ISLAM SEBAGAI RAHMAT, KEMASLAHATAN, DAN KEADILAN


ISLAM SEBAGAI RAHMAT, KEMASLAHATAN, DAN KEADILAN

Kajian Islam Ilmiah, Maqāṣid asy-Syarī‘ah dan Perbandingan Madzhab

Oleh: DRS. HAMZAH JOHAN

مُقَدِّمَةٌ — PENDAHULUAN

Islam bukan sekadar kumpulan ritual individual, tetapi دِيْنٌ شَامِلٌ (dīn syāmil)—agama yang mencakup akidah, ibadah, akhlak, keluarga, ekonomi, sosial, hukum, politik, pendidikan dan kehidupan kemanusiaan.

Misi utama risalah Nabi Muhammad ﷺ dirumuskan Al-Qur’an dengan sangat jelas:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiyā’ [21]: 107).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa الرَّحْمَةُ (ar-raḥmah), الْمَصْلَحَةُ (al-maṣlaḥah) dan الْعَدْلُ (al-‘adl) merupakan nilai penting dalam memahami tujuan syariat.

Namun, “rahmat” dalam Islam bukan berarti membenarkan semua keinginan manusia. Kemaslahatan bukan pula sekadar sesuatu yang dianggap baik menurut hawa nafsu. Maslahat yang sah adalah maslahat yang berjalan dalam koridor wahyu dan maqāṣid asy-syarī‘ah.


١. الرَّحْمَةُ — ISLAM SEBAGAI RAHMAT

Allah berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiyā’: 107).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim).

مَنْهَجُ الرَّحْمَةِ — Prinsip Rahmat

Rahmat Islam tercermin dalam:

  1. الرَّحْمَةُ بِالنَّفْسِ — menjaga dan menyayangi jiwa manusia.
  2. الرَّحْمَةُ بِالْفُقَرَاءِ — memperhatikan kaum fakir dan lemah.
  3. الرَّحْمَةُ بِالضُّعَفَاءِ — melindungi kelompok rentan.
  4. الرَّحْمَةُ بِالْأُسْرَةِ — membangun keluarga yang penuh kasih.
  5. الرَّحْمَةُ بِالْجَارِ — menjaga hak tetangga.
  6. الرَّحْمَةُ بِالْبِيئَةِ وَالْحَيَوَانِ — menjaga lingkungan dan makhluk hidup.

Karena itu, dakwah Islam harus menghadirkan هُدًى وَرَحْمَةً, bukan kebencian, kesewenang-wenangan dan permusuhan.


٢. الْمَصْلَحَةُ — ISLAM DAN KEMASLAHATAN

Dalam مَقَاصِدُ الشَّرِيعَةِ (maqāṣid asy-syarī‘ah), para ulama menjelaskan bahwa hukum-hukum syariat memiliki tujuan untuk merealisasikan kebaikan manusia dan mencegah kerusakan.

Imam al-Ghazālī menempatkan perlindungan terhadap lima kebutuhan pokok sebagai inti pembahasan maslahat:

الضَّرُورِيَّاتُ الْخَمْسُ — Lima Kebutuhan Primer

  1. حِفْظُ الدِّينِ — menjaga agama.
  2. حِفْظُ النَّفْسِ — menjaga jiwa.
  3. حِفْظُ الْعَقْلِ — menjaga akal.
  4. حِفْظُ النَّسْلِ — menjaga keturunan.
  5. حِفْظُ الْمَالِ — menjaga harta.

Kerangka ini kemudian dikembangkan secara sistematis oleh ulama maqāṣid, terutama Imam al-Syāṭibī. Kajian akademik modern juga mencatat bahwa al-Ghazālī memberikan fondasi penting bagi teori maqāṣid, sementara al-Syāṭibī mengembangkannya secara lebih sistematis.


٣. الْعَدْلُ — ISLAM SEBAGAI KEADILAN

Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Naḥl [16]: 90).

Dan Allah berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Mā’idah [5]: 8).

Ayat ini mempunyai prinsip yang sangat kuat: keadilan tidak boleh bergantung pada siapa yang kita sukai atau siapa yang kita benci.

مَبَادِئُ الْعَدْلِ — Prinsip Keadilan

  • عَدْلٌ فِي الْحُكْمِ — adil dalam menetapkan hukum.
  • عَدْلٌ فِي الْمُعَامَلَاتِ — adil dalam transaksi.
  • عَدْلٌ فِي الْأُسْرَةِ — adil dalam keluarga.
  • عَدْلٌ فِي الْقَضَاءِ — adil dalam peradilan.
  • عَدْلٌ فِي السِّيَاسَةِ — adil dalam pemerintahan.
  • عَدْلٌ فِي الِاقْتِصَادِ — adil dalam ekonomi.
  • عَدْلٌ مَعَ الْمُخَالِفِ — adil terhadap orang yang berbeda pendapat.

٤. الْمَقَاصِدُ الشَّرْعِيَّةُ — TUJUAN SYARIAT

Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī ad-Daulī dalam Keputusan No. 167 (5/18) menjelaskan bahwa maqāṣid syariah berkaitan dengan hikmah, tujuan umum dan hasil akhir yang hendak diwujudkan Syāri‘ melalui hukum-hukum syariat, yaitu kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.

Dengan demikian, hukum Islam tidak boleh dipahami secara terpotong-potong sehingga suatu penerapan hukum justru menghasilkan mafsadah yang lebih besar.

Kaidah fikih yang masyhur:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”

Dan:

الضَّرَرُ يُزَالُ

“Kemudaratan harus dihilangkan.”

Kedua kaidah tersebut menunjukkan bahwa syariat mempunyai orientasi kuat terhadap perlindungan manusia dari kerusakan.


٥. الْمَذَاهِبُ الْأَرْبَعَةُ — PERBANDINGAN MADZHAB

أ. الْمَذْهَبُ الْحَنَفِيُّ — MADZHAB HANAFI

Madzhab Hanafi dikenal memberikan ruang besar kepada الِاسْتِحْسَانُ (istiḥsān) sebagai metode istinbāṭ dalam persoalan tertentu.

Istiḥsān tidak berarti meninggalkan syariat demi selera, tetapi memilih solusi hukum yang lebih kuat berdasarkan dalil, kebutuhan dan pertimbangan keadilan ketika penerapan analogi formal dapat menimbulkan kesulitan.

ب. الْمَذْهَبُ الْمَالِكِيُّ — MADZHAB MALIKI

Madzhab Maliki sangat terkenal dengan penggunaan الْمَصْلَحَةُ الْمُرْسَلَةُ (al-maṣlaḥah al-mursalah) dalam wilayah yang memenuhi persyaratan syar‘i.

Namun maslahat tidak boleh bertentangan dengan nash yang kuat.

ج. الْمَذْهَبُ الشَّافِعِيُّ — MADZHAB SYAFI‘I

Madzhab Syafi‘i memberikan penekanan kuat terhadap النَّصُّ dan الْقِيَاسُ yang memiliki landasan metodologis. Maslahat tidak dapat dijadikan alasan bebas untuk mengabaikan nash atau ushul syariah.

د. الْمَذْهَبُ الْحَنْبَلِيُّ — MADZHAB HANBALI

Madzhab Hanbali sangat kuat dalam mempertahankan nash dan atsar, tetapi juga mengenal pertimbangan المصلحة dan سدّ الذرائع dalam pengembangan hukum.

خُلَاصَةُ الْمُقَارَنَةِ — Kesimpulan Perbandingan

Perbedaan metode tidak berarti tujuan mereka berbeda. Secara umum, keempat madzhab berusaha menjaga:

النُّصُوصَ + الْمَقَاصِدَ + الْمَصَالِحَ + دَفْعَ الْمَفَاسِدِ

Nash + tujuan syariat + kemaslahatan + pencegahan kerusakan.

Karena itu, perbedaan madzhab merupakan ثَرْوَةٌ فِقْهِيَّةٌ (kekayaan intelektual fikih), bukan alasan untuk saling merendahkan.


٦. فَتْوَى مَجْلِسِ الْعُلَمَاءِ — FATWA TENTANG MASLAHAT

MUI dalam Fatwa tentang Kriteria Maslahat, yang ditetapkan pada 28 Juli 2005, menyatakan bahwa maslahat menurut hukum Islam adalah tercapainya maqāṣid asy-syarī‘ah melalui terpeliharanya lima kebutuhan primer: agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

MUI juga menegaskan bahwa maslahat yang dibenarkan syariat tidak boleh bertentangan dengan nash, dan penentuan maslahat dalam hukum syariat dilakukan oleh pihak yang memiliki kompetensi syariah melalui ijtihad jama‘i.

Prinsip ini sangat penting:

لَيْسَ كُلُّ مَا يَرَاهُ الْإِنْسَانُ مَصْلَحَةً يَكُونُ مَصْلَحَةً شَرْعِيَّةً

“Tidak setiap sesuatu yang dianggap manusia sebagai maslahat otomatis menjadi maslahat menurut syariat.”

Artinya, maslahat harus diverifikasi oleh ilmu, dalil, maqāṣid dan metodologi fikih.


٧. الرَّحْمَةُ وَالْمَصْلَحَةُ وَالْعَدْلُ فِي الْحَيَاةِ

Islam harus menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam seluruh bidang kehidupan:

فِي السِّيَاسَةِ — POLITIK

Kekuasaan adalah amanah, bukan alat memperkaya diri atau kelompok.

فِي الِاقْتِصَادِ — EKONOMI

Harta harus beredar secara adil dan tidak boleh menjadi sarana eksploitasi, riba, penipuan dan monopoli yang zalim.

فِي الِاجْتِمَاعِ — SOSIAL

Orang kaya membantu yang miskin; yang kuat melindungi yang lemah.

فِي التَّعْلِيمِ — PENDIDIKAN

Ilmu harus membentuk manusia yang beriman, berakal, berakhlak dan bermanfaat.

فِي الْقَضَاءِ — PERADILAN

Hukum harus ditegakkan tanpa diskriminasi.

فِي الْإِدَارَةِ — PEMERINTAHAN

Amanah, transparansi dan akuntabilitas merupakan bagian dari الْعَدْلُ.

فِي الدَّعْوَةِ — DAKWAH

Dakwah harus dilakukan dengan ilmu, hikmah dan akhlak, bukan dengan penghinaan dan provokasi.


٨. الرَّحْمَةُ لَا تَعْنِي التَّسَاهُلَ — RAHMAT BUKAN BERARTI SERBA MEMBENARKAN

Salah satu kekeliruan adalah menganggap bahwa “Islam rahmatan lil-‘ālamīn” berarti semua hukum harus dibuat longgar.

Tidak demikian.

Rahmat tanpa kebenaran dapat berubah menjadi pembiaran.
Keadilan tanpa rahmat dapat berubah menjadi kekerasan.
Maslahat tanpa wahyu dapat berubah menjadi hawa nafsu.

Karena itu Islam menggabungkan:

حَقٌّ + رَحْمَةٌ + عَدْلٌ + مَصْلَحَةٌ

Kebenaran + rahmat + keadilan + kemaslahatan.

Inilah keseimbangan syariat.

Dar al-Ifta Mesir juga menjelaskan maqāṣid dalam tiga tingkatan: الضَّرُورِيَّاتُ (ḍarūriyyāt), الْحَاجِيَّاتُ (ḥājiyyāt) dan التَّحْسِينِيَّاتُ (taḥsīniyyāt), serta menegaskan dimensi rahmat dan keadilan dalam syariat.


٩. تَطْبِيقُ الْمَقَاصِدِ فِي ZAMAN MODERN

Dalam menghadapi persoalan kontemporer, maqāṣid tidak boleh digunakan secara serampangan untuk membatalkan nash.

Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī menegaskan bahwa penerapan maqāṣid harus memperhatikan kekuatan dalil dan hierarki maqāṣid; dalil yang bersifat tidak pasti tidak boleh mengalahkan dalil yang pasti, dan maslahat parsial tidak boleh mengalahkan tujuan yang lebih menyeluruh.

Maka metode ilmiahnya:

النَّصُّ → الْفَهْمُ → الْأُصُولُ → الْمَقَاصِدُ → الْوَاقِعُ → الْمَوَازَنَةُ → الْحُكْمُ

Nash → pemahaman → ushul fikih → maqāṣid → realitas → penimbangan maslahat-mafsadat → hukum.

Inilah pentingnya الِاجْتِهَادُ الْجَمَاعِيُّ (ijtihad kolektif) dalam persoalan besar dan kontemporer.


١٠. الْخُلَاصَةُ — KESIMPULAN

Islam adalah agama yang membawa rahmat, mewujudkan kemaslahatan, dan menegakkan keadilan.

Tetapi ketiganya harus berada dalam bingkai tauhid, wahyu, sunnah dan maqāṣid asy-syarī‘ah.

PRINSIP BESAR ISLAM:

  1. الرَّحْمَةُ — menghadirkan kasih sayang.
  2. الْمَصْلَحَةُ — mewujudkan kebaikan yang sah menurut syariat.
  3. الْعَدْلُ — memberikan hak kepada yang berhak.
  4. رَفْعُ الْحَرَجِ — menghilangkan kesulitan yang tidak dibenarkan.
  5. دَفْعُ الضَّرَرِ — mencegah kemudaratan.
  6. حِفْظُ الضَّرُورِيَّاتِ الْخَمْسِ — menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.
  7. احْتِرَامُ الِاخْتِلَافِ — menghormati perbedaan fikih yang mu‘tabar.
  8. الِاجْتِهَادُ الْجَمَاعِيُّ — mengedepankan ijtihad kolektif untuk persoalan kontemporer.

Dengan demikian, Islam tidak boleh direduksi hanya menjadi identitas, simbol atau perdebatan hukum parsial. Islam harus tampak dalam keadilan sosial, amanah pemerintahan, ekonomi yang berkeadilan, perlindungan terhadap yang lemah, pendidikan, pelayanan publik, keluarga dan seluruh kemaslahatan manusia.

Islam yang dipahami dengan benar melahirkan manusia yang bertauhid, berilmu, berakhlak, adil dan membawa manfaat bagi sesama.

فَالْإِسْلَامُ رَحْمَةٌ، وَالشَّرِيعَةُ عَدْلٌ، وَالْمَقَاصِدُ مَصْلَحَةٌ

“Islam adalah rahmat, syariat adalah keadilan, dan maqāṣid adalah kemaslahatan.”


Catatan Kaki

[1] QS. Al-Anbiyā’ [21]: 107.
[2] Al-Ghazālī, al-Mustaṣfā, pembahasan al-maṣlaḥah dan al-uṣūl al-khamsah. Kajian akademik mengenai teori maqāṣid al-Ghazālī juga menempatkan lima perlindungan tersebut sebagai fondasi penting teori maqāṣid.
[3] Al-Syāṭibī, al-Muwāfaqāt, pembahasan maqāṣid asy-syarī‘ah. Kajian modern menunjukkan kontribusinya dalam sistematisasi maqāṣid dan penerapannya terhadap persoalan hukum.
[4] MUI, Fatwa tentang Kriteria Maslahat, Munas VII MUI, 28 Juli 2005.
[5] International Islamic Fiqh Academy, Resolution No. 167 (5/18), Maqāṣid and their Role in Deriving Shariah Rulings, 2007.
[6] International Islamic Fiqh Academy, Resolution No. 247 (09/25), pedoman penerapan maqāṣid dalam transaksi keuangan kontemporer.
[7] Perbandingan pendekatan al-Ghazālī, al-Syāṭibī dan al-Ṭūfī dalam maqāṣid dan maslahat menunjukkan adanya perbedaan metodologis di kalangan ulama, sehingga konsep maslahat tidak boleh digunakan tanpa batas.
[8] International Islamic Fiqh Academy juga menegaskan pentingnya pendekatan fikih komparatif, penghormatan terhadap perbedaan madzhab dan ijtihad kolektif dalam persoalan kontemporer.


ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ

Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama