TAHUN BARU 1448 HIJRIAH: MOMENTUM MENINGKATKAN KESANTUNAN BERBANGSA DAN BERNEGARA


TAHUN BARU 1448 HIJRIAH: MOMENTUM MENINGKATKAN KESANTUNAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

Muqaddimah

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد.

Pergantian tahun baru Hijriah 1448 H merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri), memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tahun baru bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan kesempatan untuk memperbarui komitmen dalam menjalankan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Di tengah berbagai tantangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya, bangsa Indonesia memerlukan masyarakat yang santun dalam berpikir, berbicara, dan bertindak. Kesantunan merupakan bagian dari akhlak mulia yang diajarkan Islam dan menjadi fondasi kokohnya persatuan bangsa.

Makna Hijrah dan Perubahan Perilaku

Penanggalan Hijriah berawal dari peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan bahwa setiap Muslim hendaknya melakukan hijrah moral, yaitu meninggalkan perilaku yang merusak persatuan, seperti fitnah, ujaran kebencian, permusuhan, dan sikap tidak santun.

Kesantunan Sebagai Cermin Keimanan

Islam sangat menekankan pentingnya akhlak mulia dalam kehidupan sosial.

Allah SWT berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

"Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)

Ayat ini menunjukkan bahwa berbicara santun bukan hanya kepada sesama Muslim, tetapi kepada seluruh manusia.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam konteks kehidupan berbangsa, hadis ini menjadi pedoman agar masyarakat tidak mudah menyebarkan berita bohong, provokasi, ataupun ujaran yang menimbulkan perpecahan.

Menjaga Persatuan Bangsa Adalah Perintah Agama

Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dengan berbagai suku, agama, budaya, dan bahasa. Keragaman ini merupakan sunnatullah yang harus disikapi dengan bijaksana.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Kesantunan dalam berbangsa berarti menghargai perbedaan, menjunjung dialog yang beradab, dan mengedepankan persaudaraan kebangsaan demi kemaslahatan bersama.

Taat kepada Pemimpin dalam Kebaikan

Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga stabilitas sosial dan ketertiban negara.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan pemegang kekuasaan di antara kamu." (QS. An-Nisa': 59)

Ketaatan kepada pemimpin dalam perkara yang baik merupakan bagian dari upaya menjaga ketertiban dan kemaslahatan umum. Kritik boleh dilakukan, namun dengan cara yang santun, objektif, dan bertanggung jawab.

Empat Langkah Meningkatkan Kesantunan Berbangsa dan Bernegara

1. Memperbaiki Akhlak Pribadi

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)

Akhlak individu yang baik akan melahirkan masyarakat yang baik.

2. Bijak Bermedia Sosial

Setiap informasi yang disebarkan harus diverifikasi terlebih dahulu.

Allah SWT berfirman:

فَتَبَيَّنُوا

"Maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)

3. Mengedepankan Musyawarah

Allah SWT berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

"Sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka." (QS. Asy-Syura: 38)

Musyawarah yang santun akan menghasilkan keputusan yang bijaksana.

4. Menumbuhkan Semangat Persaudaraan

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Persaudaraan yang kuat akan memperkokoh persatuan bangsa.

Penutup

Tahun Baru Hijriah 1448 H hendaknya menjadi momentum hijrah menuju masyarakat yang lebih santun, beradab, dan bertanggung jawab. Kesantunan berbangsa dan bernegara bukan hanya tuntutan etika sosial, tetapi juga bagian dari pengamalan ajaran Islam yang luhur. Dengan memperkuat akhlak, menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan mengedepankan kemaslahatan bersama, kita dapat mewujudkan Indonesia yang damai, maju, dan diridhai Allah SWT.

Footnote

  1. Al-Qur'an Al-Karim, QS. Al-Baqarah: 83.
  2. Al-Qur'an Al-Karim, QS. Al-Hujurat: 6 dan 13.
  3. Al-Qur'an Al-Karim, QS. An-Nisa': 59.
  4. Al-Qur'an Al-Karim, QS. Asy-Syura: 38.
  5. Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Iman.
  6. Shahih Muslim, Kitab Al-Iman.
  7. Musnad Ahmad, Bab Makarim Al-Akhlaq.

──────────────────────────────────

Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama