BERDAKWAH ITU BERESIKO: BUKAN CARI AMAN, TAPI CARI IMAN

BERDAKWAH ITU BERESIKO: BUKAN CARI AMAN, TAPI CARI IMAN

Muqaddimah

Dakwah merupakan jalan para nabi dan rasul. Jalan ini bukan jalan kemewahan, pujian, dan tepuk tangan manusia, melainkan jalan penuh ujian, hinaan, ancaman, bahkan pengorbanan jiwa dan harta. Orang yang berdakwah untuk mencari ridha Allah ﷻ tidak akan menjadikan “keamanan dunia” sebagai tujuan utama, tetapi menjadikan “keimanan” sebagai orientasi hidupnya.

Di zaman modern, banyak manusia takut berkata benar karena tekanan sosial, ancaman kehilangan jabatan, tekanan ekonomi, cibiran masyarakat, bahkan intimidasi penguasa atau kelompok tertentu. Akibatnya, sebagian memilih diam demi keselamatan duniawi. Padahal Islam mengajarkan bahwa dakwah membutuhkan keberanian, kesabaran, dan keteguhan iman.

Allah ﷻ telah menegaskan bahwa para nabi adalah manusia-manusia pilihan yang paling berat ujiannya karena dakwah yang mereka lakukan. Oleh sebab itu, siapa saja yang menempuh jalan dakwah harus memahami bahwa resiko adalah sunnatullah, sedangkan keimanan adalah tujuan utama.


PENGERTIAN JUDUL

1. Makna “Berdakwah”

Secara bahasa, dakwah berasal dari kata:

الدَّعْوَةُ

yang berarti: panggilan, ajakan, atau seruan.

Sedangkan secara istilah syar’i:

الدَّعْوَةُ إِلَى اللَّهِ

adalah mengajak manusia menuju tauhid, kebenaran, syariat Islam, akhlak mulia, serta menjauhkan manusia dari kesyirikan, kemaksiatan, dan kesesatan.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”
(QS. Fuṣṣilat: 33)


2. Makna “Beresiko”

Resiko dalam dakwah adalah kemungkinan munculnya:

  • hinaan,
  • fitnah,
  • ancaman,
  • pemboikotan,
  • tekanan sosial,
  • kriminalisasi,
  • kehilangan jabatan,
  • bahkan ancaman nyawa.

Semua itu merupakan konsekuensi dari perjuangan menegakkan kebenaran.


3. Makna “Bukan Cari Aman Tapi Cari Iman”

Kalimat ini mengandung pesan bahwa:

  • tujuan dakwah bukan mencari popularitas,
  • bukan mencari kenyamanan,
  • bukan menjaga kepentingan dunia,
  • melainkan mencari ridha Allah ﷻ dan memperkuat iman.

Orang yang mencari aman sering menyembunyikan kebenaran, sedangkan orang yang mencari iman tetap menyampaikan kebenaran dengan hikmah walau penuh resiko.


DAKWAH ADALAH JALAN PARA NABI

1. Semua Nabi Mengalami Penolakan

Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا

“Dan sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelum engkau, lalu mereka sabar terhadap pendustaan dan gangguan yang menimpa mereka sampai datang pertolongan Kami.”
(QS. Al-An‘ām: 34)

Ayat ini menunjukkan bahwa gangguan terhadap da’i merupakan sunnatullah yang pasti terjadi.


2. Nabi Nuh ‘Alaihissalām Dicaci Berabad-abad

Allah ﷻ berfirman:

وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ

“Dan setiap kali pemimpin kaumnya melewati Nuh, mereka mengejeknya.”
(QS. Hūd: 38)

Nabi Nuh berdakwah selama ratusan tahun namun hanya sedikit pengikutnya. Ini menunjukkan ukuran keberhasilan dakwah bukan banyaknya pengikut, tetapi istiqamah di atas kebenaran.


3. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalām Dibakar Karena Dakwah Tauhid

Allah ﷻ berfirman:

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

“Mereka berkata: bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian jika kalian benar-benar hendak bertindak.”
(QS. Al-Anbiyā’: 68)

Dakwah tauhid membuat Nabi Ibrahim dimusuhi penguasa dan masyarakat penyembah berhala.


4. Nabi Musa ‘Alaihissalām Melawan Kezaliman Fir‘aun

Allah ﷻ berfirman:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا

“Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.”
(QS. Ṭāhā: 44)

Walaupun Fir‘aun adalah penguasa zalim, Nabi Musa tetap diperintahkan menyampaikan kebenaran.


RASULULLAH ﷺ ADALAH TELADAN DAKWAH BERESIKO

1. Nabi ﷺ Dihina dan Dituduh Gila

Allah ﷻ berfirman:

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

“Mereka berkata: wahai orang yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an, sungguh engkau benar-benar orang gila.”
(QS. Al-Ḥijr: 6)


2. Nabi ﷺ Dicekik Saat Shalat

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa kaum Quraisy pernah mencekik Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang shalat di Ka‘bah. Namun beliau tetap melanjutkan dakwahnya.


3. Nabi ﷺ Dilempari Batu di Ṭāif

Peristiwa Ṭāif merupakan bukti bahwa dakwah tidak selalu dibalas penghormatan. Rasulullah ﷺ bahkan berdarah-darah demi menyampaikan kebenaran.


4. Dakwah Bukan Jalan Popularitas

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka.”
(HR. Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan bahwa semakin tinggi iman seseorang, semakin besar pula ujian dakwahnya.


PENYAKIT “CARI AMAN” DALAM DAKWAH

1. Takut Kehilangan Jabatan

Sebagian orang enggan menyampaikan kebenaran karena takut kehilangan posisi sosial atau pekerjaan.

Padahal Allah ﷻ berfirman:

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ

“Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah.”
(QS. Al-Aḥzāb: 39)


2. Takut Dibenci Manusia

Sebagian orang memilih diam agar tetap diterima lingkungan.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Barang siapa mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya.”
(HR. Ibnu Hibban)


3. Menyembunyikan Kebenaran

Allah ﷻ mengecam keras orang yang menyembunyikan ilmu:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan dan petunjuk yang telah Kami turunkan…”
(QS. Al-Baqarah: 159)


CIRI DA’I YANG MENCARI IMAN

1. Ikhlas Karena Allah ﷻ

Dakwah bukan mencari:

  • pujian,
  • followers,
  • uang,
  • popularitas,
  • atau kekuasaan.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Aku tidak meminta upah kepada kalian atas dakwah itu. Upahku hanyalah dari Rabb semesta alam.”
(QS. Asy-Syu‘arā’: 109)


2. Berani Menyampaikan Kebenaran

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan perkataan benar di hadapan penguasa zalim.”
(HR. Abu Dawud)


3. Sabar Menghadapi Gangguan

Allah ﷻ berfirman:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”
(QS. Luqmān: 17)


4. Tetap Lemah Lembut dan Bijak

Keberanian bukan berarti kasar.

Allah ﷻ berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
(QS. An-Naḥl: 125)


ANALISIS ILMIAH KONTEMPORER

1. Tekanan Sosial Era Digital

Di zaman media sosial, seorang da’i dapat:

  • dihina massal,
  • difitnah,
  • dipotong ceramahnya,
  • diviralkan secara negatif,
  • bahkan diancam secara hukum atau sosial.

Fenomena ini membuat sebagian orang memilih diam. Namun sejarah menunjukkan bahwa semua pembawa kebenaran pasti diuji.


2. Budaya “Asal Aman”

Budaya pragmatis modern melahirkan mentalitas:

  • asal selamat,
  • asal nyaman,
  • asal tidak diserang,
  • asal tetap populer.

Padahal dakwah menuntut pengorbanan dan keberanian moral.


3. Antara Hikmah dan Penakut

Islam mengajarkan hikmah, bukan pengecut.

Perbedaan keduanya:

Hikmah Penakut
Menyampaikan kebenaran dengan cara tepat Menghindari kebenaran
Memilih waktu terbaik Menunda tanpa alasan
Bertujuan maslahat Bertujuan keselamatan diri
Tetap tegas dalam prinsip Mengorbankan prinsip

4. Dakwah Harus Berdasarkan Ilmu

Keberanian tanpa ilmu dapat melahirkan fitnah dan kerusakan.

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ

“Katakanlah: inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas ilmu yang nyata.”
(QS. Yūsuf: 108)

Karena itu da’i wajib:

  • memahami Al-Qur’an,
  • memahami Sunnah,
  • memahami maqāṣid syarī‘ah,
  • memahami kondisi masyarakat,
  • dan menjaga adab dakwah.

PELAJARAN PENTING

1. Kebenaran Tidak Selalu Populer

Ukuran benar bukan banyaknya pendukung, tetapi kesesuaiannya dengan dalil.


2. Dakwah Membutuhkan Pengorbanan

Tidak ada dakwah besar tanpa kesabaran dan pengorbanan.


3. Takutlah Kepada Allah, Bukan Kepada Manusia

Orang beriman lebih takut kehilangan ridha Allah daripada kehilangan pujian manusia.


4. Dakwah Harus Tetap Santun

Walaupun tegas dalam prinsip, seorang da’i tetap menjaga akhlak dan adab.


PENUTUP

Berdakwah adalah jalan kemuliaan yang diwariskan para nabi. Jalan ini penuh ujian, tantangan, dan resiko. Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan akan mudah mundur ketika menghadapi ancaman. Namun orang yang mencari iman akan tetap istiqamah di atas kebenaran.

Seorang da’i sejati memahami bahwa:

  • hinaan manusia tidak mengurangi kemuliaan di sisi Allah,
  • ancaman dunia tidak sebanding dengan azab akhirat,
  • dan perjuangan menegakkan kebenaran adalah ibadah mulia.

Karena itu, berdakwahlah dengan ilmu, hikmah, keberanian, kesabaran, dan keikhlasan. Jangan jadikan rasa takut kepada manusia sebagai penghalang untuk menyampaikan kebenaran.


FOOTNOTE

  1. Tafsir Ibnu Katsir, QS. Fuṣṣilat: 33.
  2. Tafsir Ath-Ṭabari, QS. Al-An‘ām: 34.
  3. Shahih Al-Bukhari, Kitab Bad’ul Khalq.
  4. Shahih Muslim, Kitab Al-Jihad.
  5. Sunan At-Tirmidzi, Bab Al-Ibtلاء.
  6. Tafsir Al-Qurthubi, QS. Al-Aḥzāb: 39.
  7. Tafsir As-Sa‘di, QS. An-Naḥl: 125.
  8. Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani.
  9. Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi.
  10. Al-Amru bil Ma‘ruf wan Nahyu ‘anil Munkar karya Ibnu Taimiyyah.
  11. Ushulud Dakwah karya Syaikh Abdul Karim Zaidan.
  12. Al-Muwafaqat karya Imam Asy-Syathibi tentang maqāṣid syarī‘ah.
  13. Siyar A‘lām An-Nubalā’ karya Imam Adz-Dzahabi.
  14. Tafsir Al-Baghawi, QS. Luqmān: 17.
  15. Shahih Ibnu Hibban tentang mencari ridha manusia.

Wallahu a'lam bish shawab

DRS. HAMZAH JOHAN

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama