ORANG YANG PALING MERUGI: DIBERI NASIHAT KEBENARAN, TETAPI TETAP BERPEGANG PADA KHURAFAT DAN KEMUSYRIKAN


ORANG YANG PALING MERUGI: DIBERI NASIHAT KEBENARAN, TETAPI TETAP BERPEGANG PADA KHURAFAT DAN KEMUSYRIKAN

مُقَدِّمَةٌ — PENDAHULUAN

Di antara bentuk kerugian yang paling besar dalam kehidupan manusia adalah ketika seseorang telah mendapatkan nasihat yang benar, telah dijelaskan kepadanya dalil yang sahih, tetapi ia tetap mempertahankan keyakinan dan praktik yang bertentangan dengan tauhid.

Islam memerintahkan manusia agar menerima kebenaran berdasarkan الوَحْيُ (al-waḥyu), yaitu Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, bukan berdasarkan khayalan, mitos, kepercayaan turun-temurun, atau keyakinan yang tidak memiliki dasar syar‘i.

Khurafat yang mengandung keyakinan bahwa selain Allah memiliki kekuasaan gaib secara mandiri dapat menyeret seseorang kepada الشِّرْكُ (asy-syirk), sedangkan syirik merupakan dosa yang sangat besar apabila seseorang meninggal tanpa bertobat darinya.


1. التَّوْحِيدُ — TAUHID ADALAH POKOK KESELAMATAN

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah melakukan dosa yang besar.”

(QS. An-Nisā’ [4]: 48)

Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan الشِّرْكُ. Karena itu, seorang Muslim wajib menjaga kemurnian tauhid dan meninggalkan segala bentuk keyakinan yang bertentangan dengannya.


2. الخُرَافَةُ — KHURAFAT BUKAN SUMBER KEBENARAN

الخُرَافَةُ (al-khurāfah) secara umum adalah kepercayaan atau cerita yang tidak memiliki dasar yang benar, kemudian diyakini dan diperlakukan seolah-olah merupakan suatu kebenaran.

Khurafat dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti:

  • mempercayai benda tertentu memiliki قُدْرَةٌ غَيْبِيَّةٌ (kekuatan gaib);
  • meyakini hari, angka, tempat atau benda tertentu membawa keberuntungan atau kesialan secara gaib;
  • mempercayai ramalan sebagai penentu masa depan;
  • meminta pertolongan gaib kepada selain Allah;
  • meyakini seseorang mengetahui perkara gaib tanpa dasar wahyu;
  • mempertahankan tradisi keagamaan yang bertentangan dengan التَّوْحِيدُ dan السُّنَّةُ.

Namun, perlu dibedakan antara khurafat, syirik, bid‘ah, dan dosa lainnya. Tidak setiap bentuk khurafat otomatis berarti syirik; hukumnya harus dilihat berdasarkan isi keyakinan dan perbuatannya.


3. الدَّلِيلُ — LARANGAN MEMPERSEKUTUKAN ALLAH

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”

(QS. Luqmān [31]: 13)

Nasihat Luqman kepada anaknya dimulai dengan perkara yang paling fundamental, yaitu التَّوْحِيدُ.

Ini menunjukkan bahwa pembinaan umat harus dimulai dari pemurnian akidah.


4. قَبُولُ الحَقِّ — MENERIMA KEBENARAN

Salah satu ciri orang beriman adalah kesediaannya menerima kebenaran ketika telah jelas dalilnya.

Allah ﷻ berfirman:

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ ۚ فَبَشِّرْ عِبَادِ ۝ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya:

“Dan orang-orang yang menjauhi ṭāghūt, yaitu tidak menyembahnya, dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira. Sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

(QS. Az-Zumar [39]: 17–18)

Ayat ini memberikan pelajaran penting:

أ. الاِسْتِمَاعُ — Mendengarkan

Seorang Muslim harus mau mendengarkan nasihat dan penjelasan.

ب. التَّدَبُّرُ — Merenungkan

Nasihat tidak cukup hanya didengar, tetapi harus dipikirkan berdasarkan dalil.

ج. اتِّبَاعُ الحَقِّ — Mengikuti Kebenaran

Setelah kebenaran jelas, seorang mukmin hendaknya mengikutinya.

د. الهِدَايَةُ — Petunjuk

Orang yang menerima kebenaran adalah orang yang mendapatkan petunjuk Allah.


5. العِنَادُ — BAHAYA MEMPERTAHANKAN KESALAHAN

Salah satu penyakit hati adalah العِنَادُ (al-‘inād), yaitu sikap keras kepala dan menolak kebenaran meskipun bukti telah jelas.

Ada orang yang bukan tidak mengetahui kebenaran, tetapi tidak mau meninggalkan kebiasaan yang salah karena:

  • takut kehilangan tradisi;
  • merasa malu mengakui kesalahan;
  • fanatik kepada tokoh tertentu;
  • mengikuti kebiasaan nenek moyang tanpa meneliti dalilnya;
  • lebih mencintai pendapat pribadi daripada kebenaran;
  • takut kehilangan kepentingan duniawi;
  • menganggap kritik terhadap praktiknya sebagai penghinaan.

Sikap seperti ini sangat berbahaya karena dapat menghalangi seseorang dari الهِدَايَةُ.


6. التَّقْلِيدُ الأَعْمَى — TAKLID BUTA TERHADAP TRADISI

Allah ﷻ memperingatkan sikap mengikuti nenek moyang tanpa dasar:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Artinya:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul,’ mereka menjawab, ‘Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya).’ Apakah mereka tetap mengikuti mereka, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?”

(QS. Al-Mā’idah [5]: 104)

Ayat ini bukan berarti seluruh tradisi nenek moyang pasti salah. Tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat dapat saja dipertahankan.

Yang tercela adalah mempertahankan suatu keyakinan atau ritual yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah hanya karena alasan “sudah dilakukan sejak dahulu.”


7. أَخْطَرُ أَنْوَاعِ الخُرَافَةِ — KHURAFAT YANG MENYENTUH AKIDAH

Kita harus sangat berhati-hati apabila suatu kepercayaan mengandung keyakinan bahwa selain Allah memiliki kemampuan dalam perkara gaib.

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah.’”

(QS. An-Naml [27]: 65)

Karena itu, perkara gaib harus dikembalikan kepada الوَحْيُ dan dalil yang sahih.


8. النَّصِيحَةُ — KEWAJIBAN MEMBERI NASIHAT

Rasulullah ﷺ bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

Para sahabat bertanya, “Untuk siapa?”

Beliau ﷺ menjawab:

لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Artinya:

“Agama itu adalah nasihat.” Mereka bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin dan seluruh kaum Muslimin.”

(HR. Muslim)

Nasihat harus disampaikan dengan الحِكْمَةُ (al-ḥikmah), ilmu, kelembutan, dan argumentasi yang benar.


9. أَخْسَرُ النَّاسِ — SIAPA YANG PALING MERUGI?

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ۝ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Artinya:

“Katakanlah, ‘Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?’ Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”

(QS. Al-Kahf [18]: 103–104)

Ayat ini memberikan peringatan yang sangat dalam.

Kerugian terbesar bukan sekadar kehilangan harta, jabatan, atau popularitas, tetapi kehilangan keselamatan akhirat karena kesalahan keyakinan dan amal.


10. مَوَاقِفُ المُؤْمِنِ — SIKAP SEORANG MUKMIN

Ketika menerima nasihat tentang akidah dan ibadah, seorang Muslim hendaknya memiliki sikap:

① التَّوَاضُعُ — Rendah Hati

Tidak merasa dirinya selalu benar.

② التَّثَبُّتُ — Memeriksa Kebenaran

Tidak menerima atau menolak sesuatu tanpa ilmu.

③ الرُّجُوعُ إِلَى الدَّلِيلِ — Kembali kepada Dalil

Menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman.

④ تَرْكُ الخُرَافَاتِ — Meninggalkan Khurafat

Tidak mempertahankan keyakinan tanpa dasar syar‘i.

⑤ تَرْكُ الشِّرْكِ — Meninggalkan Syirik

Memurnikan ibadah hanya kepada Allah.

⑥ التَّوْبَةُ — Bertobat

Apabila pernah melakukan kesalahan, segera kembali kepada Allah.

⑦ الثَّبَاتُ عَلَى الحَقِّ — Istiqamah di Atas Kebenaran

Tidak kembali kepada kesalahan setelah mengetahui kebenaran.


11. خَاتِمَةٌ — PENUTUP

Jangan sampai seseorang menjadi مَغْرُورًا (maghrūr), yaitu tertipu oleh dirinya sendiri: merasa berada di atas kebenaran, padahal telah berpaling dari petunjuk.

Nasihat yang benar adalah رَحْمَةٌ apabila diterima dengan hati yang terbuka.

Maka, apabila telah datang penjelasan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, hendaknya kita berkata:

“Ya Allah, tunjukilah kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukilah kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.”

Sebab ukuran kebenaran dalam Islam bukanlah:

“Sudah lama dilakukan.”

Bukan pula:

“Banyak orang yang melakukannya.”

Dan bukan:

“Ini tradisi nenek moyang kami.”

Akan tetapi ukuran kebenaran adalah الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ — Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, dengan pemahaman yang benar.

رِسَالَةٌ — PESAN DAKWAH

Jangan malu meninggalkan kesalahan setelah mengetahui kebenaran.

Karena yang paling mulia bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang ketika kesalahannya dijelaskan, ia mau kembali kepada الحَقِّ.

Jangan pertahankan khurafat karena tradisi.
Jangan pertahankan kesyirikan karena kebiasaan.
Jangan menolak nasihat hanya karena datang dari orang lain.
Carilah kebenaran, terimalah kebenaran, dan istiqamahlah di atas kebenaran.


Catatan Kaki

[1] Al-Qur’an, QS. An-Nisā’ [4]: 48.
[2] Al-Qur’an, QS. Luqmān [31]: 13.
[3] Al-Qur’an, QS. Az-Zumar [39]: 17–18.
[4] Al-Qur’an, QS. Al-Mā’idah [5]: 104.
[5] Al-Qur’an, QS. An-Naml [27]: 65.
[6] HR. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, hadis tentang الدِّينُ النَّصِيحَةُ.
[7] Al-Qur’an, QS. Al-Kahf [18]: 103–104.


────────────────────────────────────────

Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama