PENTINGNYA ILMU DAN ADAB DALAM PERBEDAAN
Artikel Islami • Motivasi • Dampak • Solusi
Pendahuluan
Perbedaan adalah bagian dari kehidupan manusia. Dalam persoalan agama, perbedaan pendapat bahkan telah dikenal sejak masa para ulama. Namun, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling mencela, merendahkan, memutus silaturahmi, atau merasa paling benar tanpa dasar ilmu.
Islam mengajarkan dua bekal penting dalam menghadapi perbedaan: ilmu dan adab. Ilmu memberikan kemampuan untuk membedakan antara dalil yang kuat dan lemah, sedangkan adab mengajarkan bagaimana menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Naḥl: 43)
Ayat ini mengajarkan bahwa ketika menghadapi persoalan yang belum diketahui, sikap seorang Muslim bukanlah tergesa-gesa berfatwa atau menghakimi, tetapi belajar dan bertanya kepada ahlinya.
1. Ilmu Menjadi Dasar dalam Menilai Perbedaan
Tidak semua perbedaan memiliki kedudukan yang sama. Ada perbedaan yang bersifat ikhtilāf tanawwu‘ (اختِلَافُ التَّنَوُّعِ), yaitu variasi pendapat yang masih memiliki landasan syariat. Ada pula perbedaan yang menyangkut perkara prinsip yang harus dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Karena itu, seseorang tidak cukup hanya berkata, “Ini pendapat saya,” tetapi perlu mengetahui:
- apa dalilnya;
- bagaimana pemahaman ulama terhadap dalil tersebut;
- apakah masalah tersebut termasuk perkara qaṭ‘ī atau ẓannī;
- apakah termasuk masalah yang disepakati atau diperselisihkan;
- bagaimana metode istinbāṭ para ulama.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
(QS. Al-Isrā’: 36)
Maka, berbicara tanpa ilmu dapat memperbesar masalah, sedangkan berbicara dengan ilmu dapat membuka jalan menuju pemahaman.
2. Adab Menjaga Ilmu agar Tidak Menjadi Kesombongan
Ilmu yang tidak disertai adab dapat berubah menjadi alat untuk merendahkan orang lain.
Semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula kesadarannya bahwa ilmu manusia terbatas.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“Di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.”
(QS. Yūsuf: 76)
Karena itu, seorang Muslim perlu membedakan antara:
“Saya meyakini pendapat ini berdasarkan dalil”
dengan
“Hanya pendapat saya yang benar dan semua yang berbeda dengan saya pasti sesat.”
Pernyataan pertama dapat menjadi sikap ilmiah. Pernyataan kedua dapat menjadi pintu kesombongan apabila tidak didukung ilmu dan pemahaman yang benar.
3. Perbedaan Tidak Boleh Menghilangkan Ukhuwah
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata buruk.”
(HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini memberikan pelajaran penting: kebenaran tidak membutuhkan akhlak yang buruk untuk membelanya.
Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tetap menjaga kehormatan sesama Muslim.
Kita boleh mengkritik pendapat, tetapi jangan menghina pribadi.
Kita boleh mengatakan suatu pendapat kurang kuat, tetapi hendaknya berdasarkan ilmu, bukan kebencian.
4. Dampak Perbedaan Tanpa Ilmu dan Adab
Perbedaan yang tidak dikendalikan ilmu dan adab dapat menimbulkan beberapa dampak:
Pertama, perpecahan umat.
Masalah cabang dapat berubah menjadi konflik besar karena masing-masing pihak merasa paling benar.
Kedua, hilangnya ukhuwah.
Persahabatan, keluarga, bahkan hubungan antarlembaga dapat rusak hanya karena perbedaan pendapat.
Ketiga, munculnya fanatisme.
Orang lebih membela kelompok daripada membela kebenaran.
Keempat, masyarakat menjadi bingung.
Perdebatan yang keras tanpa penjelasan ilmiah membuat masyarakat sulit membedakan antara dalil, pendapat ulama, dan sekadar opini pribadi.
Kelima, citra Islam menjadi buruk.
Jika umat Islam lebih dikenal karena pertengkarannya daripada akhlaknya, maka pesan rahmat Islam menjadi tertutup oleh perilaku manusia.
5. Solusi Menghadapi Perbedaan
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menghilangkan seluruh perbedaan, tetapi mengajarkan cara mengelola perbedaan dengan benar.
1. Kembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah
Allah berfirman:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kamu berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisā’: 59)
2. Belajar kepada ulama yang kompeten
Jangan menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber ilmu. Periksa sumber, dalil, metodologi, dan penjelasan para ulama.
3. Kenali tingkat perbedaan
Tidak semua masalah harus diperlakukan sebagai pertarungan antara benar dan salah. Ada persoalan yang memang memiliki ruang ikhtilāf di kalangan ulama.
4. Bedakan kritik ilmiah dengan penghinaan
Kritik terhadap pendapat boleh dilakukan; penghinaan terhadap manusia tidak dibenarkan.
5. Utamakan persatuan pada perkara yang prinsip
Dalam perkara yang telah disepakati, umat harus bersatu. Dalam perkara yang diperselisihkan secara ilmiah, hendaknya dikembangkan sikap tasāmuḥ (تَسَامُح), saling menghormati dalam batas-batas syariat.
6. Motivasi: Berbeda Tidak Harus Bermusuhan
Perbedaan dapat menjadi rahmat bagi perkembangan pemikiran apabila dibangun di atas ilmu, dalil, dan adab.
Jangan takut berbeda pendapat.
Yang harus ditakuti adalah berbeda tanpa ilmu, berbicara tanpa dalil, dan bersikap tanpa adab.
Jangan pula menjadikan kemenangan dalam perdebatan sebagai tujuan utama. Tujuan seorang Muslim adalah mencari kebenaran dan mengharap ridha Allah.
Jika ternyata pendapat kita benar, kita bersyukur.
Jika ternyata pendapat kita keliru, kita memperbaikinya.
Itulah tanda bahwa ilmu lebih besar daripada ego.
Kesimpulan
Ilmu mengajarkan kita apa yang harus diyakini, sedangkan adab mengajarkan bagaimana memperlakukan orang yang berbeda dengan kita.
Perbedaan yang disertai ilmu dapat melahirkan kedewasaan. Perbedaan yang disertai adab dapat memperkuat ukhuwah. Sebaliknya, perbedaan tanpa ilmu dan adab dapat berubah menjadi fitnah, permusuhan, dan perpecahan.
Maka, dalam menghadapi perbedaan:
BERILMU sebelum berbicara.
BERDALIL sebelum menilai.
BERADAB ketika berbeda.
RENDAH HATI ketika berdiskusi.
MENGHORMATI ketika tidak sepakat.
BERSATU dalam kebaikan dan kebenaran.
Perbedaan pendapat tidak selalu menjadi masalah; yang menjadi masalah adalah ketika ilmu kalah oleh ego dan adab kalah oleh emosi.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Drs. Hamzah Johan


Posting Komentar