PAKAIAN TAKWA LEBIH BAIK DARIPADA PAKAIAN RELIGIUS
Pendahuluan
Pakaian merupakan bagian dari kehormatan dan identitas manusia. Islam mengajarkan umatnya untuk berpakaian dengan baik, menutup aurat, menjaga kesopanan, dan tidak berlebih-lebihan.
Namun, pakaian yang bernuansa agama tidak otomatis menjadikan seseorang bertakwa. Seseorang dapat mengenakan pakaian yang sangat religius secara lahiriah, tetapi apabila lisannya suka berdusta, hatinya dipenuhi kesombongan, tangannya berbuat zalim, dan muamalahnya tidak amanah, maka pakaian tersebut belum menjadi bukti sempurnanya ketakwaan.
Sebaliknya, لِبَاسُ التَّقْوَىٰ — libāsut-taqwā, yaitu “pakaian takwa”, merupakan pakaian batin dan lahir yang tercermin melalui iman, ketaatan, akhlak mulia, kejujuran, amanah, rasa malu kepada Allah, serta menjauhi maksiat.
1. لِبَاسُ التَّقْوَىٰ — Pakaian Takwa Adalah yang Terbaik
Allah ﷻ berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Artinya:
“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.”
(QS. Al-A‘rāf [7]: 26).
Ayat ini menunjukkan bahwa pakaian memiliki dua dimensi:
- اللِّبَاسُ الظَّاهِرُ — al-libāsuzh-zhāhir: pakaian lahiriah yang menutup aurat dan memperindah penampilan.
- لِبَاسُ التَّقْوَىٰ — libāsut-taqwā: ketakwaan yang menghiasi jiwa dan perilaku manusia.
Pakaian lahir menutup tubuh, sedangkan pakaian takwa menjaga manusia dari dosa dan kehinaan.
2. التَّقْوَىٰ — Takwa Adalah Ukuran Kemuliaan
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13).
Allah tidak mengatakan bahwa orang yang paling mulia adalah orang yang paling bagus pakaiannya, paling panjang jubahnya, paling indah penampilannya, atau paling dikenal sebagai tokoh agama.
Ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah:
أَتْقَاكُمْ — أَكْثَرُكُمْ تَقْوًى
“Yang paling bertakwa di antara kalian.”
3. التَّقْوَىٰ فِي الْقَلْبِ وَالْجَوَارِحِ — Takwa Ada dalam Hati dan Perbuatan
Rasulullah ﷺ bersabda:
التَّقْوَىٰ هَاهُنَا، وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
Artinya:
“Takwa itu di sini,” lalu beliau ﷺ menunjuk ke dadanya tiga kali.
(HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan pentingnya keadaan hati. Akan tetapi, takwa yang benar tidak berhenti sebagai pengakuan batin. Takwa akan melahirkan amal dan akhlak.
Karena itu dapat dirumuskan:
تَقْوَى الْقَلْبِ → صَلَاحُ الْعَمَلِ → حُسْنُ الْأَخْلَاقِ
Takwa hati → baiknya amal → mulianya akhlak.
4. الْعِبْرَةُ بِالْحَقِيقَةِ لَا بِالْمَظْهَرِ — Ukuran Adalah Hakikat, Bukan Sekadar Penampilan
Penampilan yang baik tentu bukan sesuatu yang tercela. Bahkan Islam mengajarkan kebersihan, kesopanan, dan menutup aurat.
Namun, jangan menjadikan pakaian agama sebagai ukuran mutlak kesalehan seseorang.
Ada perbedaan antara:
المَظْهَرُ الدِّينِيُّ — al-maẓharud-dīnī
Penampilan yang bernuansa agama.
dan
السُّلُوكُ الدِّينِيُّ — as-sulūkud-dīnī
Perilaku yang benar-benar tunduk kepada ajaran agama.
Yang pertama terlihat oleh manusia, sedangkan yang kedua diuji melalui kehidupan sehari-hari.
Ketakwaan terlihat ketika seseorang:
- صَادِقٌ — ṣādiq: jujur.
- أَمِينٌ — amīn: amanah.
- عَادِلٌ — ‘ādil: adil.
- مُتَوَاضِعٌ — mutawāḍi‘: rendah hati.
- رَحِيمٌ — raḥīm: penyayang.
- عَفِيفٌ — ‘afīf: menjaga kehormatan diri.
- مُحْسِنٌ — muḥsin: gemar berbuat ihsan.
- مُتَّقٍ — muttaqin: takut melanggar batas-batas Allah.
5. لَيْسَتِ الْعِبْرَةُ بِالثِّيَابِ وَحْدَهَا — Bukan Pakaian Semata yang Menentukan Kesalehan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim).
Hadis ini bukan berarti penampilan tidak penting. Akan tetapi, hadis tersebut mengingatkan bahwa penampilan lahiriah tidak boleh dijadikan pengganti kesalehan hati dan amal.
Pakaian yang baik hendaknya berjalan bersama:
قَلْبٌ صَالِحٌ — hati yang saleh
عَمَلٌ صَالِحٌ — amal yang saleh
خُلُقٌ حَسَنٌ — akhlak yang baik
6. مَعَايِيرُ لِبَاسِ التَّقْوَىٰ — Indikator Pakaian Takwa
Pakaian takwa tidak hanya berupa kain yang melekat di badan, tetapi tercermin dalam kehidupan.
أ. تَقْوَى الْقَلْبِ — Takwa Hati
Hati selalu merasa diawasi Allah.
إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”
(QS. Al-Mulk [67]: 13).
ب. صِدْقُ اللِّسَانِ — Kejujuran Lisan
Tidak menjadikan agama sebagai alat untuk berdusta, memfitnah, menghina, atau memutarbalikkan kebenaran.
ج. أَمَانَةُ الْمُعَامَلَةِ — Amanah dalam Muamalah
Takwa terlihat ketika seseorang mengelola uang, jabatan, pekerjaan, zakat, wakaf, dan amanah masyarakat dengan penuh tanggung jawab.
د. حُسْنُ الْخُلُقِ — Akhlak Mulia
Pakaian religius akan kehilangan maknanya apabila pemakainya suka merendahkan, mencela, menghina, menyakiti, dan menyombongkan diri.
هـ. تَرْكُ الْمَعَاصِي — Meninggalkan Maksiat
Takwa bukan sekadar banyak berbicara tentang agama, tetapi juga memiliki kemampuan untuk meninggalkan perkara yang Allah haramkan.
و. التَّوَاضُعُ — Rendah Hati
Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia sadar bahwa dirinya adalah hamba yang membutuhkan rahmat dan ampunan-Nya.
7. خَطَرُ التَّدَيُّنِ الشَّكْلِيِّ — Bahaya Keberagamaan yang Hanya Bersifat Formal
Keberagamaan yang hanya berhenti pada simbol dapat melahirkan beberapa penyakit:
- الرِّيَاءُ — ar-riyā’: beramal agar mendapatkan pujian manusia.
- الْعُجْبُ — al-‘ujb: kagum terhadap diri sendiri.
- الْكِبْرُ — al-kibr: merasa lebih baik daripada orang lain.
- الْغُرُورُ — al-ghurūr: tertipu oleh penampilan kesalehan diri.
- التَّنَاقُضُ — at-tanāquḍ: ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Aṣ-Ṣaff [61]: 2–3).
8. الْمَظْهَرُ مَعَ الْجَوْهَرِ — Penampilan Harus Sejalan dengan Hakikat
Islam tidak mengajarkan untuk meninggalkan pakaian yang sopan, syar‘i, dan menutup aurat.
Yang harus diperbaiki adalah ketidakseimbangan antara lahir dan batin.
Idealnya:
لِبَاسٌ شَرْعِيٌّ + قَلْبٌ تَقِيٌّ + عَمَلٌ صَالِحٌ + خُلُقٌ حَسَنٌ
Pakaian yang sesuai syariat + hati yang bertakwa + amal saleh + akhlak mulia.
Inilah kesempurnaan yang diharapkan.
9. الرِّسَالَةُ الْأَسَاسِيَّةُ — Pesan Utama
Jangan menilai seseorang hanya berdasarkan pakaiannya.
Dan jangan pula merasa cukup hanya karena pakaian kita sudah tampak religius.
Pakaian dapat dilihat manusia, tetapi takwa diketahui Allah.
Pakaian dapat memperindah tubuh, tetapi takwa memperindah hati dan akhlak.
Pakaian dapat menjadi identitas lahiriah, tetapi takwa menjadi identitas seorang hamba di hadapan Allah.
Karena itu, marilah kita menjaga keduanya:
لِبَاسَ الظَّاهِرِ بِالشَّرْعِ، وَلِبَاسَ الْبَاطِنِ بِالتَّقْوَىٰ.
“Jadikan pakaian lahir sesuai syariat dan pakaian batin dengan ketakwaan.”
خَاتِمَةٌ — Penutup
Pakaian religius bukanlah sesuatu yang harus dicela selama sesuai dengan ketentuan syariat. Namun, jangan sampai simbol agama lebih besar daripada substansi agama.
Jangan sampai pakaian menunjukkan kesalehan, tetapi lisan menunjukkan kebohongan.
Jangan sampai penampilan menunjukkan kezuhudan, tetapi hati dipenuhi kesombongan.
Jangan sampai seseorang tampak sangat religius di hadapan manusia, tetapi tidak takut kepada Allah ketika tidak ada manusia yang melihat.
Hakikat takwa adalah menghadirkan pengawasan Allah dalam setiap keadaan.
Maka, marilah kita mengenakan لِبَاسُ التَّقْوَىٰ — pakaian takwa dengan iman yang benar, ibadah yang ikhlas, akhlak yang mulia, muamalah yang amanah, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Sebab, pakaian terbaik bukan sekadar yang menutupi tubuh, tetapi yang menjaga manusia dari dosa dan mengantarkannya kepada keridaan Allah ﷻ.
فَائِدَةٌ — Pelajaran Penting
“Jangan hanya memperindah pakaian di hadapan manusia; perindahlah hati di hadapan Allah.”
“Jangan hanya tampak religius; jadilah benar-benar bertakwa.”
“Pakaian menutup aurat, sedangkan takwa menjaga martabat.”
Footnote
[1] Al-Qur’an, QS. Al-A‘rāf [7]: 26.
[2] Al-Qur’an, QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13.
[3] Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, hadis tentang takwa yang ditunjukkan kepada dada.
[4] Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, hadis tentang Allah tidak melihat rupa dan harta, tetapi hati dan amal.
[5] Al-Qur’an, QS. Aṣ-Ṣaff [61]: 2–3.
[6] Penjelasan tentang libāsut-taqwā merupakan pemaknaan yang menghubungkan ketakwaan batin dengan ketaatan lahiriah, akhlak, dan amal saleh.
Wallahu a’lam bish shawab
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar