MERASA TERHORMAT BELUM TENTU MULIA

MERASA TERHORMAT BELUM TENTU MULIA

Pengantar

Banyak manusia merasa dirinya terhormat karena jabatan, kekayaan, keturunan, popularitas, atau pujian manusia. Padahal, kemuliaan sejati di sisi Allah ﷻ bukan diukur dari penampilan duniawi, tetapi dari ketakwaan dan ketaatan kepada-Nya.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Ḥujurāt: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa standar kemuliaan menurut manusia sering berbeda dengan standar kemuliaan menurut Allah ﷻ.

Kemuliaan Semu

Ada orang yang dihormati karena kekuasaan, tetapi ia zalim. Ada yang dipuji karena ilmunya, tetapi sombong. Ada pula yang dimuliakan manusia karena hartanya, namun jauh dari ibadah dan akhlak mulia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Karena itu, merasa terhormat di hadapan manusia belum tentu bernilai mulia di hadapan Allah ﷻ.

Ciri Kemuliaan Hakiki

1. Tawadhu’ (رَحِمَهُ اللَّهُ)

Orang mulia justru semakin rendah hati. Ia tidak haus pujian dan tidak silau penghormatan manusia.

2. Taqwa (التَّقْوَى)

Kemuliaan lahir dari ketaatan, menjaga halal-haram, serta takut kepada Allah dalam keadaan sendiri maupun ramai.

3. Akhlak Mulia (حُسْنُ الْخُلُقِ)

Kemuliaan tampak dari lisan yang santun, perilaku yang lembut, dan manfaat bagi sesama.

4. Ikhlas (الإِخْلَاصُ)

Orang yang mulia beramal karena Allah, bukan demi pencitraan atau popularitas.

Bahaya Merasa Paling Terhormat

Perasaan paling mulia dapat melahirkan kesombongan. Kesombongan adalah penyakit Iblis yang menyebabkan dirinya terusir dari rahmat Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar zarrah.”
(HR. Muslim)

Maka seorang mukmin hendaknya lebih sibuk memperbaiki hati daripada mengejar penghormatan manusia.

Penutup

Kehormatan dunia bisa berubah dan hilang sewaktu-waktu. Jabatan dapat dicabut, harta dapat habis, dan pujian manusia dapat berganti celaan. Namun kemuliaan di sisi Allah ﷻ akan kekal bagi orang-orang yang bertakwa.

Jangan sibuk ingin dihormati manusia, tetapi sibuklah menjadi mulia di hadapan Allah ﷻ.

Footnote

  1. Tafsir QS. Al-Ḥujurāt: 13 – Tafsir Ibnu Katsir.
  2. Shahih Muslim No. 2564 tentang Allah melihat hati dan amal.
  3. Shahih Muslim No. 91 tentang larangan kesombongan.

Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama