SYIRIK DAN KHURAFAT ITU BIKIN PERPECAHAN
Buletin Dakwah Ilmiah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Pendahuluan
Islam datang membawa التَّوْحِيدَ (at-Tawḥīd), yaitu mengesakan Allah SWT dalam ibadah, dan membersihkan manusia dari الشِّرْكِ (asy-Syirk) serta الْخُرَافَاتِ (al-Khurāfāt) yang tidak memiliki dasar syariat.
Sejarah dakwah Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa seruan kepada tauhid tidak selalu diterima dengan baik. Kaum musyrikin Makkah bahkan menuduh dakwah Nabi SAW sebagai sesuatu yang dapat memecah persatuan masyarakat. Padahal, Nabi SAW tidak mengajak kepada permusuhan, tetapi mengajak manusia kembali kepada kebenaran dan menyembah Allah semata.
1. التَّوْحِيدُ — Mengesakan Allah SWT
Inti dakwah seluruh nabi adalah mengajak manusia menyembah Allah SWT dan meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat untuk menyerukan: ‘Sembahlah Allah dan jauhilah ṭāghūt.’”
(QS. An-Naḥl [16]: 36)
Tauhid bukanlah ajaran yang memecah belah manusia. Sebaliknya, tauhid mengarahkan manusia kepada satu Tuhan, satu tujuan ibadah, dan satu standar kebenaran: wahyu Allah SWT.
2. الشِّرْكُ — Syirik Merusak Kemurnian Tauhid
Syirik adalah mempersekutukan Allah SWT dalam sesuatu yang menjadi kekhususan-Nya, terutama dalam ibadah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisā’ [4]: 48)
Karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati terhadap segala bentuk keyakinan, ritual, atau pengagungan yang bertentangan dengan tauhid.
3. الْخُرَافَةُ — Khurafat Harus Ditinggalkan
Khurafat secara umum menunjuk kepada keyakinan, cerita, atau praktik yang tidak mempunyai dasar yang benar tetapi diyakini atau diperlakukan sebagai bagian dari agama.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَٰذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Maka ukuran kebenaran dalam agama bukanlah karena sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat, diwariskan turun-temurun, atau dilakukan oleh banyak orang, tetapi harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
4. دَعْوَةُ النَّبِيِّ ﷺ — Dakwah Nabi SAW kepada Tauhid
Nabi Muhammad SAW mengajak masyarakat Arab untuk:
- تَوْحِيدُ اللَّهِ — Tauḥīdu Allāh: mengesakan Allah SWT.
- عِبَادَةُ اللَّهِ — ‘Ibādatu Allāh: hanya beribadah kepada Allah.
- تَرْكُ الشِّرْكِ — Tarkusy-Syirk: meninggalkan kemusyrikan.
- تَرْكُ عِبَادَةِ الْأَصْنَامِ — Tarku ‘Ibādatil-Aṣnām: meninggalkan penyembahan berhala.
- اتِّبَاعُ الْحَقِّ — Ittibā‘ul-Ḥaqq: mengikuti kebenaran.
Allah SWT berfirman:
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Katakanlah: ‘Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua... Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dia yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya... dan ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk.’”
(QS. Al-A‘rāf [7]: 158)
5. اتِّهَامُ النَّبِيِّ ﷺ بِالتَّفْرِيقِ — Nabi SAW Dituduh Memecah Belah
Salah satu karakter penolakan terhadap dakwah tauhid adalah membalikkan persoalan: orang yang mengajak kepada kebenaran justru dituduh sebagai penyebab perpecahan.
Allah SWT mengabadikan ucapan kaum musyrikin:
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”
(QS. Ṣād [38]: 5)
Persoalan pokok yang mereka tolak bukan karena Nabi SAW mengajarkan keburukan, melainkan karena dakwah tauhid bertentangan dengan keyakinan dan tradisi kemusyrikan yang telah mereka pertahankan.
6. الْفُرْقَانُ — Kebenaran Harus Menjadi Ukuran
Islam mengajarkan agar manusia tidak menjadikan tekanan sosial, tradisi, atau banyaknya pengikut sebagai ukuran kebenaran.
Allah SWT berfirman:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka.”
(QS. Al-An‘ām [6]: 116)
Karena itu, الْحَقُّ (al-Ḥaqq) tidak ditentukan oleh suara mayoritas, tetapi oleh kebenaran yang bersumber dari Allah SWT dan Rasul-Nya.
7. الْوَحْدَةُ — Islam Mengajarkan Persatuan
Perlu dibedakan antara persatuan dalam kebenaran dan persatuan dalam kebatilan.
Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Āli ‘Imrān [3]: 103)
Persatuan yang diperintahkan Islam adalah persatuan yang dibangun di atas iman, tauhid, kebenaran, keadilan, dan akhlak.
Fenomena Modern
Sungguh memprihatinkan apabila ada orang yang mengaku mencintai dan menaati Nabi Muhammad SAW, tetapi pada saat yang sama masih mempertahankan praktik الشِّرْكِ وَالْخُرَافَةِ — asy-Syirki wal-Khurāfah.
Mengaku mengikuti Nabi SAW seharusnya dibuktikan dengan mengikuti ajaran tauhid yang beliau perjuangkan.
Jangan sampai kecintaan kepada Nabi SAW hanya menjadi ucapan, sementara ajaran tauhid yang beliau bawa justru ditinggalkan.
INGAT!
Jangan menuduh dakwah tauhid sebagai pemecah belah hanya karena dakwah tersebut mengoreksi kesyirikan, khurafat, atau praktik keagamaan yang tidak memiliki dasar.
Yang harus diperbaiki bukan kebenaran agar mengikuti kebiasaan manusia, tetapi kebiasaan manusia yang harus dikembalikan kepada kebenaran.
Kesimpulan
Syirik dan khurafat dapat menjadi sumber konflik ketika keyakinan yang tidak berdasar dipertahankan secara fanatik dan kritik terhadapnya dianggap sebagai serangan terhadap kelompok.
Dakwah tauhid Nabi Muhammad SAW pada hakikatnya adalah دَعْوَةٌ إِلَى الْحَقِّ — seruan kepada kebenaran, bukan seruan untuk mengadu domba.
Maka seorang Muslim hendaknya:
- يُوَحِّدُ اللَّهَ — mengesakan Allah SWT.
- يَتْرُكُ الشِّرْكَ — meninggalkan syirik.
- يَتْرُكُ الْخُرَافَاتِ — meninggalkan khurafat.
- يَتَّبِعُ السُّنَّةَ — mengikuti Sunnah Nabi SAW.
- يَرْجِعُ إِلَى الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ — mengembalikan persoalan agama kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
- يَحْفَظُ الْوَحْدَةَ — menjaga persatuan di atas kebenaran.
- يَتَحَلَّى بِالْحِكْمَةِ — berdakwah dengan hikmah dan akhlak yang baik.
Catatan Kaki
[1] Syirik merupakan dosa yang sangat besar. Namun, penetapan hukum terhadap individu tertentu memiliki rincian syar‘i dan tidak boleh dilakukan secara serampangan.
[2] Istilah khurafat perlu dibedakan dari perkara yang memang memiliki dasar syariat. Ukuran utamanya adalah dalil yang sahih, bukan sekadar kebiasaan atau klaim keagamaan.
[3] Dalam berdakwah, kewajiban seorang Muslim adalah menyampaikan kebenaran dengan الحِكْمَةُ وَالْمَوْعِظَةُ الْحَسَنَةُ (hikmah dan nasihat yang baik), bukan mencaci atau mengadu domba.
[4] Tuduhan kaum musyrikin terhadap Nabi SAW sebagai pemecah belah perlu dipahami dalam konteks sejarah dakwah Makkah dan penolakan mereka terhadap tauhid.
──────────────────────────────────
Wallahu a'lam bish shawab.
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar