SHAFAR: BULAN REVITALISASI AKIDAH

🕌 BULETIN DAKWAH ISLAMI

SHAFAR: BULAN REVITALISASI AKIDAH

Oleh: DRS. HAMZAH JOHAN


Pendahuluan

Bulan Shafar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah. Sebagian masyarakat masih meyakini bahwa bulan Shafar adalah bulan sial, bulan penuh musibah, atau waktu yang tidak baik untuk menikah, membangun rumah, bepergian, bahkan memulai usaha.

Keyakinan tersebut bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan sisa-sisa kepercayaan jahiliah yang telah dibatalkan oleh Rasulullah ﷺ. Karena itu, bulan Shafar justru menjadi momentum yang tepat untuk merevitalisasi akidah, membersihkan hati dari syirik, khurafat, tahayul, dan segala bentuk keyakinan yang bertentangan dengan tauhid.


1. Islam Menolak Anggapan Shafar Sebagai Bulan Sial

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya:

"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya (tanpa izin Allah), tidak ada kesialan karena pertanda burung, tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Shafar."

(HR. Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220)

Hadis ini menunjukkan bahwa anggapan bulan Shafar membawa kesialan adalah batil.


2. Semua Takdir Berasal dari Allah

Allah Ta'ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya:

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."

(QS. Al-Hadid: 22)

Musibah tidak datang karena bulan tertentu, tetapi karena ketetapan Allah Yang Maha Bijaksana.


3. Tauhid Menghapus Segala Bentuk Tahayul

Allah berfirman:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya:

"Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman."

(QS. Al-Ma'idah: 23)

Seorang mukmin menggantungkan harapannya hanya kepada Allah, bukan kepada waktu, hari, tanggal, benda, ataupun ramalan.


4. Tathayyur Termasuk Perbuatan Syirik

Rasulullah ﷺ bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

Artinya:

"Menganggap sial (tathayyur) adalah syirik, menganggap sial adalah syirik, menganggap sial adalah syirik."

(HR. Abu Dawud No. 3910, At-Tirmidzi No. 1614)

Syirik yang dimaksud adalah syirik kecil apabila keyakinan itu tidak sampai meyakini adanya kekuatan selain Allah yang berdiri sendiri.


5. Revitalisasi Akidah di Bulan Shafar

Momentum bulan Shafar hendaknya dimanfaatkan untuk:

  • Memurnikan tauhid kepada Allah.
  • Meninggalkan perdukunan, ramalan, dan jimat.
  • Menghilangkan keyakinan terhadap hari, bulan, atau angka sial.
  • Memperbanyak istighfar dan taubat.
  • Memperdalam ilmu akidah.
  • Memperbanyak doa dan tawakal kepada Allah.
  • Menjalankan ibadah dengan ikhlas sesuai sunnah Rasulullah ﷺ.

Hikmah Bulan Shafar

Bulan Shafar bukan bulan kesialan, tetapi bulan untuk:

  • Revitalisasi akidah.
  • Memperkuat tauhid.
  • Membersihkan hati dari syirik.
  • Memperkokoh tawakal.
  • Memulai kehidupan dengan optimisme dan keimanan.

Orang yang bertauhid tidak takut kepada bulan, hari, angka, ataupun mitos. Ia hanya takut kepada Allah dan berharap hanya kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Artinya:

"Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."

(QS. At-Taubah: 51)


Penutup

Jadikan bulan Shafar sebagai awal memperbaiki akidah, memperbaharui tauhid, serta menghapus seluruh keyakinan jahiliah yang masih tersisa dalam kehidupan. Seorang muslim meyakini bahwa keberuntungan, keselamatan, rezeki, dan musibah seluruhnya berada di bawah kekuasaan Allah ﷻ.


Footnote:

  1. Al-Qur'an al-Karim.
  2. Shahih al-Bukhari No. 5757.
  3. Shahih Muslim No. 2220.
  4. Sunan Abu Dawud No. 3910.
  5. Jami' At-Tirmidzi No. 1614.
  6. Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaif al-Ma'arif.
  7. Ibnu Hajar Al-'Asqalani, Fath al-Bari.

────────────────────────────

Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama