KEMERDEKAAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM


KEMERDEKAAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Allah SWT berfirman:

{ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَيُوَفِّيهِمۡ أُجُورَهُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ }

Artinya:

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amal-amal mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

(QS. Āli ‘Imrān [3]: 57)

Makna Kemerdekaan dalam Islam

Kemerdekaan dalam perspektif Islam bukan sekadar bebas dari penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa lain. Kemerdekaan yang hakiki adalah terbebasnya manusia dari segala bentuk kezaliman dan penghambaan kepada selain Allah SWT, sehingga manusia hanya tunduk dan mengabdi kepada Allah SWT.

Islam datang untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk belenggu: belenggu kezaliman, kebodohan, kesyirikan, hawa nafsu, serta penghambaan kepada sesama manusia.

Allah SWT berfirman:

{ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ }

Artinya:

“Dan Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.”

(QS. Fuṣṣilat [41]: 46)

Karena itu, kemerdekaan harus dipahami sebagai nikmat sekaligus amanah. Bangsa yang telah merdeka harus berusaha membangun kehidupan yang adil, bermartabat, sejahtera, dan diridhai Allah SWT.

Dua Bentuk Kezaliman yang Harus Dibebaskan

1. Kezaliman terhadap manusia

Kezaliman kepada manusia terjadi ketika seseorang atau suatu kelompok merampas hak orang lain.

Bentuknya antara lain:

  • menjajah dan menindas suatu bangsa;
  • merampas hak dan kebebasan masyarakat;
  • melakukan diskriminasi;
  • menyalahgunakan kekuasaan;
  • melakukan korupsi dan pengkhianatan terhadap amanah;
  • merampas hak orang miskin dan kaum lemah;
  • melakukan kekerasan dan tindakan sewenang-wenang.

Karena itu, kemerdekaan harus melahirkan keadilan. Tidaklah berarti suatu bangsa telah benar-benar merdeka apabila rakyatnya masih hidup dalam ketakutan, kemiskinan, ketidakadilan, atau penindasan.

2. Kezaliman terhadap Allah SWT

Kezaliman yang paling besar adalah syirik, yaitu mempersekutukan Allah SWT dengan sesuatu yang lain.

Allah SWT berfirman:

{ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ }

Artinya:

“Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

(QS. Luqmān [31]: 13)

Manusia yang merdeka secara hakiki bukanlah manusia yang bebas melakukan apa saja, tetapi manusia yang bebas dari penghambaan kepada selain Allah.

Ia tidak diperbudak oleh kekuasaan, harta, jabatan, hawa nafsu, popularitas, maupun godaan setan.

Allah SWT berfirman:

{ أَلَا إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ }

Artinya:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

(QS. Yūnus [10]: 62)

Bagaimana Mengisi Kemerdekaan?

Kemerdekaan harus diisi dengan pembangunan manusia dan masyarakat yang beriman, berilmu, berakhlak, serta istiqamah.

1. ILMU

Kemerdekaan harus dibangun dengan ilmu.

Tanpa ilmu, manusia mudah dibodohi, dimanipulasi, dan dijajah oleh pemikiran yang merusak.

Ilmu membimbing manusia untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan, keadilan dan kezaliman, serta hak dan kewajiban.

2. IMAN

Ilmu harus melahirkan iman.

Iman menjadikan manusia sadar bahwa kemerdekaan adalah karunia Allah SWT sekaligus amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

Orang beriman tidak akan menggunakan kemerdekaannya untuk menzalimi orang lain.

3. ISLAM

Islam memberikan pedoman bagaimana kemerdekaan harus dijalankan.

Islam mengajarkan:

tauhid dalam akidah,
ibadah dalam kehidupan,
keadilan dalam pemerintahan,
amanah dalam kekuasaan,
kejujuran dalam muamalah,
dan kasih sayang terhadap sesama.

Kemerdekaan tanpa nilai agama dapat berubah menjadi kebebasan tanpa batas.

4. IHSAN

Kemerdekaan harus melahirkan ihsan, yaitu berbuat baik dan memberikan yang terbaik karena merasa selalu diawasi Allah SWT.

Rasulullah ﷺ menjelaskan:

أَنْ تَعْبُدَ ٱللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya:

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

(HR. Muslim)

Dengan ihsan, kemerdekaan tidak melahirkan kesewenang-wenangan, tetapi melahirkan keadilan, kepedulian dan tanggung jawab.

5. ISTIQAMAH

Kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati; kemerdekaan harus dijaga dan diisi secara istiqamah.

Istiqamah berarti konsisten dalam kebenaran, keadilan, kejujuran dan kebaikan.

Allah SWT berfirman:

{ إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ }

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih.’”

(QS. Fuṣṣilat [41]: 30)

Penutup

Kemerdekaan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Merdeka berarti:

bebas dari penjajahan → menuju kedaulatan;
bebas dari kezaliman → menuju keadilan;
bebas dari kebodohan → menuju ilmu;
bebas dari kesyirikan → menuju tauhid;
bebas dari hawa nafsu → menuju ketakwaan;
bebas dari penghambaan kepada manusia → menjadi hamba Allah SWT.

Oleh karena itu, mari kita isi kemerdekaan dengan ILMU, IMAN, ISLAM, IHSAN DAN ISTIQAMAH.

Sebab bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang bebas dari penjajahan, tetapi bangsa yang mampu menegakkan keadilan, menjaga amanah, menghormati hak sesama, memberantas kezaliman, dan hidup dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

DRS. HAMZAH JOHAN


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama