PERBEDAAN SUBSTANSI DAN ESENSI
Oleh: DRS. HAMZAH JOHAN
PENGERTIAN JUDUL
(تَعْرِيفُ الْمَوْضُوعِ)
Dalam kajian ilmu pengetahuan, filsafat, dan pemikiran Islam, sering ditemukan dua istilah yang tampak serupa namun memiliki perbedaan mendasar, yaitu Substansi dan Esensi. Kesalahan dalam memahami keduanya dapat berimplikasi pada kekeliruan dalam menilai realitas—baik dalam bidang hukum (fiqh), aqidah (ʿaqīdah), maupun kehidupan sosial.
Oleh karena itu, pembahasan ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan antara keduanya secara sistematis, ilmiah, dan aplikatif.
BAB I: PENGERTIAN SECARA BAHASA DAN ISTILAH
(التَّعْرِيفُ اللُّغَوِيُّ وَالِاصْطِلَاحِيُّ)
1. Substansi (Substantia)
الْمَادَّةُ وَالصُّورَةُ الظَّاهِرَةُ
Secara etimologis, kata Substansi berasal dari bahasa Latin Substantia yang berarti “sesuatu yang berdiri sendiri” atau “hakikat yang memiliki keberadaan nyata.”
Dalam terminologi umum, substansi diartikan sebagai:
- Isi lahiriah
- Materi
- Bentuk fisik yang dapat ditangkap oleh pancaindra
Dalam istilah Arab, substansi sering diungkapkan dengan:
- الْجَوْهَرُ الظَّاهِرُ (hakikat yang tampak)
- الْمَادَّةُ (materi)
- الْمُحْتَوَى (isi lahiriah)
Karakteristik Substansi:
- Bersifat fisik dan konkret
- Dapat dilihat, diraba, dan diukur
- Berfungsi sebagai wadah atau bentuk luar
Contoh:
Sebuah buku—substansinya adalah kertas, tinta, dan susunan halaman.
2. Esensi (Essentia)
الرُّوحُ وَالْحَقِيقَةُ الْبَاطِنَةُ
Kata Esensi berasal dari bahasa Latin Essentia yang berarti “hakikat terdalam” atau “inti sari dari sesuatu.”
Dalam istilah Arab, esensi disebut dengan:
- اللُّبَابُ (inti)
- الزُّبْدَةُ (sari pati)
- الْمَعْنَى الْبَاطِنُ (makna tersembunyi)
Karakteristik Esensi:
- Bersifat abstrak dan maknawi
- Tidak dapat ditangkap indra secara langsung
- Dipahami melalui akal (ʿaql) dan hati (qalb)
- Menjadi tujuan dan ruh dari suatu bentuk
Contoh:
Dalam buku—esensinya adalah ilmu, pesan, dan hikmah yang terkandung di dalamnya.
BAB II: PERBEDAAN MENDASAR
(الْفَرْقُ الْجَوْهَرِيُّ)
Berikut perbandingan sistematis antara Substansi dan Esensi:
| Aspek | Substansi | Esensi |
|---|---|---|
| Istilah Arab | الظَّاهِرُ / الْمَادَّةُ | الْبَاطِنُ / الرُّوحُ |
| Sifat | Fisik, nyata, terlihat | Abstrak, maknawi, tersembunyi |
| Fungsi | Wadah / bentuk luar | Isi / tujuan utama |
| Ketahanan | Mudah berubah dan rusak | Relatif tetap dan mendasar |
| Alat Ukur | Indra (penglihatan, peraba) | Akal dan hati |
BAB III: CONTOH DALAM KEHIDUPAN
(أَمْثِلَةٌ مِنَ الْوَاقِعِ)
1. Dalam Ibadah Shalat
Substansi Shalat:
- Gerakan: berdiri, rukūʿ, sujūd
- Bacaan: Al-Fātiḥah dan lainnya
- Syarat dan rukun yang sah secara fiqh
Esensi Shalat:
- Kekhusyukan (الْخُشُوعُ)
- Rasa takut dan tunduk kepada Allah
- Dampak moral: menjauhi kemungkaran
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”
*(QS. العنكبوت: 45)*¹
➡ Jika substansi ada namun esensi hilang, maka shalat hanya menjadi rutinitas lahiriah tanpa dampak spiritual yang nyata.
2. Dalam Pernikahan
Substansi Nikah:
- Akad
- Wali
- Saksi
- Mahar
Esensi Nikah:
- Sakinah (ketenangan)
- Mawaddah (cinta)
- Raḥmah (kasih sayang)
Allah Ta’ala berfirman:
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“…dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih sayang dan rahmat.”
*(QS. الروم: 21)*²
➡ Jika akad terpenuhi namun kehidupan penuh konflik, maka esensi pernikahan belum terwujud.
BAB IV: KESIMPULAN
(الْخَلَاصَةُ)
Hubungan antara Substansi dan Esensi dapat diibaratkan sebagai:
Tubuh dan Jiwa
- Tanpa Substansi, Esensi tidak memiliki wadah
- Tanpa Esensi, Substansi hanyalah bentuk kosong tanpa nilai
Seorang yang berilmu (العَالِمُ) tidak cukup berhenti pada الظَّاهِرُ (yang tampak), tetapi harus menembus hingga الْبَاطِنُ (hakikat yang tersembunyi).
FOOTNOTE (الْحَوَاشِي)
[1] Tafsir Ayat:
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama (esensi) shalat bukan sekadar gerakan lahiriah, tetapi perubahan perilaku menuju kebaikan. Jika tidak ada perubahan, maka yang tersisa hanyalah substansi tanpa ruh.
[2] Makna Mawaddah dan Rahmah:
Mawaddah adalah cinta yang tumbuh dari hati, sedangkan Raḥmah adalah kasih sayang yang disertai kelembutan dan pengorbanan. Keduanya merupakan inti (esensi) dari pernikahan dalam Islam.
[3] Pendapat Ulama:
Imam Al-Ghazali berkata dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn:
الْعِبَادَةُ لِلْقُلُوبِ لَا لِلْجَوَارِحِ
“Ibadah itu milik hati, bukan semata anggota badan.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa esensi lebih utama daripada sekadar substansi lahiriah.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
DRS. HAMZAH JOHAN


Posting Komentar