4 PENYAKIT AQIDAH YANG HARUS DIJAUHI
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ
"Tidak ada keyakinan (jahiliyah) tentang penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial karena pertanda), tidak ada hāmah, dan tidak ada (kesialan pada bulan) Ṣafar."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini merupakan salah satu kaidah penting dalam menjaga kemurnian aqidah. Rasulullah ﷺ membatalkan empat keyakinan jahiliyah yang dapat merusak tauhid dan menjerumuskan manusia kepada syirik khafi (syirik tersembunyi).
1. لَا عَدْوَى (Lā 'Adwā)
Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya
Masyarakat jahiliyah meyakini bahwa penyakit berpindah dengan kekuatan alam tanpa campur tangan Allah. Rasulullah ﷺ meluruskan bahwa semua sebab hanya bekerja dengan izin Allah.
Islam mengajarkan agar tetap melakukan ikhtiar, menjaga kesehatan, dan menghindari penularan penyakit. Namun seorang muslim tidak boleh meyakini bahwa penyakit mempunyai kekuatan mandiri di luar kehendak Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
"Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku."
(QS. Asy-Syu'arā': 80)
2. لَا طِيَرَةَ (Lā Ṭiyarah)
Tidak ada kesialan karena pertanda
Thiyarah adalah merasa sial karena burung, suara tertentu, angka, hari, warna, arah perjalanan, atau berbagai tanda lainnya.
Pada masa kini bentuknya bermacam-macam, seperti:
- takut angka tertentu;
- takut hari tertentu;
- percaya ramalan nasib;
- percaya feng shui menentukan keberuntungan;
- membatalkan rencana karena dianggap pertanda buruk.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
"Thiyarah (percaya pertanda sial) adalah syirik."
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
3. لَا هَامَةَ (Lā Hāmah)
Tidak ada burung atau arwah yang membawa kesialan
Orang Arab dahulu meyakini burung hantu merupakan pertanda kematian atau kesialan. Ada pula yang meyakini arwah orang mati berubah menjadi burung yang terus bergentayangan.
Islam menolak seluruh keyakinan tersebut karena tidak memiliki dasar syariat.
Segala musibah, kematian, dan kehidupan terjadi hanya dengan takdir Allah semata.
Allah berfirman:
قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا
"Katakanlah: Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kami."
(QS. At-Taubah: 51)
4. لَا صَفَرَ (Lā Ṣafar)
Tidak ada kesialan pada bulan Ṣafar
Masyarakat jahiliyah menganggap bulan Ṣafar sebagai bulan sial sehingga mereka enggan menikah, bepergian, berdagang, atau memulai usaha.
Rasulullah ﷺ membatalkan keyakinan tersebut.
Dalam Islam, tidak ada satu bulan pun yang membawa sial. Semua hari dan bulan adalah ciptaan Allah yang memiliki nilai ibadah sesuai syariat.
Musibah maupun keberuntungan bukan ditentukan oleh waktu, tetapi oleh ketetapan Allah dan amal manusia.
Allah berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah."
(QS. At-Taghābun: 11)
Hikmah
Empat keyakinan jahiliyah di atas masih banyak dijumpai dalam bentuk modern, seperti percaya ramalan, horoskop, hari sial, angka keberuntungan, benda pembawa hoki, atau bulan tertentu yang dianggap membawa malapetaka.
Seorang muslim wajib membersihkan aqidahnya dari seluruh bentuk tahayul, khurafat, dan syirik. Tauhid yang benar menjadikan hati tenang, tawakal kepada Allah semakin kuat, dan tidak mudah dipengaruhi oleh mitos maupun kepercayaan yang tidak berdasar.
Kesimpulan
Empat penyakit aqidah yang harus dihindari adalah:
- Lā 'Adwā — Meyakini penyakit menular dengan sendirinya tanpa izin Allah.
- Lā Ṭiyarah — Percaya kepada pertanda atau kesialan.
- Lā Hāmah — Percaya burung, arwah, atau makhluk tertentu membawa sial.
- Lā Ṣafar — Meyakini bulan Ṣafar sebagai bulan sial.
Seorang mukmin hendaknya hanya bertawakal kepada Allah, mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, serta menjauhi seluruh bentuk khurafat dan tahayul agar aqidah tetap murni.
Footnote:
- Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Ath-Thibb.
- Muslim, Shahih Muslim, Kitab As-Salam.
- Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Bab fi Ath-Thiyarah.
- At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Bab Ma Ja'a fi Ath-Thiyarah.
- Tafsir Ibnu Katsir pada QS. At-Taubah: 51 dan QS. At-Taghabun: 11.
Wallahu a'lam bish shawab
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar