JANGAN BIARKAN KEBENCIAN MEMBUAT KITA TIDAK ADIL
Adil Itu Mampu Mengambil yang Benar, Meninggalkan yang Salah
Ide Kreator: Drs. Hamzah Johan
“Apa yang benar ditaati, apa yang salah diperbaiki.”
A. Pendahuluan
Salah satu penyakit dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan intelektual adalah menilai seseorang secara hitam-putih.
Ketika kita menyukai seseorang, seluruh perkataannya dianggap benar. Sebaliknya, ketika kita membenci seseorang, hampir semua yang berasal darinya dianggap salah.
Padahal, Islam mengajarkan keadilan dalam menilai manusia.
Seseorang mungkin mempunyai kesalahan, tetapi bukan berarti seluruh kebaikannya menjadi gugur. Sebaliknya, seseorang mungkin memiliki banyak kebaikan, tetapi kebaikannya tidak otomatis menjadikan seluruh pendapat dan tindakannya benar.
Karena itu, seorang Muslim perlu membangun sikap ilmiah:
ambil yang benar, hargai yang baik, tinggalkan yang salah, dan koreksi yang keliru.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, ketika menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mā’idah [5]: 8)
Ayat ini memberikan prinsip yang sangat kuat: kebencian tidak boleh menghapus objektivitas.
B. Adil Bukan Berarti Membenarkan Semuanya
Ada kesalahpahaman dalam memahami keadilan.
Sebagian orang mengira bahwa jika kita mengakui kebaikan seseorang yang kita kritik, berarti kita membela seluruh pemikirannya.
Tidak demikian.
Adil bukan berarti mengatakan semua yang dilakukan seseorang benar.
Adil berarti memberikan penilaian sesuai kenyataan.
Jika ada kebaikan, katakan itu kebaikan.
Jika ada kesalahan, katakan itu kesalahan.
Jika ada ilmu, ambillah ilmunya.
Jika ada kekeliruan, tinggalkan kekeliruannya.
Jika ada kontribusi positif, hargai kontribusinya.
Jika ada penyimpangan, koreksi penyimpangannya.
Inilah objektivitas.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri, atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabat.”
(QS. An-Nisā’ [4]: 135)
Perhatikan: keadilan bahkan harus ditegakkan terhadap diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai.
Maka lebih-lebih terhadap orang yang tidak kita sukai.
C. Prinsip: “Ambil yang Baik, Tinggalkan yang Buruk”
Al-Qur'an memberikan prinsip penting:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
(QS. Az-Zumar [39]: 18)
Ayat ini menunjukkan pentingnya kemampuan memilah.
Bukan setiap perkataan diterima.
Bukan pula setiap perkataan ditolak hanya karena siapa yang mengucapkannya.
Yang diperhatikan adalah kebenaran dan kualitas perkataannya.
Dalam penjelasan tafsir, ayat ini dikaitkan dengan kemampuan orang berakal untuk mendengarkan berbagai perkataan, kemudian membedakan mana yang layak diikuti dan mana yang harus ditinggalkan.
Dengan demikian:
Jangan menolak kebenaran hanya karena datang dari orang yang kita tidak sukai. Dan jangan menerima kebatilan hanya karena datang dari orang yang kita sukai.
D. Contoh Sederhana: Seorang Pemabuk yang Suka Menolong
Bayangkan ada seseorang yang mempunyai kebiasaan buruk: minum khamar.
Perbuatan mabuknya jelas merupakan sesuatu yang tidak boleh ditiru.
Namun, ternyata ia juga mempunyai sifat positif: ketika tetangganya mengalami kesulitan, ia selalu membantu.
Bagaimana sikap kita?
Kita tidak mengatakan:
“Karena dia pemabuk, maka seluruh perbuatannya pasti buruk.”
Itu tidak adil.
Kita juga tidak mengatakan:
“Karena dia suka membantu, maka kebiasaan mabuknya boleh ditiru.”
Itu juga tidak benar.
Sikap yang tepat adalah:
Tinggalkan mabuknya, ambil sifat menolongnya.
Dengan kata lain:
Tiru kebaikannya, jangan tiru kemaksiatannya.
Hal ini bukan berarti membenarkan kemaksiatan. Justru kita harus mampu memisahkan antara perbuatan yang benar dan perbuatan yang salah.
E. Contoh dalam Dunia Keilmuan dan Dakwah
Demikian pula dalam dunia pendidikan dan dakwah.
Misalnya ada seorang ustadz yang:
- rajin mengajarkan Al-Qur'an;
- aktif mendidik masyarakat;
- mempunyai kemampuan retorika;
- gemar membantu orang miskin;
- tetapi dalam sebagian persoalan akidah atau praktik keagamaan, terdapat pendapat yang menurut dalil yang lebih kuat perlu dikoreksi.
Apakah seluruh kebaikannya harus dibuang?
Tidak.
Apakah setiap pendapatnya harus diikuti?
Juga tidak.
Yang benar adalah:
ambil ilmu Al-Qur'annya, teladani semangat dakwahnya, hargai kebaikannya, tetapi jangan mengikuti kesalahan yang terbukti bertentangan dengan dalil yang sahih.
Demikian pula apabila seorang tokoh yang tidak kita sukai ternyata menyampaikan satu pendapat yang benar.
Jangan mengatakan:
“Karena dia orang yang saya tidak sukai, maka perkataannya pasti salah.”
Itu bukan sikap ilmiah.
Kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena keluar dari mulut orang yang kita benci.
Sebaliknya, kebatilan tidak berubah menjadi kebenaran hanya karena disampaikan oleh orang yang kita cintai.
F. Prinsip Ilmiah: Pisahkan “Orang” dari “Pendapat”
Salah satu kesalahan terbesar dalam perdebatan keagamaan adalah personifikasi kebenaran.
Seolah-olah:
orang baik = semua pendapatnya benar
dan:
orang buruk = semua pendapatnya salah.
Padahal manusia bukanlah wahyu.
Yang ma'shum dalam penyampaian agama adalah Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan risalah, bukan setiap tokoh, ustadz, guru, ulama, organisasi, atau kelompok.
Karena itu, prinsip yang lebih sehat adalah:
1. Evaluasi dalilnya.
Apakah memiliki dasar dari Al-Qur'an dan Sunnah?
2. Evaluasi pemahamannya.
Apakah dalil tersebut dipahami secara tepat?
3. Evaluasi penerapannya.
Apakah penerapannya sesuai kaidah syariat dan kemaslahatan?
4. Pisahkan pribadi dengan pendapat.
Kritik pendapat tanpa melakukan kezaliman terhadap pribadi.
5. Akui kebaikan.
Jika seseorang mempunyai jasa dan kontribusi, jangan menghapusnya.
6. Koreksi kesalahan.
Jika terdapat kekeliruan, jangan pula ditutup-tutupi.
G. “Apa yang Benar Ditaati, yang Salah Diperbaiki”
Prinsip yang sangat penting dalam kehidupan ilmiah dan organisasi adalah:
مَا كَانَ صَوَابًا يُتَّبَعُ، وَمَا كَانَ خَطَأً يُصَحَّحُ
“Apa yang benar diikuti, dan apa yang salah diperbaiki.”
Ini merupakan rumusan prinsip, bukan kutipan literal dari ayat atau hadis tertentu.
Karena itu, jangan menjadikan kalimat tersebut sebagai hadis Nabi ﷺ.
Maknanya selaras dengan semangat QS. Az-Zumar ayat 18: mendengar berbagai perkataan, kemudian mengikuti yang terbaik.
Dalam konteks kelembagaan, prinsip ini sangat penting.
Misalnya dalam sebuah organisasi terdapat program yang baik tetapi pelaksanaannya kurang tertib.
Jangan membuang seluruh program.
Program baik → dipertahankan.
Pelaksanaan buruk → diperbaiki.
Jika ada kebijakan yang tepat tetapi administrasinya lemah:
kebijakannya dipertahankan → administrasinya diperbaiki.
Jika ada seseorang yang memiliki kompetensi tetapi mempunyai kelemahan tertentu:
kompetensinya dimanfaatkan → kelemahannya dibina.
Inilah budaya perbaikan.
H. Bahaya Kebencian yang Menghilangkan Keadilan
Jika kebencian tidak dikendalikan, muncul beberapa dampak.
1. Kebenaran ditolak
Seseorang menolak pendapat hanya karena tidak menyukai orang yang menyampaikannya.
2. Kesalahan dibela
Sebaliknya, seseorang membela kesalahan karena pelakunya adalah tokoh yang ia kagumi.
3. Objektivitas hilang
Penilaian berubah dari:
“Apa yang benar?”
menjadi:
“Siapa yang mengatakannya?”
4. Fanatisme tumbuh
Kelompok merasa hanya dirinya yang benar.
5. Perselisihan semakin tajam
Perbedaan ilmiah berubah menjadi permusuhan personal.
6. Tradisi tabayyun melemah
Orang lebih mudah mempercayai informasi negatif tentang pihak yang dibenci.
7. Keadilan sosial rusak
Orang tidak lagi menilai berdasarkan fakta, tetapi berdasarkan suka dan tidak suka.
I. Keadilan Harus Berlaku Dua Arah
Kita harus berhati-hati terhadap dua penyakit yang berlawanan:
Penyakit pertama: GHULUW DALAM MENCINTAI
Karena terlalu mencintai seseorang, semua kesalahannya dibela.
Penyakit kedua: GHULUW DALAM MEMBENCI
Karena terlalu membenci seseorang, semua kebaikannya ditolak.
Keduanya sama-sama berbahaya.
Islam mengajarkan keseimbangan.
Tidak berlebihan dalam memuji.
Tidak berlebihan dalam mencela.
Tidak berlebihan dalam membela.
Tidak berlebihan dalam membenci.
J. Keadilan Bukan Berarti Diam terhadap Kesalahan
Perlu ditegaskan: bersikap adil tidak berarti membiarkan kemungkaran.
Kita tetap wajib menjelaskan kesalahan berdasarkan ilmu, dalil, dan hikmah.
Allah berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.”
Maka ketika mengkritik seseorang, kita tetap harus menjaga:
dalil → fakta → proporsionalitas → adab → tujuan perbaikan.
Bukan:
kebencian → tuduhan → generalisasi → penghinaan.
K. Solusi: Membangun Budaya “Tabayyun–Tamyiz–Tashih”
Untuk menjaga objektivitas, kita dapat menggunakan tiga prinsip.
1. TABAYYUN — Verifikasi
Jangan menilai berdasarkan potongan video, kabar sepihak, atau cerita yang belum jelas.
Cari informasi yang utuh.
2. TAMYIZ — Memilah
Pisahkan:
- benar dan salah;
- fakta dan opini;
- ilmu dan kesalahan;
- jasa dan kekurangan;
- prinsip dan pribadi.
3. TASHIH — Memperbaiki
Jika ditemukan kesalahan, lakukan koreksi dengan:
- ilmu;
- bukti;
- adab;
- hikmah;
- proporsionalitas.
Tujuannya bukan menghancurkan manusia, tetapi memperbaiki kesalahan.
L. Formula Praktis Menilai Seseorang
Sebelum memberikan penilaian, tanyakan lima hal:
1. APA YANG BENAR?
2. APA YANG SALAH?
3. APA DALILNYA?
4. APA YANG MASIH PERLU DIVERIFIKASI?
5. APAKAH PENILAIAN SAYA DIPENGARUHI CINTA ATAU BENCI?
Pertanyaan kelima sangat penting.
Sebab kadang-kadang masalah bukan terletak pada objek yang kita nilai, tetapi pada kacamata yang kita gunakan untuk melihatnya.
M. Prinsip untuk Para Pendidik, Ulama, Dai dan Aktivis
Orang yang bergerak dalam dakwah harus menjadi manusia yang mampu berlaku adil.
Jangan mengajarkan umat:
“Ikuti saya karena saya benar.”
Tetapi ajarkan:
“Ikutilah kebenaran karena ia benar.”
Seorang guru yang baik tidak menciptakan ketergantungan kepada dirinya.
Ia justru mengajarkan muridnya untuk mencintai:
Al-Qur'an, Sunnah, ilmu, kebenaran, keadilan dan akhlak.
Jika suatu hari murid menemukan bahwa gurunya keliru dalam suatu masalah, murid tidak boleh kehilangan adab.
Dan guru pun tidak boleh merasa kehilangan kehormatan hanya karena dikoreksi.
Orang besar bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang bersedia kembali kepada kebenaran ketika kesalahannya terbukti.
N. Kritik Harus Menghasilkan Perbaikan
Kritik yang sehat memiliki tujuan:
menjernihkan, bukan mengotori;
memperbaiki, bukan mempermalukan;
meluruskan, bukan menghancurkan;
mencari kebenaran, bukan memenangkan ego.
Karena itu, kritik harus dibedakan dari penghinaan.
Kita boleh berkata:
“Pendapat ini perlu dikoreksi karena dalilnya lemah.”
Tetapi tidak perlu berkata:
“Karena orang ini salah dalam masalah tersebut, maka dia pasti salah dalam segala hal.”
Itu adalah generalisasi yang tidak ilmiah.
O. Kesimpulan
Keadilan adalah kemampuan untuk melihat sesuatu secara proporsional.
Orang yang kita cintai tidak selalu benar.
Orang yang kita benci tidak selalu salah.
Orang yang memiliki kesalahan tetap mungkin memiliki kebaikan.
Orang yang memiliki banyak kebaikan tetap mungkin mempunyai kesalahan.
Karena itu, jangan jadikan cinta sebagai alasan untuk membenarkan kesalahan.
Dan jangan jadikan kebencian sebagai alasan untuk menolak kebenaran.
Pegang prinsip:
“AMBIL YANG BAIK, TINGGALKAN YANG BURUK.”
“APA YANG BENAR DITAATI, APA YANG SALAH DIPERBAIKI.”
“KRITIK KESALAHANNYA, JANGAN ZALIM TERHADAP ORANGNYA.”
“HARGAI KEBAIKANNYA, TANPA MEMBENARKAN KESALAHANNYA.”
Inilah salah satu bentuk keadilan ilmiah dan akhlak Islam.
Semoga Allah memberikan kepada kita kemampuan untuk menerima kebenaran meskipun datang dari orang yang tidak kita sukai, dan meninggalkan kesalahan meskipun datang dari orang yang kita cintai.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Ide Kreator:
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar