, kita tidak boleh menulis:

“Makam Syekh Rukunuddin pasti wafat tahun 672 M.”

seolah-olah tidak ada perdebatan.

Yang lebih tepat:

“Makam Syekh Rukunuddin di Mahligai sering dibaca dalam tradisi lokal dan sejumlah publikasi sebagai bertarikh 48 H/abad ke-7 M, tetapi pembacaan epigrafis lain yang dikaitkan dengan penelitian Claude Guillot dan Ludvik Kalus memberikan penanggalan berbeda.”

Dengan demikian, artikel ini tetap menghargai tradisi sejarah Barus sekaligus menjaga standar penelitian ilmiah.


IV. MAKAM PAPAN TINGGI DAN JEJAK KOMUNITAS MUSLIM BARUS

Selain Mahligai, Barus memiliki kompleks makam tua lainnya, antara lain Papan Tinggi.

Makam-makam tersebut merupakan sumber penting untuk memahami sejarah komunitas Islam di Barus.

Di antara tokoh yang dikaitkan dengan kompleks makam tersebut adalah Syekh Machmud/Mahmud, yang dalam berbagai sumber dikaitkan dengan penanggalan Hijriah yang jauh lebih tua daripada periode Islamisasi Jawa yang lazim dikenal dalam sejarah populer.

Namun, sama seperti Mahligai, setiap tanggal pada inskripsi harus dibaca dengan metode epigrafi dan dibandingkan dengan penelitian lain.

Dengan kata lain:

Barus memberikan bukti arkeologis yang sangat penting, tetapi interpretasinya harus dilakukan secara kritis.


V. BARUS DAN JARINGAN PERDAGANGAN ISLAM

Yang paling penting dari Barus bukan hanya makamnya.

Tetapi posisinya dalam jaringan maritim.

Islamisasi tidak selalu dimulai dari pusat kerajaan.

Dalam banyak kasus, ia tumbuh dari pelabuhan.

Pelabuhan mempertemukan:

PEDAGANG

PELAYAR

ULAMA

KOMUNITAS

PERKAWINAN

ELITE LOKAL

MASYARAKAT

Dengan demikian, Barus dapat dipandang sebagai salah satu simpul yang sangat penting dalam penelitian mengenai pergerakan manusia, barang, dan gagasan keagamaan di Pantai Barat Sumatra.


VI. DARI BARUS MENUJU BATAHAN

Di sinilah pertanyaan tentang Batahan menjadi semakin menarik.

Jika Barus merupakan salah satu simpul penting Pantai Barat Sumatra, maka wilayah-wilayah di sekitarnya perlu dipelajari sebagai bagian dari jaringan yang sama.

Bukan berarti kita boleh langsung mengatakan:

“Islam dari Barus pasti masuk ke Batahan.”

Bukti untuk pernyataan tersebut belum tersedia.

Tetapi kita dapat mengajukan pertanyaan penelitian:

Apakah jaringan perdagangan dan mobilitas manusia yang menghubungkan Barus, Natal, Batahan, Pasaman, dan Minangkabau juga menjadi saluran bagi penyebaran Islam?

Pertanyaan ini jauh lebih ilmiah daripada menetapkan satu jalur tanpa bukti.


VII. CATATAN AUGUSTIN DE BEAULIEU: BATAHAM PADA AWAL ABAD KE-17

Salah satu temuan penting adalah nama Bataham dalam catatan perjalanan Augustin de Beaulieu.

Beaulieu melakukan perjalanan ke kawasan Asia Tenggara pada 1619–1622, dan catatannya menjadi sumber penting bagi penelitian mengenai Aceh dan Pantai Barat Sumatra. Edisi modern karya Beaulieu juga disunting dan diberi pengantar oleh Denys Lombard.

Dalam kajian mengenai masa Sultan Iskandar Muda, nama Bataham ditempatkan dalam konteks rangkaian wilayah Pantai Barat Sumatra.

Yang menarik, sumber-sumber yang membahas catatan tersebut mengaitkan Bataham bukan sekadar dengan nama tempat, tetapi juga dengan masyarakat dan aktivitas ekonomi kawasan tersebut, termasuk kamper.

Jika pembacaan sumber primer ini dapat diverifikasi secara langsung, maka nilainya sangat besar.

Karena berarti:

Pada awal abad ke-17, Bataham telah dikenal dalam jaringan geografis, ekonomi, dan politik Pantai Barat Sumatra.


VIII. BATAHAM BUKAN SEKADAR NAMA DI PETA

Ini merupakan perkembangan penting dalam penelitian.

Kita tidak hanya bertanya:

“Apakah Batahan sudah ada?”

Tetapi:

“Bagaimana dunia luar mengenal Bataham?”

Apabila catatan Beaulieu memang secara konsisten mengacu pada Bataham sebagai wilayah dan masyarakat, maka kita mendapatkan gambaran bahwa kawasan tersebut telah memiliki identitas geografis dan sosial yang dikenal oleh pelaut asing.

Ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607–1636), ketika pengaruh Aceh menjangkau berbagai kawasan di Sumatra, termasuk wilayah Pantai Barat. Sumber dari Sekretariat Majelis Adat Aceh juga mencatat bahwa Beaulieu menyebut sejumlah wilayah Pantai Barat dalam konteks kekuasaan Aceh.


IX. DARI BATAHAM 1619 MENUJU BATTAHAN 1693

Sekarang kita mempunyai dua lapisan bukti:

Awal abad ke-17

BATAHAM

dalam catatan perjalanan Beaulieu.

29 Januari 1693

BATTAHAN

dalam dokumen VOC.

Jarak waktunya lebih dari tujuh puluh tahun.

Hal ini sangat penting.

Sebab dokumen VOC 1693 tidak lagi berdiri sendirian.

Ia muncul dalam suatu rangkaian sejarah yang lebih tua.


X. DOKUMEN VOC 29 JANUARI 1693

Dokumen VOC bertanggal 29 Januari 1693 mencatat suatu persetujuan dengan para pemimpin lokal Batahan di:

“rivierkant Battahan”

— tepi Sungai Battahan.

Nama-nama yang dicatat antara lain:

  1. Ponglous Setongel alias Radja Kitchil
  2. Radja Katiep
  3. Radja Inda-Lilla
  4. Southan Mandeyros
  5. Radja Mantiko
  6. Inda Bongsoe

Dokumen ini penting karena menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-17:

  • Batahan sudah dikenal secara administratif oleh VOC;
  • terdapat elite/pemimpin lokal;
  • terjadi hubungan formal dengan pihak luar;
  • dan Batahan berada dalam jaringan politik yang lebih luas.

Namun, dokumen ini tidak boleh dibaca secara berlebihan.

Ia belum membuktikan bahwa seluruh masyarakat Batahan telah beragama Islam.


XI. RADJA KATIEP: KUNCI YANG MUNGKIN MEMBUKA BAB BARU

Dari enam nama tersebut, satu nama menjadi sangat menarik:

RADJA KATIEP

Apakah Katiep merupakan bentuk ejaan kolonial dari Khatib?

Hipotesis ini menarik karena istilah khatib dikenal luas dalam tradisi Islam Melayu.

Dalam proses pencatatan oleh juru tulis Eropa, perubahan bunyi dan ejaan dapat terjadi.

Kemungkinan:

KHATIB → KATIB → KATIP → KATIK/KOTIK → KATIEP

tidak dapat langsung ditolak.

Namun, kita juga tidak boleh langsung menyatakannya benar.

Karena bisa saja Katiep merupakan nama pribadi atau gelar lokal yang sama sekali berbeda dari khatib.

Maka posisi akademiknya harus:

Katiep = Khatib merupakan hipotesis yang menarik, tetapi belum terbukti.


XII. TRADISI “ONGKU KOTIK”

Hipotesis tersebut menjadi lebih menarik ketika dibandingkan dengan tradisi lisan masyarakat Batahan yang mengenal istilah “Ongku Kotik”.

Istilah tersebut dikaitkan dengan tokoh yang mempunyai pengetahuan agama dan kewibawaan spiritual.

Secara fonetik, hubungan:

Khatib – Katik – Kotik

memang layak diteliti.

Tetapi tradisi lisan masa kini tidak boleh secara otomatis digunakan untuk mengidentifikasi tokoh yang hidup lebih dari tiga abad lalu.

Karena itu:

tradisi lisan = petunjuk

bukan

tradisi lisan = bukti final.

Diperlukan penelitian lapangan, silsilah, manuskrip, makam, dan arsip untuk menguji hubungan tersebut.


XIII. JIKA KATIEP MEMANG BERKAITAN DENGAN KHATIB

Jika penelitian mendatang berhasil membuktikan bahwa Katiep merupakan bentuk ejaan dari Khatib, maka implikasinya sangat penting.

Artinya, pada 1693 terdapat kemungkinan seorang pemimpin lokal Batahan mempunyai gelar yang berkaitan dengan fungsi keagamaan Islam.

Dengan demikian, sejarah Islam Batahan akan memiliki jejak tertulis yang lebih tua dari Paderi.

Tetapi tetap harus dibedakan:

Bukti

“Radja Katiep” tercatat dalam dokumen.

Interpretasi

Katiep mungkin berkaitan dengan khatib.

Hipotesis lanjutan

Kehadiran gelar tersebut mungkin menunjukkan keberadaan unsur Islam di lingkungan elite Batahan.

Ketiga hal tersebut tidak boleh dicampuradukkan.


XIV. PADERI: AWAL ISLAM ATAU FASE PENGUATAN?

Sekarang kita kembali kepada pertanyaan awal.

Apakah Islam di Batahan dimulai dari Paderi?

Berdasarkan bukti yang sedang diteliti, belum tentu.

Lebih tepat jika sejarah dibagi menjadi dua kemungkinan fase:

Fase I — Akar dan kontak awal

Sebelum abad ke-19:

  • perdagangan;
  • hubungan pesisir;
  • mobilitas ulama;
  • hubungan keluarga;
  • pengaruh Barus/Natal/Minangkabau;
  • elite lokal;
  • kemungkinan gelar keagamaan.

Fase II — Penguatan dan transformasi

Awal abad ke-19:

  • gerakan Paderi;
  • pembaruan keagamaan;
  • penguatan norma Islam;
  • perubahan sosial;
  • perubahan politik.

Dengan kerangka ini:

Paderi tidak harus dipandang sebagai “awal Islam”, tetapi dapat dipahami sebagai salah satu fase penting dalam penguatan dan transformasi Islam di Batahan.


XV. RANGKAIAN SEJARAH YANG PERLU DIUJI

Untuk sementara, model penelitian dapat disusun seperti ini:

BARUS

Jejak komunitas dan makam Islam kuno

JARINGAN PERDAGANGAN PANTAI BARAT

BATAHAM

Catatan Augustin de Beaulieu, awal abad ke-17

BATAHAN/BATTAHAN

Dokumen VOC, 1693

RADJA KATIEP

Kemungkinan hubungan dengan khatib

PERKEMBANGAN ISLAM LOKAL

PADERI

Awal abad ke-19

PENGUATAN DAN TRANSFORMASI ISLAM

Ini bukan kronologi final, melainkan kerangka hipotesis penelitian.


XVI. APA YANG SUDAH BISA DIKATAKAN?

Berdasarkan sumber yang tersedia, setidaknya beberapa hal dapat dikatakan dengan tingkat keyakinan berbeda.

1. Barus merupakan situs sangat penting dalam sejarah Islam Pantai Barat Sumatra.

Ya.

Bukti arkeologis, makam, perdagangan, dan tradisi sejarah mendukung pentingnya Barus.

2. Barus merupakan satu-satunya tempat pertama masuknya Islam ke Nusantara.

Belum dapat dinyatakan secara mutlak.

Masih terdapat perdebatan mengenai bukti, penanggalan, dan lokasi awal Islamisasi Nusantara.

3. Bataham telah dikenal dunia luar pada awal abad ke-17.

Ada indikasi kuat berdasarkan catatan Beaulieu, tetapi sumber primer perlu terus diperiksa secara langsung.

4. Batahan/Battahan tercatat dalam dokumen VOC 1693.

Ya.

5. Radja Katiep adalah seorang Khatib.

Belum terbukti.

6. Islam sudah menjadi agama mayoritas Batahan pada 1693.

Belum ada bukti yang cukup.

7. Islam di Batahan mungkin lebih tua daripada Paderi.

Sangat layak dijadikan hipotesis penelitian.


XVII. PERTANYAAN BESAR BERIKUTNYA

Jika kita ingin benar-benar menulis sejarah Islam Batahan, maka penelitian berikutnya harus mencari:

Arsip VOC

  • kontrak;
  • surat;
  • laporan perjalanan;
  • daftar pemimpin;
  • laporan perdagangan;
  • dokumen keagamaan.

Arsip Prancis

  • catatan Beaulieu;
  • manuskrip asli;
  • variasi ejaan Bataham;
  • konteks perdagangan kamper.

Arsip Inggris

  • peta;
  • laporan perjalanan;
  • dokumen Natal dan Pantai Barat.

Manuskrip lokal

  • silsilah;
  • kitab;
  • surat ulama;
  • catatan kerajaan;
  • catatan masjid dan surau.

Arkeologi

  • makam tua;
  • nisan Arab;
  • masjid tua;
  • benda perdagangan;
  • keramik;
  • artefak Islam.

Tradisi lisan

  • Ongku Kotik;
  • silsilah ulama;
  • asal-usul kampung;
  • hubungan Batahan–Natal;
  • hubungan Batahan–Barus;
  • hubungan Batahan–Minangkabau.

XVIII. KESIMPULAN

Islam di Batahan mungkin jauh lebih tua daripada yang selama ini kita kira.

Tetapi sejarah tidak boleh dibangun hanya berdasarkan dugaan.

Barus memberikan konteks jaringan Islam Pantai Barat.

Catatan Augustin de Beaulieu memberikan jejak Bataham pada awal abad ke-17.

Dokumen VOC 1693 memberikan bukti tertulis mengenai Battahan dan para pemimpinnya.

Nama Radja Katiep memberikan sebuah petunjuk linguistik dan historis yang menarik.

Sedangkan Paderi memberikan gambaran mengenai fase penguatan dan transformasi Islam pada awal abad ke-19.

Karena itu, tesis yang paling aman dan sekaligus paling menarik bukan:

“Islam masuk ke Batahan tahun 1693.”

Tetapi:

“Terdapat indikasi bahwa Batahan telah terhubung dengan jaringan masyarakat dan wilayah Pantai Barat Sumatra jauh sebelum periode Paderi, sementara kemungkinan adanya unsur atau fungsi keagamaan Islam di lingkungan elite Batahan pada akhir abad ke-17 masih menjadi hipotesis yang perlu dibuktikan melalui penelitian arsip, filologi, epigrafi, arkeologi, dan tradisi lisan.”

Dengan rumusan ini, penelitian tidak mengklaim lebih dari yang mampu dibuktikan sumber.


XIX. SEJARAH YANG TERSEMBUNYI DALAM SATU NAMA

Mungkin sejarah Batahan tidak akan ditemukan dalam satu kitab besar.

Mungkin ia tersebar.

Di Barus.

Di Natal.

Di Pasaman.

Di Minangkabau.

Di arsip VOC.

Di catatan pelaut Prancis.

Di makam tua.

Di manuskrip keluarga.

Di cerita para Ongku Kotik.

Dan mungkin, untuk sementara, ia hanya bersembunyi dalam satu nama:

RADJA KATIEP.

Apakah Katiep adalah Khatib?

Belum kita ketahui.

Tetapi satu hal sudah jelas:

pertanyaan tentang usia Islam di Batahan tidak boleh berhenti pada Paderi.

Jam sejarah harus diputar lebih jauh ke belakang.

Dari Paderi menuju VOC.

Dari VOC menuju Beaulieu.

Dari Beaulieu menuju jaringan Pantai Barat.

Dari Pantai Barat menuju Barus.

Dan dari Barus menuju jaringan perdagangan Samudra Hindia yang lebih luas.

Mungkin di sanalah sebagian jawaban tentang sejarah awal Islam Batahan akan ditemukan.

Batahan bukan sekadar sebuah nama dalam arsip.

Ia adalah sebuah simpul dalam sejarah panjang manusia, perdagangan, sungai, laut, kekuasaan, dan agama di Pantai Barat Sumatra.

Dan sejarah itu masih menunggu untuk dibaca.


WALLAHU A'LAM BISH-SHAWAB

Drs. Hamzah Johan
Batam, Kepulauan Riau
11 September 2026


CATATAN KAKI

[1] Augustin de Beaulieu, Mémoires du voyage aux Indes Orientales du Général Beaulieu, perjalanan 1619–1622. Edisi modern: Augustin de Beaulieu, Mémoires d'un voyage aux Indes Orientales, 1619–1622, ed. Denys Lombard, Paris: École française d'Extrême-Orient/Maisonneuve & Larose, 1996. Bibliografi edisi tersebut dikonfirmasi dalam ulasan akademik Aséanie.

[2] Denys Lombard, Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636), terj. Teuku Hamzah, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006.

[3] Arsip VOC mengenai hubungan dengan para pemimpin Batahan, 29 Januari 1693. Nomor koleksi/folio dalam naskah sebelumnya perlu diverifikasi kembali terhadap scan atau inventaris arsip asli sebelum dicantumkan sebagai sitasi final. Ini penting agar artikel tidak mengunci nomor arsip yang belum diverifikasi langsung.

[4] Khairunnisa dan Ismail Pane, “Titik Nol Islam di Nusantara: Jejak Sejarah Islam di Kota Barus, Tapanuli Tengah,” Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Artikel tersebut membahas Barus sebagai lokasi yang ditetapkan sebagai titik nol dan mencatat dasar sejarah serta perdebatan yang menyertainya.

[5] Mengenai makam Syekh Rukunuddin dan pembacaan 48 H, terdapat sejumlah sumber yang menyajikan pembacaan tersebut.

[6] Namun, penelitian yang mengutip Claude Guillot dan Ludvik Kalus memberikan pembacaan berbeda terhadap inskripsi Rukunuddin, yaitu sekitar 800 H/1397 M. Karena adanya perbedaan ini, penanggalan makam tersebut tidak digunakan dalam artikel ini sebagai bukti tunggal bahwa Islam telah hadir di Barus pada abad ke-7.

[7] Mengenai hubungan Barus dengan jaringan Pantai Barat Sumatra dan catatan Beaulieu, lihat kajian mengenai karya Beaulieu dan konteks pemerintahan Sultan Iskandar Muda.


DAFTAR PUSTAKA

Alfian, T. Ibrahim. Wawasan Sejarah Nusantara. Jakarta: LP3ES, 1991.

Beaulieu, Augustin de. Mémoires d'un voyage aux Indes Orientales, 1619–1622. Édition, introduction, notes et bibliographie par Denys Lombard. Paris: École française d'Extrême-Orient/Maisonneuve & Larose, 1996.

Djamil, M. Junus. Sejarah Minangkabau. Bukittinggi: Yayasan Kebudayaan Minangkabau, 1986.

Lombard, Denys. Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Terj. Teuku Hamzah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006.

Guillot, Claude, dkk. Histoire de Barus, Sumatra: Le site de Lobu Tua. Paris: Cahier d'Archipel 30, 1998.

Kalus, Ludvik. Kajian epigrafi terhadap inskripsi makam-makam Islam Barus, sebagaimana dikutip dalam kajian sejarah dan epigrafi Barus.

Teeuw, A. Sistem Ejaan dan Ejaan Lama. Jakarta: Djambatan, 1980.

Khairunnisa dan Ismail Pane. “Titik Nol Islam di Nusantara: Jejak Sejarah Islam di Kota Barus, Tapanuli Tengah.” Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama