DOSA BESAR ORANG BERILMU MEMBIARKAN SYIRIK DAN KHURAFAT
Buletin Dakwah Ilmiah Kontemporer
PENGERTIAN JUDUL
Judul ini mengandung makna mendalam: Orang yang memiliki ilmu syariat, tauhid, dan kemaslahatan umat membiarkan, diam saja, atau tidak meluruskan kesesatan berupa menyekutukan Allah (الشِّرْكُ) serta kepercayaan karut yang tidak berlandaskan wahyu dan akal sehat (الْخُرَافَاتُ) — maka ia menanggung dosa besar yang berat, sebagaimana dosa pelakunya, bahkan lebih berat lagi karena mengetahui hakikat namun tidak menegakkan kebenaran.
Orang berilmu dalam konteks ini adalah ulama, pendidik, pemimpin masyarakat, dan siapa saja yang memahami dalil serta hukum agama, sehingga memiliki kewajiban menjelaskan kebenaran kepada orang yang belum tahu.
POIN-POIN UTAMA
1. HAKIKAT SYIRIK (الشِّرْكُ) DAN KHURAFAT (الْخُرَافَاتُ)
- Syirik: Menyekutukan Allah dalam الرُّبُوبِيَّةُ (Kekuasaan dan Pengaturan alam), الْأُلُوهِيَّةُ (Hak disembah dan dimintai pertolongan), atau الْأَسْمَاءُ وَالصِّفَاتُ (Nama dan Sifat-Nya). Ini adalah dosa terbesar yang tidak diampuni kecuali dengan التَّوْبَةُ الصَّادِقَةُ sebelum meninggal dunia.
- Khurafat: Segala kepercayaan, amalan, pantang larang, atau ramalan yang tidak berdasar Al-Qur'an dan Sunnah, sering kali menjurus ke syirik, seperti percaya azimat, petanda sial, keramat kubur, atau bantuan jin. Ia termasuk الْبِدَعُ الضَّالَّةُ dan pintu masuk kemusyrikan.
2. KEWAJIBAN UTAMA ORANG BERILMU: الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ
- Ulama adalah وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ (Pewaris para Nabi), dan tugas utama Nabi adalah menyampaikan tauhid serta melarang kesesatan.
- Diamnya orang berilmu di hadapan syirik dan khurafat sama dengan membiarkan umat tergelincir dari landasan iman, bahkan ikut bertanggung jawab atas kesesatan itu.
- Tingkatan penegakan:
- بِالْيَدِ (dengan kekuasaan/tindakan).
- بِاللِّسَانِ (dengan nasihat/ucapan).
- بِالْقَلْبِ (membenci dalam hati — tingkat terlemah iman).
3. BAHAYA MEMBIARKAN SYIRIK DAN KHURAFAT
- Merusak fondasi التَّوْحِيدُ yang menjadi syarat sah amal dan masuk surga.
- Membuat masyarakat menggantungkan harapan kepada selain Allah sehingga lemah التَّوَكُّلُ dan hilang keberkahan hidup.
- Menjadikan kesesatan sebagai tradisi yang dianggap benar sehingga sulit diberantas turun-temurun.
- Orang berilmu yang diam menanggung dosa setiap orang yang tersesat karena ketidaktahuannya, tanpa mengurangi dosa pelakunya sedikit pun.
4. DALIL AL-QUR'AN DAN HADITS
A. DALIL AL-QUR'AN
1. Firman Allah SWT tentang Syirik Dosa Terbesar
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisā' [4]: 48).
2. Firman Allah SWT tentang Kewajiban Menjelaskan Kebenaran
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلۡهُدَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أُوْلَٰٓئِكَ يَلۡعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلۡعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang nyata dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat oleh semua yang berhak melaknat." (QS. Al-Baqarah [2]: 159).
3. Firman Allah SWT tentang Syirik Sebagai Kezaliman Paling Besar
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar'." (QS. Luqmān [31]: 13).
4. Firman Allah SWT tentang Misi Rasulullah dan Kewajiban Menegakkan Kebenaran
وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
Artinya: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Āli 'Imrān [3]: 104).
B. DALIL HADITS NABI MUHAMMAD ﷺ
1. Sabda Nabi ﷺ tentang Tingkatan Mencegah Kemungkaran
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»
Artinya: "Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman'." (HR. Muslim no. 49).
2. Sabda Nabi ﷺ tentang Diamnya Orang Berilmu
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِذَا ظَهَرَتِ الْبِدَعُ فِي أُمَّتِي فَلْيُظْهِرِ الْعَالِمُ عِلْمَهُ، فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»
Artinya: "Dari Abdullah bin 'Amr r.a. berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Apabila muncul bid'ah-bid'ah dalam umatku, maka hendaklah orang berilmu menampakkan ilmunya. Barangsiapa yang tidak melakukannya, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia'." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Al-Albani).
3. Sabda Nabi ﷺ tentang Khurafat dan Tiyarah
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
Artinya: "Tiyarah (percaya petanda buruk atau baik dari burung atau hal lain) adalah syirik, tiyarah adalah syirik, tiyarah adalah syirik." (HR. Abu Daud no. 3910 dan At-Tirmidzi no. 1614).
5. ANALISIS ILMIAH DAN ARGUMEN ULAMA
- Menurut Ibnu Taimiyah rahimahullah: "Tidak ada dosa yang lebih berat setelah syirik daripada orang yang mampu menegakkan kebenaran namun diam, atau mampu menjelaskan petunjuk namun menyembunyikannya."
- Analisis Sosiologis: Jika ulama dan tokoh masyarakat diam, kesesatan akan dianggap sebagai kebenaran, dan generasi penerus lahir dalam keadaan buta tauhid. Ini menciptakan kerusakan yang sangat sulit diperbaiki.
- Analisis Hukum: Kewajiban menegakkan kebenaran bersifat فَرْضُ كِفَايَةٍ (kewajiban kolektif) — jika sudah ada yang melaksanakannya, gugur kewajiban yang lain; tetapi jika tidak ada yang melakukannya, maka berdosa seluruh kaum yang mampu, terutama orang berilmu.
- Analisis Moral: Orang berilmu ibarat cahaya di tengah gelap. Jika cahaya itu ditutup, maka kegelapan akan merajalela. Mengetahui bahaya namun tidak memberi peringatan sama dengan membiarkan saudara terjerumus ke jurang yang dalam.
CATATAN KAKI
[^1]: Syirik dibagi menjadi الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ (syirik besar yang mengeluarkan dari Islam) dan الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ (syirik kecil yang tidak mengeluarkan dari Islam namun menghilangkan kesempurnaan iman).
[^2]: Khurafat sering kali berakar dari adat jahiliyah yang bercampur baur dengan pemahaman agama yang keliru, sehingga membutuhkan kejelasan yang lembut namun tegas.
[^3]: Kewajiban menegakkan kebenaran harus disesuaikan dengan kemampuan dan situasi, tidak boleh memaksakan diri yang berujung pada kerusakan lebih besar, namun tidak boleh dijadikan alasan untuk diam sama sekali.
[^4]: Lihat pula Tanbih al-Ghafilin karya Abu Laits as-Samarqandi, bab tentang amar ma'ruf nahi mungkar; dan Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah, jilid 28.
Wallahu a'lam bish shawab
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar