DHU’TSUR BIN AL-HARITS DAN PELAJARAN KEPEMIMPINAN RASULULLAH ﷺ


DHU’TSUR BIN AL-HARITS DAN PELAJARAN KEPEMIMPINAN RASULULLAH ﷺ

Ketika Ancaman Dihadapi dengan Strategi, Ketegasan, Kelembutan, dan Tawakal

Oleh: Drs. Hamzah Johan


1. Pendahuluan

Sejarah Rasulullah ﷺ bukan hanya kumpulan kisah peperangan. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kepemimpinan, intelijen, pengambilan keputusan, keberanian, pengendalian emosi, pemaafan, dan tawakal kepada Allah سبحانه وتعالى.

Salah satu kisah yang sangat menarik adalah kisah Dhu’tsur bin al-Harits al-Ghathafani, seorang tokoh dari Ghathafān yang menghimpun kaumnya di kawasan Dzi Amr, wilayah Najd, dengan tujuan melakukan serangan terhadap kaum Muslimin dan mengganggu wilayah sekitar Madinah.

Ketika berita tersebut sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau tidak menunggu sampai ancaman itu tiba di Madinah. Beliau mengambil langkah strategis dengan bergerak menuju sumber ancaman.

Menurut riwayat sejarah Ibnu Sa‘d, Rasulullah ﷺ keluar pada 12 Rabi‘ul Awwal tahun 3 Hijriyah bersama sekitar 450 orang dan mengangkat ‘Utsmān bin ‘Affān رضي الله عنه sebagai pengganti beliau di Madinah.

Inilah salah satu prinsip penting kepemimpinan:

Ancaman harus diidentifikasi, keputusan harus diambil, tindakan harus dilakukan, tetapi hati tetap berada dalam tawakal kepada Allah.


2. Latar Belakang Ghazwah Dzi Amr

Pada masa itu, beberapa kelompok dari Bani Tsa‘labah dan Bani Muhārib, bagian dari kabilah Ghathafān, berkumpul di kawasan Dzi Amr.

Mereka mempunyai niat melakukan gangguan terhadap kaum Muslimin dan wilayah sekitar Madinah.

Tokoh yang disebut menghimpun mereka adalah Dhu’tsur bin al-Harits, seorang tokoh yang dikenal sebagai pemimpin dan pemberani.

Berita mengenai persiapan tersebut sampai kepada Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ kemudian mengambil keputusan untuk bergerak menuju mereka.

Riwayat sejarah menyebutkan:

فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي أَرْبَعِمِائَةٍ وَخَمْسِينَ رَجُلًا

Rasulullah ﷺ keluar bersama sekitar 450 orang.

Peristiwa tersebut dikenal dalam sejarah sebagai Ghazwah Dzi Amr, yang juga dikaitkan dengan nama Ghazwah Anmār atau Ghazwah Ghathafān.


3. Rasulullah ﷺ Bergerak Sebelum Musuh Menyerang

Ini merupakan pelajaran penting dalam manajemen risiko.

Rasulullah ﷺ tidak bersikap pasif.

Beliau:

  1. menerima informasi;
  2. menilai potensi ancaman;
  3. menentukan tindakan;
  4. mengorganisasi pasukan;
  5. meninggalkan Madinah dengan perhitungan;
  6. menunjuk pengganti untuk mengelola Madinah;
  7. bergerak menuju pusat ancaman.

‘Utsmān bin ‘Affān رضي الله عنه ditunjuk untuk menggantikan Rasulullah ﷺ di Madinah selama perjalanan tersebut.

Dengan demikian, pertahanan bukan berarti hanya menunggu serangan datang.

Pertahanan juga berarti melakukan pencegahan terhadap ancaman yang telah teridentifikasi.


4. Musuh Mundur ke Pegunungan

Ketika mengetahui Rasulullah ﷺ bergerak bersama pasukannya, kelompok Ghathafān tersebut tidak menghadapi pasukan Muslimin secara terbuka.

Mereka memilih mundur ke wilayah pegunungan.

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa seorang laki-laki dari kelompok mereka tertangkap. Ia kemudian memberikan informasi tentang kondisi kaumnya.

Ia bahkan mengatakan bahwa mereka kemungkinan tidak akan berani menghadapi Rasulullah ﷺ secara langsung.

Rasulullah ﷺ kemudian sampai di kawasan Dzi Amr dan berkemah di sana.

Tidak terjadi pertempuran besar.

Ini sendiri merupakan pelajaran penting:

Keberhasilan sebuah operasi tidak selalu diukur dari banyaknya musuh yang dikalahkan dalam pertempuran. Kadang keberhasilan terbesar adalah ketika pertempuran berhasil dicegah.


5. Turunnya Hujan dan Peristiwa yang Menegangkan

Ketika Rasulullah ﷺ berada di Dzi Amr, turunlah hujan yang cukup deras.

Pakaian Rasulullah ﷺ menjadi basah.

Beliau kemudian menjemur pakaian pada sebuah pohon dan beristirahat di bawahnya.

Keadaan itu kemudian dimanfaatkan oleh Dhu’tsur.

Kaum Ghathafān melihat Rasulullah ﷺ berada dalam keadaan tidak bersama para sahabat di dekatnya.

Mereka berkata kepada Dhu’tsur bahwa inilah kesempatan untuk menyerang Rasulullah ﷺ.

Dhu’tsur kemudian mengambil pedang dan mendatangi Rasulullah ﷺ.

Dalam riwayat sejarah disebutkan bahwa ia berdiri di atas Rasulullah ﷺ dengan pedang terhunus.

Kemudian ia berkata:

مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي يَا مُحَمَّدُ؟

“Siapakah yang dapat melindungimu dariku, wahai Muhammad?”

Rasulullah ﷺ menjawab dengan jawaban yang sangat singkat:

اللَّهُ

“Allah.”


6. Kekuatan yang Sebenarnya

Di sinilah inti kisah tersebut.

Dhu’tsur datang dengan pedang.

Rasulullah ﷺ tidak memiliki pasukan yang sedang berdiri di samping beliau.

Secara lahiriah, keadaan tampak sangat berbahaya.

Tetapi Rasulullah ﷺ tidak panik.

Beliau tidak mengatakan:

“Pasukanku akan menolongku.”

Beliau tidak mengatakan:

“Para sahabatku akan datang.”

Beliau mengatakan:

اللَّهُ

“Allah.”

Jawaban itu menggambarkan puncak tauhid dan tawakal.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

(QS. Ath-Thalaq [65]: 3)


7. Pedang Jatuh

Dalam riwayat yang masyhur, Allah menyelamatkan Rasulullah ﷺ dari keadaan tersebut.

Dhu’tsur kehilangan kendali atas pedangnya sehingga pedang itu jatuh.

Rasulullah ﷺ kemudian mengambil pedang tersebut.

Kini keadaan berbalik.

Tadi Dhu’tsur berdiri di atas Rasulullah ﷺ dengan pedang.

Sekarang Rasulullah ﷺ berada dalam posisi yang mempunyai kendali atas pedang.

Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya:

مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟

“Siapakah yang dapat melindungimu dariku?”

Dhu’tsur menjawab:

لَا أَحَدَ

“Tidak ada seorang pun.”


8. Rasulullah ﷺ Tidak Membalas dengan Balas Dendam

Inilah bagian paling luar biasa.

Secara manusiawi, Rasulullah ﷺ mempunyai alasan untuk membalas.

Dhu’tsur baru saja mengancam nyawa beliau.

Tetapi Rasulullah ﷺ tidak membalas dengan kemarahan.

Dalam salah satu riwayat beliau justru berkata:

قُمْ فَاذْهَبْ لِشَأْنِكَ

“Berdirilah dan pergilah kepada urusanmu.”

Dalam riwayat lain, Dhu’tsur kemudian mengakui keutamaan Rasulullah ﷺ.

Peristiwa itu menjadi contoh bahwa kekuatan sejati bukan hanya kemampuan untuk mengalahkan lawan, tetapi kemampuan mengendalikan diri ketika berada dalam posisi menang.


9. Dari Musuh Menjadi Orang yang Berubah

Peristiwa tersebut memberikan dampak yang sangat besar kepada Dhu’tsur.

Orang yang sebelumnya datang dengan pedang untuk membunuh Rasulullah ﷺ akhirnya menyaksikan langsung akhlak, keberanian, dan keteguhan beliau.

Riwayat sejarah menyebutkan bahwa setelah kejadian itu Dhu’tsur kembali kepada kaumnya dan kemudian menerima Islam serta mengajak kaumnya kepada Islam.

Di sinilah terlihat sebuah prinsip dakwah:

Kekerasan mungkin dapat membuat seseorang tunduk untuk sementara, tetapi akhlak yang mulia dapat membuat hati berubah.


10. Hubungannya dengan QS. Ali ‘Imran Ayat 159

Kisah Dhu’tsur sangat relevan untuk memahami karakter kepemimpinan Rasulullah ﷺ sebagaimana Allah berfirman:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya:

“Karena rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

(QS. Āli ‘Imrān [3]: 159)

Ayat ini memberikan sebuah formula kepemimpinan Qur’ani:

رَحْمَةٌ → لِينٌ → عَفْوٌ → اسْتِغْفَارٌ → شُورَى → عَزْمٌ → تَوَكُّلٌ

Rahmat → kelembutan → memaafkan → memohonkan ampun → musyawarah → ketegasan keputusan → tawakal.


11. Jangan Salah Memahami Kelembutan

Kelembutan bukan berarti lemah.

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang sangat lembut, tetapi beliau juga sangat tegas ketika prinsip agama dan kemaslahatan umat harus dijaga.

Allah berfirman:

وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu.”

Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan pentingnya akhlak yang baik, kelembutan, dan kemampuan membangun hubungan dengan manusia.

Namun kelembutan bukan berarti kehilangan ketegasan.

Rumusnya adalah:

لَيِّنٌ فِي الْأُسْلُوبِ، قَوِيٌّ فِي الْمَبْدَإِ

“Lembut dalam cara, kuat dalam prinsip.”


12. Musyawarah: Tidak Merasa Paling Benar

Allah berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ diperintahkan bermusyawarah dalam berbagai urusan yang membutuhkan pertimbangan, termasuk persoalan strategi dan kemaslahatan.

Ini sangat penting bagi pemimpin.

Pemimpin tidak boleh berpikir:

“Karena saya pemimpin, maka pendapat saya pasti benar.”

Sebaliknya:

Pemimpin yang baik membuka ruang bagi pendapat yang benar, kemudian mengambil keputusan dengan tanggung jawab.


13. Setelah Musyawarah: Jangan Ragu-ragu

Allah melanjutkan:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”

Ini menunjukkan bahwa musyawarah bukan alasan untuk terus-menerus ragu.

Ada waktunya:

Musyawarah → keputusan → pelaksanaan → tawakal.

Seorang pemimpin yang terus-menerus menunda keputusan setelah memperoleh informasi yang cukup akan membuat organisasi kehilangan momentum.

Tafsir para ulama menekankan bahwa setelah keputusan diambil, seorang mukmin hendaknya bersandar kepada Allah, bukan kepada kekuatan dirinya sendiri.


14. Dampak Peristiwa Dhu’tsur

Kisah ini mempunyai beberapa dampak penting.

1. Ancaman terhadap Madinah dapat diredam

Rasulullah ﷺ bergerak sebelum ancaman berkembang menjadi serangan besar.

2. Musuh kehilangan keberanian

Ketika mengetahui kedatangan Rasulullah ﷺ dan pasukan Muslimin, mereka mundur ke pegunungan.

3. Tidak terjadi pertumpahan darah besar

Operasi tersebut berakhir tanpa pertempuran besar.

4. Muncul peluang dakwah

Dhu’tsur yang semula menjadi lawan akhirnya mengalami perubahan.

5. Terlihat kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ

Beliau mempunyai kesempatan untuk membalas, tetapi memilih memberikan keselamatan.

6. Musuh dapat berubah menjadi mitra dakwah

Ini adalah salah satu bentuk soft power akhlak Islam.


15. Pelajaran Kepemimpinan

Dari kisah Dhu’tsur kita dapat mengambil sedikitnya 12 pelajaran:

1. Jangan mengabaikan informasi ancaman

Informasi kecil dapat menjadi persoalan besar jika tidak ditangani.

2. Pemimpin harus cepat mengambil keputusan

Kecepatan tidak berarti gegabah.

Kecepatan harus dibangun berdasarkan informasi dan pertimbangan.

3. Pencegahan lebih baik daripada penanganan krisis

Risiko yang dapat dicegah jangan dibiarkan menjadi krisis.

4. Pemimpin harus berani turun ke lapangan

Rasulullah ﷺ tidak hanya memberikan perintah dari Madinah.

Beliau memimpin langsung.

5. Organisasi harus memiliki pengganti sementara

Penunjukan ‘Utsmān bin ‘Affān menunjukkan pentingnya kesinambungan kepemimpinan ketika pimpinan utama berada di luar wilayah.

6. Musyawarah memperkuat organisasi

Pendapat orang lain bukan ancaman terhadap kewibawaan pemimpin.

7. Setelah keputusan, harus ada keberanian melaksanakan

Jangan menjadikan musyawarah sebagai alasan untuk tidak bertindak.

8. Tawakal bukan pasrah tanpa usaha

Rasulullah ﷺ melakukan persiapan, mengumpulkan pasukan, bergerak, mengatur organisasi, dan kemudian bertawakal kepada Allah.

9. Jangan membalas setiap kesalahan dengan kemarahan

Kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu mengendalikan diri.

10. Akhlak dapat membuka pintu yang tidak dapat dibuka oleh kekuatan

Dhu’tsur datang sebagai ancaman tetapi kemudian mengalami perubahan.

11. Kekuatan harus dikendalikan oleh rahmat

Kekuatan tanpa rahmat dapat menjadi kezaliman.

Rahmat tanpa ketegasan dapat menjadi kelemahan.

Islam mengajarkan keseimbangan.

12. Pemimpin harus dekat dengan Allah

Ketika semua sebab lahiriah tampak lemah, seorang mukmin tetap mempunyai sandaran:

اللَّهُ

“Allah.”


16. Relevansi untuk Organisasi Modern

Kisah ini sangat relevan bagi organisasi, lembaga zakat, pemerintahan, perusahaan, maupun masyarakat.

Dalam tata kelola organisasi, dapat dirumuskan:

INFORMASI

IDENTIFIKASI RISIKO

MUSYAWARAH

KEPUTUSAN

PELAKSANAAN

MONITORING

EVALUASI

PERBAIKAN

TAWAKAL

Dengan demikian, tawakal bukan pengganti manajemen.

Tawakal melengkapi ikhtiar.


17. Relevansi dengan SAI dan Tata Kelola BAZNAS

Pelajaran ini juga sangat relevan dengan Satuan Audit Internal (SAI).

SAI tidak seharusnya hanya bergerak setelah terjadi masalah.

SAI harus mampu mengenali:

“Apa yang berpotensi menjadi masalah sebelum benar-benar menjadi masalah?”

Karena itu pendekatan:

Risk Assessment → Audit → Temuan → RTL → Monitoring → Evaluasi → Improvement

merupakan bentuk ikhtiar organisasi untuk mencegah risiko.

Prinsipnya:

الرِّقَابَةُ الْفَعَّالَةُ لَيْسَتْ لِلْعِقَابِ، بَلْ لِلْإِصْلَاحِ

“Pengawasan yang efektif bukan semata-mata untuk menghukum, tetapi untuk memperbaiki.”

Semangat ini sejalan dengan nilai rahmah, musyawarah, ketegasan, amanah, dan perbaikan.


18. Nasehat untuk Para Pemimpin

Wahai pemimpin...

Jangan merasa kuat karena jabatan.

Jangan merasa benar karena memiliki kewenangan.

Jangan menganggap kritik sebagai permusuhan.

Jangan menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk memusuhi orang lain.

Belajarlah dari Rasulullah ﷺ.

Allah memberikan beliau kekuatan, tetapi beliau tetap lembut.

Allah memberikan beliau kedudukan, tetapi beliau tetap bermusyawarah.

Allah memberikan beliau kesempatan membalas, tetapi beliau memilih memaafkan.

Allah memberikan beliau kemenangan, tetapi beliau tetap bertawakal.

Maka:

Jadilah pemimpin yang lembut tanpa lemah, tegas tanpa kasar, berani tanpa sombong, memaafkan tanpa kehilangan prinsip, dan bertawakal tanpa meninggalkan ikhtiar.


19. Pesan Moral Utama

Kisah Dhu’tsur mengajarkan bahwa:

Orang yang datang membawa pedang belum tentu harus pulang sebagai musuh.

Kadang seseorang yang datang dengan kebencian dapat berubah ketika berhadapan dengan akhlak yang mulia.

Dan seorang pemimpin yang benar-benar kuat bukanlah orang yang selalu menggunakan kekuasaannya untuk membalas.

Tetapi orang yang:

mampu memaafkan ketika mempunyai kesempatan membalas.


20. Penutup

Ghazwah Dzi Amr bukan hanya catatan perjalanan Rasulullah ﷺ menuju wilayah Ghathafān.

Ia adalah pelajaran tentang manajemen risiko, keberanian, strategi, kepemimpinan, musyawarah, pengendalian emosi, pemaafan, dakwah, dan tawakal.

Dhu’tsur datang dengan keyakinan bahwa ia mempunyai kekuatan.

Ia berdiri di atas Rasulullah ﷺ dengan pedang.

Ia bertanya:

مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟

“Siapa yang dapat melindungimu dariku?”

Rasulullah ﷺ hanya menjawab:

اللَّهُ

“Allah.”

Pada akhirnya, orang yang merasa memiliki kekuatan justru kehilangan kendali, sementara Rasulullah ﷺ yang secara lahiriah berada dalam posisi terancam tetap tenang.

Inilah tauhid.

Inilah tawakal.

Dan inilah salah satu rahasia kepemimpinan Rasulullah ﷺ:

قَلْبٌ رَحِيمٌ، وَعَقْلٌ حَكِيمٌ، وَقَرَارٌ حَازِمٌ، وَتَوَكُّلٌ عَلَى اللَّهِ

“Hati yang penuh kasih, akal yang bijaksana, keputusan yang tegas, dan tawakal kepada Allah.”

Semoga Allah menjadikan kita pemimpin yang memiliki kelembutan tanpa kehilangan ketegasan, keberanian tanpa kesombongan, serta kekuatan yang selalu tunduk kepada Allah سبحانه وتعالى.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Drs. Hamzah Johan


Catatan Kaki

[1] Peristiwa ini dikenal dalam sejumlah sumber sebagai Ghazwah Dzi Amr, dan juga disebut berkaitan dengan Ghathafān/Anmār. Riwayat Ibnu Sa‘d menyebut Rasulullah ﷺ berangkat pada 12 Rabi‘ul Awwal bersama 450 orang.

[2] Dzi Amr merupakan kawasan di wilayah Najd yang berkaitan dengan pemukiman/kekuatan Ghathafān. Dalam riwayat sejarah, Bani Tsa‘labah dan Muhārib berkumpul di sana.

[3] Nama tokoh tersebut dalam berbagai sumber mengalami variasi transmisi, antara lain دُعْثُور بن الحارث dan غَوْرَث بن الحارث. Para ulama sejarah mencatat kemungkinan perbedaan atau perubahan nama dalam riwayat.

[4] Riwayat mengenai Dhu’tsur dan pedang bersumber dalam literatur sirah dan sejarah dengan beberapa variasi redaksi. Karena itu, rincian dialog dan sebab jatuhnya pedang hendaknya dipahami sesuai riwayat yang digunakan, bukan disamaratakan seluruhnya sebagai satu redaksi hadis sahih.

[5] QS. Āli ‘Imrān ayat 159 menjelaskan prinsip kelembutan, memaafkan, memohonkan ampun, musyawarah, mengambil keputusan, dan tawakal. Para mufassir seperti ath-Thabari, al-Qurthubi, Ibn Katsir, dan as-Sa‘di menguraikan aspek-aspek tersebut.

[6] Dalam tafsir ath-Thabari, perintah وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ antara lain dipahami berkaitan dengan perkara-perkara yang memerlukan pertimbangan, termasuk strategi menghadapi musuh, sekaligus menjadi teladan bagi umat setelah Rasulullah ﷺ.

[7] Penting membedakan antara sejarah/sirah dan hadis yang memiliki derajat kesahihan tertentu. Kisah Dhu’tsur memiliki beberapa jalur dan redaksi dalam literatur sirah sehingga rincian riwayat perlu dinilai berdasarkan sumber dan sanad masing-masing.


Inti Formula Kisah Dhu’tsur

DETEKSI ANCAMAN

IKHTIAR & STRATEGI

MUSYAWARAH

KEPUTUSAN

KEBERANIAN

KELEMBUTAN & PENGENDALIAN DIRI

MEMAAFKAN

DAKWAH

TAWAKAL

“Kekuatan yang paling tinggi bukanlah kemampuan untuk menghancurkan musuh, tetapi kemampuan mengubah musuh menjadi sahabat kebaikan.”

والله أعلم بالصواب

Drs. Hamzah Johan

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama